JawaPos.com - Sebanyak 200 petugas haji daerah kerja (Daker) Makkah dilepas dari Jakarta kemarin (23/4). Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochammad Irfan Yusuf menekankan, mereka tidak semata menjalankan tugas administrasi, tetapi juga tugas kenegaraan dan kemanusiaan.
Ketika terjadi kesalahan, lanjut Irfan, yang dinilai jemaah adalah kesalahan negara. Sebaliknya, jika layanan sukses, akan mengharumkan nama Indonesia.
"Petugas harus melayani. Tidak boleh minta dilayani," kata Irfan dalam apel pelepasan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Daker Makkah di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur kemarin (23/4).
Rombongan tersebut merupakan gelombang terakhir petugas yang diberangkatkan. Sebelumnya, sudah dilepas petugas Daker Madinah dan Bandara.
"Layanan di Makkah sangat krusial, karena menjadi titik temu jemaah dari penjuru dunia," jelasnya.
Irfan menyebutkan, sampai dengan kemarin pagi, ada sekitar 6.000 jemaah Indonesia sudah tiba di Madinah. Mereka berada di sana sekitar delapan hari untuk melaksanakan ibadah Arbain atau salat 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi.
Irfan menjelaskan, setelah berada di Madinah, jemaah akan diberangkatkan menuju Makkah. Untuk itu, petugas haji Daker Makkah harus menyiapkan sebaik mungkin kedatangan jemaah dari Madinah, khususnya terkait pemondokan atau hotel serta layanan katering.
Saat menghadapi jemaah, petugas harus santun. Apalagi, kemungkinan ada jemaah yang capek atau sakit setelah melakoni rangkaian ibadah di Madinah.
Irfan mengingatkan, lebih dari separuh jemaah Indonesia lulusan SD atau bahkan tidak tamat SD. Ada yang baru pertama pergi ke luar negeri. “Bahkan mungkin ada yang baru pertama menggunakan lift. Petugas harus sabar dalam mengarahkan jemaah menuju kamar hotelnya," tuturnya.
Editor : Hendra