Pengusaha Truk Desak Solusi Permanen Kelangkaan Solar, Masalah Tahunan yang Terus Berulang
Andrianto Wahyudiono• Selasa, 30 Juni 2026 | 15:30 WIB
Sejumlah SPBU Di Jakarta Barat Mengalami Keterlambatan Pengirima
JawaPos.com – Kelangkaan biosolar sempat menghantui pelaku usaha angkutan barang. Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Timur menilai persoalan itu bukan lagi insiden sesaat, melainkan masalah tahunan yang terus berulang. Mereka mendesak pemerintah menghadirkan solusi permanen agar distribusi logistik tidak terus terganggu.
Ketua Aptrindo Jawa Timur Sundoro mengatakan, hampir seluruh anggota asosiasi merasakan dampak sulitnya memperoleh solar subsidi. Kondisi paling parah terjadi di wilayah Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, dan Pasuruan.
“Seluruh anggota kami di Jawa Timur merasa resah,” ucapnya, kemarin (29/6).
Menurut Sundoro, kelangkaan biosolar bukan fenomena baru. Persoalan serupa selalu muncul setiap tahun, terutama saat memasuki pertengahan hingga akhir tahun. Dia menyebut kondisi itu berkaitan dengan sistem kuota tahunan. Memasuki semester kedua, kuota solar subsidi mulai menipis sehingga pasokan di SPBU berkurang dan pembatasan pembelian semakin ketat.
”Setiap mendekati semester dua, pengusaha truk sudah waswas. Sopir biasanya sudah siap-siap menginap untuk antre,” katanya.
Situasi tersebut membuat pelaku usaha berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, aktivitas distribusi barang harus berjalan setiap hari sehingga armada membutuhkan pasokan BBM yang memadai. Di sisi lain, keterbatasan kuota membuat operasional terganggu.
Penggunaan Nonsubsidi Belum Realistis
Pilihan menggunakan BBM nonsubsidi seperti Pertamina dex pun dinilai belum realistis. Selain harga yang jauh lebih tinggi, pemilik barang umumnya enggan menanggung tambahan ongkos angkut akibat penggunaan BBM nonsubsidi.
Karena itu, Aptrindo meminta pemerintah tidak sekadar mengatasi kelangkaan jangka pendek, tetapi juga membenahi sistem distribusi dan kuota agar persoalan serupa tidak terus berulang.
”Kalau barang subsidi memang terbatas, mungkin pemerintah bisa menaikkan harga. Yang penting bagi kami stoknya tersedia dan operasional tidak terganggu,” pungkasnya.