JawaPos.com - Jumlah sampah di Indonesia mencapai 68 juta ton setiap tahunnya. 80 persennya disumbang dari sampah rumah tangga. Karena itu, Penasehat Dharma Wanita Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Irma Dody Hanggodo menekankan pentingnya peran ayah dan ibu untuk menekan jumlah sampah rumah tangga.
Penasehat Dharma Wanita Kementerian PU Irma Dody Hanggodo menuturkan bahwa pada Hari Habitat Dunia dan Hari Kota Dunia 2025 difokuskan dalam tema penguatan layanan dasar permukiman dan perubahan perilaku pengelolaan sampah. "Hal ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto," paparnya.
Setiap tahun tercatat Indonesia memproduksi 68 juta ton sampah. Yang 80 persennya berasal dari sampah rumah tangga. "Karena itu, bila mampu mengurangi sampah rumah tangga tentu akan mengurangi beban," ujarnya.
Karena itu, peran ayah dan ibu penting dalam mengurangi beban sampah. Ibu bisa berperan mengurangi, memilah, dan mendaur ulang sampah. "Keteladanan ayah akan berdampak ke generasi yang peduli lingkungan. Rumah merupakan organisasi terkecil tapi terkuat membangun perilaku," tegasnya.
Penasehat Dharma Wanita Kementerian PU Irma Dody Hanggodo menuturkan bahwa pada Hari Habitat Dunia dan Hari Kota Dunia 2025 difokuskan dalam tema penguatan layanan dasar permukiman dan perubahan perilaku pengelolaan sampah. "Hal ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto," paparnya.
Setiap tahun tercatat Indonesia memproduksi 68 juta ton sampah. Yang 80 persennya berasal dari sampah rumah tangga. "Karena itu, bila mampu mengurangi sampah rumah tangga tentu akan mengurangi beban," ujarnya.
Karena itu, peran ayah dan ibu penting dalam mengurangi beban sampah. Ibu bisa berperan mengurangi, memilah, dan mendaur ulang sampah. "Keteladanan ayah akan berdampak ke generasi yang peduli lingkungan. Rumah merupakan organisasi terkecil tapi terkuat membangun perilaku," tegasnya.
Baca Juga: Memanas! Wali Kota Tangsel Bakal Lawan BRIN, Benyamin Davnie Tolak Penutupan Jalan Raya Serpong-Parung
Memang perlu membangun kebiasaan diri mengurangi sampah, memilah antara sampah organik dan non-organik. "Hal ini akan mempermudah daur ulang dan menghemat biaya pengelolaan," ujarnya.
Bahkan, ke depan, sampah bisa jadi bahan baku industri, sumber energi, dan sumber pekerjaan baru. "Saat ini perlu aksi nyata mengurangi sampah di rumah," jelasnya.
Sementara Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PU Dewi Chomistriana mengatakan, kota cerdas yang memanusiakan penduduknya membutuhkan ekosistem yang kolaboratif. "Dari perencanaan yang presisi hingga membentuk kebiasaan di level rumah tangga. Sebuah infrastruktur baru akan efektif bila disertai perilaku yang sesuai, terutama budaya memilah sampah sejak dini," terangnya.
Dengan 68 juta ton sampah tiap tahunnya, sebagian tempat pemrosesan akhir (TPA) masih beroperasi dengan open dumping yang memicu gas kaca. "Pemerintah menargetkan 100 persen pengelolaan sampah nasional pada 2029 melalui langkah kunci, yakni review izin operasional 343 TPA yang belum memenuhi standar, penguatan pemilahan sampah dari sumbernya, dan percepatan transisi menuju sanitary landfill yang terukur dan ramah lingkungan," jelasnya.
Dia mengatakan, bila rumah tangga, komunitas, dan sekolah bergerak bersama mengelola sampah. "Target 2029 tersebut akan dapat tercapai," urainya.
Memang perlu membangun kebiasaan diri mengurangi sampah, memilah antara sampah organik dan non-organik. "Hal ini akan mempermudah daur ulang dan menghemat biaya pengelolaan," ujarnya.
Bahkan, ke depan, sampah bisa jadi bahan baku industri, sumber energi, dan sumber pekerjaan baru. "Saat ini perlu aksi nyata mengurangi sampah di rumah," jelasnya.
Sementara Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PU Dewi Chomistriana mengatakan, kota cerdas yang memanusiakan penduduknya membutuhkan ekosistem yang kolaboratif. "Dari perencanaan yang presisi hingga membentuk kebiasaan di level rumah tangga. Sebuah infrastruktur baru akan efektif bila disertai perilaku yang sesuai, terutama budaya memilah sampah sejak dini," terangnya.
Dengan 68 juta ton sampah tiap tahunnya, sebagian tempat pemrosesan akhir (TPA) masih beroperasi dengan open dumping yang memicu gas kaca. "Pemerintah menargetkan 100 persen pengelolaan sampah nasional pada 2029 melalui langkah kunci, yakni review izin operasional 343 TPA yang belum memenuhi standar, penguatan pemilahan sampah dari sumbernya, dan percepatan transisi menuju sanitary landfill yang terukur dan ramah lingkungan," jelasnya.
Dia mengatakan, bila rumah tangga, komunitas, dan sekolah bergerak bersama mengelola sampah. "Target 2029 tersebut akan dapat tercapai," urainya.