Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Amerika Serikat dan Iran Kembali Saling Serang, Kesepakatan Damai di Ujung Tanduk 

Zalzilatul Hikmia • Sabtu, 27 Juni 2026 | 22:39 WIB
Ilustrasi serbuan Amerika Serikat dan Israel di Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Anadolu)
Ilustrasi serbuan Amerika Serikat dan Israel di Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Anadolu)

JawaPos.com – Gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang baru seumur jagung kembali berada di ujung tanduk. Kedua negara kini tengah saling melancarkan serangan di kawasan teluk.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut serangan terhadap fasilitas militer Iran dilakukan sebagai respons atas serangan pesawat nirawak Iran pada kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz. Washington menilai tindakan Iran sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Presiden AS Donald Trump juga telah mengeluarkan pernyataan terkait serangan yang terjadi. Dia mengecam keras serangan tersebut. ’’Jelas, ini adalah pelanggaran bodoh terhadap perjanjian gencatan senjata kita,’’ ujarnya.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance turut mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran. Melalui akun X, dia menegaskan bahwa kekerasan akan dibalas dengan kekerasan apabila Iran kembali melancarkan serangan lebih lanjut.

Dikutip dari Aljazeera, kemarin (27/6), Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengaku, telah menyerang sejumlah lokasi militer AS di kawasan Teluk sebagai balasan atas serangan Washington terhadap fasilitas rudal, drone, dan radar Iran. Teheran menegaskan aksi tersebut merupakan respons atas serangan militer AS yang dinilai sebagai bentuk agresi. ’’Jika agresi ini terulang, respons kami akan lebih luas dari ini,’’ kata IRGC, menurut unggahan di saluran Telegram TV pemerintah.

Ketegangan terbaru itu memicu kekhawatiran akan nasib nota kesepahaman (MoU) yang menjadi dasar gencatan senjata kedua negara. Kesepakatan tersebut sejatinya menjadi langkah awal menuju perundingan lebih lanjut, termasuk mengenai pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis perdagangan energi dunia.

Situasi pun semakin rumit setelah Iran memperketat pengawasan terhadap kapal-kapal yang melintasi selat Hormuz. Meski demikian, aktivitas pelayaran internasional masih terus berlangsung.

Di tengah memanasnya kembali hubungan kedua negara, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengingatkan pentingnya mekanisme verifikasi terhadap program nuklir Iran. Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menegaskan bahwa komitmen politik saja tidak cukup untuk menjamin Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.

’’Pemerintah Iran telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa ini bukanlah niat mereka. Namun tentu saja niat saja tidak cukup. Kita harus memiliki sistem verifikasi yang sangat kuat,’’ tuturnya. (mia/ai)

Editor : Hendra
#selat hormuz #as #iran