Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Pemadaman Listrik Bergilir Jalan Terus: UMKM Kelimpungan, Produksi Tersendat, Omzet Turun Drastis

Firzan Syahroni • Minggu, 21 Juni 2026 | 18:11 WIB
Pekerja PLN mengecek keadaan listrik. (Dok. JawaPos/PLN)
Pekerja PLN mengecek keadaan listrik. (Dok. JawaPos/PLN)
 
JawaPos.com - Pemadaman listrik bergilir masih terjadi di sejumlah daerah hingga kemarin. Kondisi tersebut mulai berdampak pada aktivitas ekonomi warga. Sejumlah pelaku usaha mengaku mengalami penurunan omzet karena operasional mereka bergantung pada pasokan listrik.
 
Di Tulungagung, pemadaman listrik yang terjadi berulang kali dikeluhkan masyarakat. Alfredo, penjaga kedai kopi di kawasan Kota Tulungagung, mengatakan gangguan listrik membuat operasional kedai terganggu. Sebab, sebagian besar peralatan bergantung pada listrik.
 
Baca Juga: Listrik Padam Sedetik Saja Bisa Picu Kerugian Besar Industri, Penghobi Ikan Turut Terdampak
 
"Kalau listrik mati, mesin kopi tidak bisa digunakan. Pelanggan juga banyak yang memilih pergi karena tidak bisa mengisi daya ponsel atau mengerjakan pekerjaan di sini," keluhnya pada Radar Tulungagung Grup Jawa Pos.
 
Menurut Alfredo, omzet kedai ikut turun ketika pemadaman terjadi pada jam ramai pengunjung. Tidak sedikit pelanggan membatalkan pesanan atau memilih mencari tempat lain yang masih memiliki pasokan listrik.
 
Penjualan Lampu Darurat Meningkat
 
Keluhan serupa disampaikan warga Kediri. Fahrulli, 48, warga Kecamatan Pesantren yang memiliki usaha isi ulang air galon, mengaku aktivitasnya terganggu akibat pemadaman.
 
"Pemadaman listrik ini cukup meresahkan. Karena kalau listrik padam, otomatis kami tidak bisa bekerja," ujarnya kepada Radar Kediri Grup Jawa Pos.
 
Saat listrik normal, Fahrulli mampu menjual sekitar 60 galon per hari. Namun, ketika terjadi pemadaman, penjualan turun hingga separonya. "Sekarang paling sekitar 30 galon," terang bapak dua anak tersebut.
 
Pemilik usaha laundry juga merasakan dampaknya. Arista, 38, pemilik laundry di Kecamatan Kota, mengatakan proses pencucian terhambat karena mesin tidak dapat digunakan. "Biasanya siang sampai sore itu waktu mencuci. Tapi ketika padam otomatis tidak bisa beraktivitas. Penyelesaian pencucian juga molor," paparnya.
 
Dia menyebut pemadaman terparah terjadi Kamis (18/6) karena listrik baru menyala malam hari. Kondisi tersebut membuat omzet turun dari rata-rata Rp 250 ribu menjadi sekitar Rp 150 ribu per hari.
 
Ikan Hias Terancam, Usaha Fotokopi Tutup
 
Di Tuban, pemadaman bergilir diprediksi masih berlanjut hingga pekan depan. Kondisi itu membuat pelaku usaha harus mencari cara agar aktivitas tetap berjalan.
 
Ruwiyono, pegiat ikan hias di Tuban, menyiapkan tandon berisi air untuk menjaga puluhan ikan hias miliknya yang bernilai jutaan rupiah.
 
Saat listrik padam pukul 09.00 hingga 12.00 kemarin, dia langsung membuka kran tandon agar air tetap mengalir dan ikan mendapat pasokan oksigen pengganti aerasi.
 
Pelaku usaha fotokopi dan percetakan banner juga terdampak. Rizal Latif mengaku sempat menutup usahanya karena peralatan tidak bisa digunakan saat listrik padam pada Rabu (17/6).
 
"Karena alat tidak bisa beroperasi, terpaksa kami tutup. Ini tentu merugikan," keluhnya kepada Radar Tuban Grup Jawa Pos.
 
UMKM Bojonegoro Setop Produksi
 
Di Bojonegoro, pemadaman listrik membuat sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menghentikan produksi.
 
Ketua CEC Bojonegoro Adib Nurdiyanto mengatakan banyak UMKM bergantung pada peralatan listrik. "Sebagian besar proses produksi membutuhkan listrik. Ketika padam, pelaku UMKM tidak bisa berproduksi sehingga penjualan ikut menurun," ujarnya kepada Radar Bojonegoro Grup Jawa Pos.
 
Sektor yang terdampak antara lain penjual jus, usaha minuman dengan mesin cup sealer, perajin yang memakai mesin pemotong, serta usaha kuliner yang bergantung pada kulkas dan magiccom.
 
Kondisi tersebut membuat pelaku usaha kehilangan pendapatan. Sementara biaya operasional, termasuk upah pekerja, tetap harus dibayar meski produksi berhenti.
 
Stok Batu Bara Tinggal Dua Hari
 
Di Pacitan, sebagian warga mempertanyakan ketersediaan batu bara untuk memasok PLTU. Sebelumnya beredar informasi stok batu bara hanya cukup untuk menopang operasional sekitar dua hari.
 
Asisten Manager SDM, Umum, dan CSR PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan (UP) Pacitan Risky Tri Listirta membenarkan kondisi tersebut.
"Stok yang tersedia saat ini kurang lebih masih bertahan sekitar dua hari. Namun kami terus memaksimalkan pasokan batu bara agar operasional tetap berjalan," ujarnya, Sabtu (19/6), kepada Radar Pacitan Grup Jawa Pos.
 
Untuk menambah cadangan bahan bakar, PLN Nusantara Power menyiapkan pasokan baru. Satu kapal batu bara sedang antre bongkar muat di pelabuhan PLTU, sedangkan tiga kapal lain masih dalam perjalanan menuju Pacitan.
 
Total tambahan pasokan yang akan masuk mencapai sekitar 70 ribu ton. Jumlah tersebut diperkirakan cukup menjaga operasional pembangkit dan pasokan listrik ke sistem Jawa-Bali. Masyarakat pun diminta tidak khawatir terhadap keberlangsungan produksi listrik PLTU Pacitan. 
 
Baca Juga: Listrik Masih Byar-Pet, Bahlil Lahadalia Sebut Tak Ada Kendala Pasokan Listrik Nasional
Editor : Hendra
#Pemadaman listrik bergilir #PLTU #pln #batu bara