JawaPos.com – Pemadaman listrik bergantian terjadi di sejumlah wilayah Pulau Jawa memicu spekulasi tentang kondisi ketahanan sistem kelistrikan nasional. Institute for Essential Services Reform (IESR) pun mendesak investigasi menyeluruh dan menyampaikan hasilnya secara terbuka kepada publik.
Chief Executive Officer (CEO) IESR Fabby Tumiwa menjelaskan, dalam sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali (Jamali), gangguan pada satu pembangkit atau satu elemen jaringan semestinya tidak serta-merta berkembang menjadi pemadaman berskala luas. Sistem kelistrikan terbesar di Indonesia itu, kata dia, telah dirancang dengan cadangan daya (reserve margin), sistem proteksi, dan redundansi untuk mengantisipasi berbagai gangguan operasi.
“Pasokan listrik seharusnya tetap aman karena sistem kelistrikan PLN memiliki cadangan daya sekitar 30 persen untuk mengantisipasi gangguan pembangkit maupun jaringan transmisi,” katanya kemarin (12/6).
Pemadaman terpantau terjadi di sejumlah wilayah di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jogjakarta. Lewat X, misalnya, diketahui terjadi pemadaman di antaranya di Cipayung, Jakarta Timur, dan Sawangan, Depok, Jawa Barat, pada Rabu (10/6) dan Kamis (11/6).
Begitu pula di Kota Bandung. Juga di Tegal. Di Jogjakarta, pemadaman terjadi pula di sejumlah titik di Bantul dan Sleman.
Sebelumnya, telah beredar di berbagai platform analisis sekaligus peringatan agar bersiap menghadapi byar-pet akibat krisis batu bara. Banyak pelaku bisnis batu bara yang disebut lebih memilih menjual produk mereka ke luar negeri karena bisa mengantongi cuan jauh lebih besar saat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat anjlok.
Sejumlah analisis menyebut pula terbatasnya stok batu bara di dalam negeri akibat kebijakan pembatasan produksi batu bara oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Penerapan itu bertujuan menjaga nilai ekspor batu bara.
Dalam kajiannya, IESR menduga pemadaman bergilir yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir berkaitan dengan rendahnya cadangan bahan bakar pada sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di sistem Jawa-Bali. Kondisi tersebut disebut berpotensi membuat pembangkit beroperasi di bawah kapasitas optimal akibat keterbatasan pasokan batu bara dan menurunnya Hari Operasi Pembangkit (HOP) ke level kritis.
IESR mengaitkan potensi keterbatasan pasokan batu bara dengan keterlambatan pengesahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya sektor pertambangan yang sebelumnya telah disoroti pelaku industri sejak Maret dan April lalu. “Ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab pemadaman listrik, antara lain minimnya cadangan daya, gangguan pasokan bahan bakar, jadwal perawatan pembangkit yang tidak sinkron, hingga gangguan transmisi. Investigasi menyeluruh bisa menjawab pemicu dan penyebab utama pemadaman,” ujar Fabby.
Percepatan Pemulihan
Di sisi lain, pemerintah membantah pemadaman listrik tersebut dipicu kelangkaan batu bara. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjamin, pasokan batu bara nasional untuk pembangkit listrik berada dalam kondisi aman.
Pemerintah bersama PT PLN (Persero), lanjutnya, masih melakukan percepatan pemulihan terhadap sistem kelistrikan yang mengalami gangguan. “Saya sampai malam ini juga rapat sama PLN untuk membahas masalah ini,” kata Bahlil Kamis (11/6) lalu.
Menurutnya, masalah yang terjadi lebih berkaitan dengan gangguan teknis pada sejumlah fasilitas pembangkit. “Masalah batu bara langka enggak benar, karena penugasan kita sudah 170 juta ton. Hanya saja ada beberapa trouble di beberapa mesin seperti yang disampaikan PLN dan akan diselesaikan dalam waktu dekat,” ujar Bahlil.
Dia menambahkan, proses pemulihan masih terus dilakukan agar sistem kembali beroperasi secara optimal. “Kemarin memang ada (pemadaman). Belum maksimal. Ini kita lakukan percepatan untuk pemulihan,” tutur Bahlil.
Senada, Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menegaskan bahwa kabar mengenai menipisnya stok batu bara untuk kebutuhan listrik nasional sama sekali tidak benar. “Tidak ada pasokan batu bara yang menipis, yang pasti. Memang ada beberapa gangguan terkait teknis. Kami sudah berkomunikasi dengan PLN untuk mengantisipasi agar peristiwa ini tidak berulang,” ujar Anggia kemarin.
Di sisi lain, PT PLN (Persero) telah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat terdampak pemadaman, khususnya di wilayah Jawa Barat seperti Bogor, Bekasi, hingga Bandung. Pemadaman terpaksa dilakukan secara bergantian demi mengamankan jalur distribusi selama proses perbaikan sistem berlangsung.
Komitmen DMO
Terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia Gita Mahyarani mengatakan, pihaknya tidak memiliki data yang cukup untuk mengaitkan pemadaman listrik dengan kondisi pasokan batu bara ke pembangkit. “Data lengkap mengenai kondisi pasokan pembangkit, termasuk posisi stok batu bara, tentu berada pada pemerintah dan PLN sebagai pihak yang memantau langsung kebutuhan serta realisasi pasokan,” jelasnya.
Menurut Gita, dari sisi industri, kewajiban pemenuhan kebutuhan batu bara dalam negeri melalui skema Domestic Market Obligation (DMO) tetap menjadi komitmen yang dijalankan para pelaku usaha. “Sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya.
Adapun Fabby menilai, apabila benar terjadi gangguan pasokan batu bara yang memaksa PLTU menurunkan kapasitas produksinya, itu menunjukkan kerentanan sistem yang masih sangat bergantung pada batu bara dan pembangkit terpusat. “Terlambatnya pembangunan pembangkit energi terbarukan di RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik), pembatasan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) Atap sejak 2021 lalu berkontribusi pada meningkatnya risiko ini,” kata Fabby.
Radar Bogor melaporkan, pemadaman listrik juga kembali terjadi di sebagian wilayah Kota Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (11/6). Misalnya di wilayah Cimanggu Kecil, Kecamatan Bogor Tengah.
Aliran listrik dilaporkan mati sejak pukul 13.00 WIB. Kejadian tersebut menambah rentetan pemadaman yang sudah terjadi dua hari terakhir di Bogor.
Pada Rabu (10/6), pemadaman serupa juga terjadi di Tasikmalaya, Jawa Barat, dan Sukoharjo, Klaten, dan Sragen, Jawa Tengah. Di Jogjakarta, pemadaman berlangsung di sejumlah titik di Bantul dan Sleman.(bry/ttg)
Editor : Hendra