Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Kredit Desember Diproyeksikan Tumbuh 8 Persen, Bank Indonesia Akui Tidak Sekuat Tahun Lalu

Muhtamimah • Sabtu, 27 Desember 2025 | 19:10 WIB
Ilustrasi - Foto udara area perumahan di kawasan Tangsel. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Ilustrasi - Foto udara area perumahan di kawasan Tangsel. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan pada akhir Desember 2025 akan berada di atas 8 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Proyeksi tersebut sejalan dengan target pertumbuhan kredit BI pada kisaran optimal 8-11 persen guna menjaga keseimbangan antara dorongan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan.

Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Solikin M. Juhro mengatakan, stabilitas sistem keuangan (SSK) ditopang oleh tiga pilar utama. Yakni, kinerja intermediasi atau pertumbuhan kredit, ketahanan (resiliensi) sektor keuangan, serta inklusivitas penyaluran pembiayaan ke seluruh segmen ekonomi.

"Intermediasi itu harus tumbuh optimal. Tidak boleh terlalu lemah, tetapi juga tidak boleh terlalu tinggi, karena kalau terlalu panas justru berisiko terhadap stabilitas," ujarnya.

Solikin mengungkapkan, pertumbuhan kredit pada 2025 memang tidak sekuat tahun lalu. Hingga November 2025, kredit perbankan tumbuh 7,74 persen (YoY), lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 10,79 persen.

Meski melambat, kinerja tersebut masih dinilai cukup baik di tengah perlambatan ekonomi global dan domestik. Pertumbuhan kredit November, terutama ditopang oleh kredit investasi yang melesat hingga 17,98 persen (YoY). Sebaliknya, kredit modal kerja (KMK) hanya tumbuh 2,39 persen, mencerminkan aktivitas usaha jangka pendek yang belum sepenuhnya pulih.

"Mudah-mudahan, insya Allah di Desember nanti akhir tahun bisa di atas 8 persen sebagai mana target BI," kata Solikin. Menurutnya, tingginya kredit investasi menjadi sinyal positif bahwa pelaku usaha masih memiliki keyakinan terhadap prospek ekonomi ke depan, seiring semakin kuatnya dorongan program prioritas pemerintah.

Sementara itu, lemahnya kredit modal kerja disebabkan aktivitas ekonomi yang belum cukup kuat sehingga kebutuhan pembiayaan jangka pendek masih terbatas.

Dari sisi ketahanan perbankan, BI menilai kondisi industri jasa keuangan tetap solid. Tingkat permodalan (CAR) masih tinggi, likuiditas memadai, serta rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) berada pada level aman. Kondisi korporasi juga relatif terjaga, tercermin dari kemampuan bayar dan rasio pembayaran bunga yang masih sehat.

Solikin menegaskan, perlambatan kredit lebih disebabkan oleh faktor permintaan (demand). Banyak korporasi masih memilih bersikap wait and see serta memanfaatkan dana internal ketimbang menarik kredit baru, di tengah ketidakpastian prospek ekonomi dan tingkat suku bunga yang masih relatif tinggi. Sementara dari sisi rumah tangga, ekspektasi pendapatan yang belum menguat membuat masyarakat cenderung menahan diri untuk mengambil kredit konsumsi.

"BI itu sudah memberikan insentif yang banyak kepada perbankan tapi kalau tidak di absorb oleh demand ya sama sajalah," pungkasnya.

Editor : Hendra
#yoy #Kreadit #bank indonesia