JawaPos.com - Tekanan arus keluar modal asing (capital outflow) terus membayangi pasar keuangan domestik. Terutama pasar saham. Di sisi lain, pentingnya intervensi bank sentral yang terukur untuk menjaga pasar surat utang (obligasi) dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Chief Economist and Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menyatakan, pasar saham menjadi sektor paling rentan. Karena tidak dapat diintervensi secara langsung Bank Indonesia (BI). "Capital outflow terbesar saat ini memang terjadi di pasar saham. Hal ini karena pasar saham tidak bisa diintervensi secara langsung, berbeda dengan rupiah dan surat berharga negara (SBN) yang bisa diintervensi oleh BI," ujarnya saat ditanyai Jawa Pos dalam media day di Pacific Century Place, Kamis (17/4).
Dia menjelaskan, tren outflow dari pasar saham sudah terjadi sejak Oktober 2024 dan berlanjut hingga kuartal I 2025. Ketidakpastian global dan potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi faktor utama di balik keluarnya dana asing. Kemungkinan akan lebih rendah dari 2024.
"Proyeksi BI di kisaran 4,7 persen sampai 5,5 persen, namun kalau eskalasi risiko berlanjut, bisa turun ke 4,6 persen bahkan 4,5 persen," beber Rully.
Pasar obligasi juga mulai mengalami tekanan, terutama sepanjang April. Dia menyoroti bahwa sebelumnya investor masih berpindah antar instrumen, seperti dari surat berharga negara (SBN) ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) maupun sebaliknya. Tapi saat ini, keduanya justru mengalami outflow bersamaan.
Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun turun 1,8 bps ke 6,95 persen. Kepemilikan asing pada SBN per 14 April 2025 tercatat Rp 887,1 triliun. Terjadi net outflow Rp 4,7 triliun secara bulanan, sehingga secara year-to-date (YtD) dana asing sudah kabur senilai Rpp 10,5 triliun atau 14,2 persen dari total outstanding.
Data transaksi pada 8-10 April 2025, secara agregat nonresiden tercatat jual neto Rp 24,04 triliun. Akumulasi jual neto didorong jual neto di pasar SRBI, SBN dan saham masing-masing sebesar Rp 10,47 triliun, Rp 7,84 triliun, dan Rp 5,73 triliun.
"Dalam 90 hari ke depan, masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Sulit untuk memprediksi beberapa bulan ke depan, tapi dalam jangka pendek, misalnya satu bulan atau kurang, tekanan outflow masih mungkin terjadi," ungkap Rully.
Di tengah tekanan tersebut, Rully memperkirakan, BI masih akan menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Setidaknya dalam satu hingga dua bulan ke depan. Dengan fokua saat ini adalah stabilitas.
"Penurunan suku bunga acuan, saya rasa kemungkinannya kecil. BI masih akan bersikap data-dependent, melihat perkembangan antara risiko pertumbuhan dan stabilitas. Keputusan BI bisa mempengaruhi sentimen pasar, apakah akan terjadi inflow atau outflow. Makanya, pentingnya intervensi yang terukur," imbuhnya.
Saat ini, cadangan devisa (cadev) Indonesia tercatat sebesar USD 157,1 miliar. Setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor dan masih jauh di atas standar kecukupan internasional. Jika cadev terkuras terlalu cepat, bisa menimbulkan sentimen negatif. Namun, BI punya banyak instrumen, seperti triple intervention di pasar spot, non-delivery forward (NDF), dan SBN.
Baca Juga: Parwati Surjaudaja Mencoba Tetap Optimistis, OCBC Pastikan Indikator Ketahanan Bank Masih Aman
Rully memperkirakan tekanan terhadap cadev bisa meningkat jika BI mulai menurunkan suku bunga di kuartal III atau IV 2025. Apalagi dengan target stabilisasi rupiah di level Rp 17.000 per USD. Tekanan terhadap nilai tukar bisa bertambah jika ekspektasi pasar tak dikelola dengan baik.
Meskipun data Maret 2025 menunjukkan cadev naik karena utang luar negeri pemerintah, ke depan intervensi bisa lebih agresif. BI sendiri sudah menyiapkan USD 2 sampai 3 miliar untuk intervensi dalam sebulan ini. "Kebutuhan intervensi ini sangat dipengaruhi oleh supply-demand pasar. Jika pasar melakukan aksi jual, BI harus menyerapnya. Jadi, jika keluar USD 1 miliar, maka BI kemungkinan juga harus masuk sebesar USD 1 miliar," tandasnya.
Editor : Hendra