Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Viral Pengusaha Blacklist Lulusan SMAN 1 Cimarga Lebak! Ijazah Ditandai, Imbas Ibu Laporkan Kepsek yang Tegur Siswa Perokok

Rian Alfianto • Jumat, 17 Oktober 2025 | 05:30 WIB
Potret gerbang depan SMAN 1 Cimarga Kabupaten Lebak Banten. sejumlah HRD dan Pengusaha mem-blacklist lulusan sekolah itu usai kasus siswa merokok. (Google Maps)
Potret gerbang depan SMAN 1 Cimarga Kabupaten Lebak Banten. sejumlah HRD dan Pengusaha mem-blacklist lulusan sekolah itu usai kasus siswa merokok. (Google Maps)

JawaPos.com - Kasus siswa SMAN 1 Cimarga, Lebak, Banten, yang mogok sekolah untuk membela temannya usai ditampar guru karena kedapatan merokok, kini memasuki babak baru yang tampaknya lebih serius.

Meski sekolah menyatakan konflik telah berakhir damai, jejak digital dari peristiwa ini rupanya meninggalkan dampak sosial yang lebih luas, bahkan hingga ke dunia kerja.

Sejumlah pengusaha dan praktisi HRD disebut mulai menyimpan catatan terkait kasus tersebut sebagai bahan pertimbangan dalam proses rekrutmen di masa depan. bahkan sudah ada yang menyatakan mem-blacklist lulusan sekolah tersebut. 

Informasi ini mencuat setelah unggahan ulang di berbagai media sosial, termasuk akun Instagram @fakta.indo, memancing ribuan komentar publik.

Banyak warganet menilai aksi siswa yang membela pelanggaran disiplin justru menunjukkan sikap yang bertentangan dengan nilai-nilai tanggung jawab dan integritas yang dibutuhkan di dunia kerja.

“Gw selaku pemilik perusahaan, ini jelas gw blacklist! Kasih tanda aja ijazahnya lulusan tahun ini, ga bakal gw terima. Ngurus karyawan macam begini bisa bikin masalah,” tulis salah satu netizen yang mengaku memiliki usaha.

Nada serupa juga muncul dari banyak komentar lain, terutama dari pengguna yang bekerja di bidang sumber daya manusia atau perekrutan karyawan.

Konsekuensi Reputasi Moral Runtuh

Mereka menilai, membela pelanggaran atas nama solidaritas menunjukkan lemahnya pendidikan karakter dan kesadaran moral.

“Blacklist dari HRD dan pemilik bisnis bukan kebetulan, tapi konsekuensi dari reputasi moral yang runtuh. Dunia kerja tidak butuh orang yang menormalisasi pelanggaran disiplin,” tulis seorang warganet lainnya.

Meski begitu, sebagian masyarakat juga menyoroti bahwa tindakan menampar siswa tetap tidak dapat dibenarkan secara etika dan hukum.

Namun, mereka menilai niat kepala sekolah untuk menegakkan disiplin seharusnya tidak diabaikan begitu saja.

“Kalau sudah seperti ini, wajar pemilik perusahaan atau pimpinan lembaga berpikir ulang. Karena menyangkut karakter. Kalau kebiasaan melanggar aturan terbawa ke dunia kerja, bisa merugikan banyak pihak,” komentar warganet lainnya.

Diketahui, kasus ini berawal dari tindakan Kepala SMAN 1 Cimarga, Dini Fitri, yang menampar seorang siswa usai ketahuan merokok di lingkungan sekolah. 

Aksi itu sempat memicu kemarahan sejumlah siswa yang kemudian melakukan mogok sekolah sebagai bentuk solidaritas.

Sempat Dinonaktifkan, kepala Sekolah Bertugas Lagi

Meski sempat dinonaktifkan dari jabatannya, Dini Fitri kini telah kembali bertugas setelah tercapai kesepakatan damai antara pihak sekolah, siswa, dan orang tua. Proses belajar pun disebut telah kembali berjalan normal.

Namun demikian, perdebatan publik menunjukkan bahwa isu ini telah berkembang dari sekadar konflik di sekolah menjadi refleksi lebih besar tentang krisis moral dan disiplin di dunia pendidikan.

Banyak pihak menilai, kasus SMAN 1 Cimarga menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter tidak berhenti di ruang kelas, ia akan menjadi cermin yang menentukan masa depan siswa di dunia kerja.

Sebelumnya, aksi protes siswa SMAN 1 Cimarga Kabupaten Lebak viral di media sosial, usai melaporkan kepala sekolahnya ke polisi. 

Penyebabnya, ada siswa yang mengaku mendapat kekerasan setelah ketahuan merokok di sekolah.

Tak hanya protes dan lapor polisi, ratusan murid lainnya mogok mendukung sang murid yang ketahuan merokok di sekolah itu.

Dalam video yang beredar, terlihat spanduk bertuliskan, "Kami tidak akan sekolah sebelum kepala sekolah dilengserkan" terpampang di depan gerbang masuk SMAN 1 Cimarga.

Tampak keriuhan terjadi di lapangan ketika sang siswa memprotes kepala sekolahnya. Siswa berinisial IPL itu mengaku ditampar kepala SMAN 16 Cimarga Dini Fitria. Tak hanya itu, dia juga mengklaim ditendang di bagian kaki.

Tak terima anaknya diperlakukan seperti itu, orang tua IPL pun memutuskan melaporkan kepala sekolah Dini ke Polres Lebak. 

Terkait kejadian itu, Dini memberikan klarifikasi. Dia membenarkan telah menampar IPL. Namun dia membantah melakukannya dengan keras disertai tendangan.

"Saya keplek (tampar) tapi nggak ada merah-merah acan, ini spontan lah keplekan perempuan, bukan membela diri saya keplek. Sekali. Nggak nendang," ujarnya dalam video yang diunggah akun Serba Core, dikutip Senin (13/10).

Baca Juga: Aktris Ririn Dwi Arianti Sambangi Lapas Tangerang, Beri Perhatian Khusus dan Bawakan Benda Ini untuk Jonathan Frizzy

Hal itu menurut Dini dilakukannya lantaran IPL berbohong dan tak mengaku meski sudah terciduk sedang merokok di lingkungan sekolah.

"Berpapasan dia dengan saya, di tangannya rokok ngebul. Lari dia," papar Dini.

Melihat itu, Dini pun meneriaki IPL dan menegurnya karena merokok. Namun, siswa itu membantah. Oleh karena itu, secara spontan Dini pun menamparnya.

 
Editor : Hendra
#SMAN 1 Cimarga #blacklist #pengusaha