Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Selat Hormuz Ditutup Lagi usai Gencatan Senjata AS dan Iran, Eskalasi Israel-Lebanon Picu Ketegangan Global

Hendra • Rabu, 8 April 2026 | 22:35 WIB
Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. (Dok. Al Jazeera)
Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. (Dok. Al Jazeera)

JawaPos.com - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Iran dilaporkan kembali menutup jalur pelayaran vital Selat Hormuz setelah gelombang serangan besar-besaran Israel ke wilayah Lebanon.

Kantor berita pemerintah Iran, Fars, menyebut langkah ini sebagai respons atas serangan yang dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata. Namun, Israel bersama Amerika Serikat membantah bahwa konflik di Lebanon termasuk dalam ruang lingkup perjanjian tersebut.

'Serangan Israel yang menyasar kawasan padat penduduk di Lebanon dilaporkan menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya," tulis Fars,(8/4). Intensitas serangan meningkat tajam sejak pecahnya perang dengan Iran, seiring upaya Israel untuk melumpuhkan kelompok Hizbullah secara total.

Di tengah situasi tersebut, tekanan internasional mulai menguat. Sejumlah negara Eropa seperti Prancis, Italia, Jerman, Inggris, Kanada, Spanyol, Belanda, serta Denmark bersama Uni Eropa mendesak agar gencatan senjata juga mencakup Lebanon.

Sementara itu, Pakistan yang berperan sebagai mediator antara AS dan Iran menegaskan bahwa penghentian konflik seharusnya berlaku menyeluruh, termasuk di Lebanon.

"Penutupan kembali Selat Hormuz menjadi perhatian utama dunia. Jalur ini merupakan nadi perdagangan global, terutama untuk distribusi energi fosil seperti minyak dan gas," tulis laporan jurnalis de Volkskrant, Dylan van Bekkum, (8/4). 

Sebelumnya, pembukaan selat tersebut menjadi salah satu alasan utama tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.

Dengan situasi yang kembali memanas, kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global pun meningkat. Dunia kini menunggu langkah lanjutan para pemangku kepentingan untuk meredakan konflik yang berpotensi meluas.

Editor : Hendra
lebanon Israel iran