Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Mengenal J. Robert Oppenheimer: Ilmuwan Jenius di Balik Bom Atom

Sachio Julvienza Dekrita • Senin, 10 Maret 2025 | 15:00 WIB

Julius Robert Oppenheimer. (nme.com)
Julius Robert Oppenheimer. (nme.com)

JawaPos.com -  Julius Robert Oppenheimer adalah seorang fisikawan teoretis asal Amerika Serikat (AS) yang dikenal luas sebagai "bapak bom atom" karena perannya dalam pengembangan senjata nuklir pertama. Ia lahir pada 22 April 1904 di New York City dan menunjukkan minat besar dalam bidang sains sejak usia muda, yang membawanya menempuh pendidikan tinggi di beberapa universitas bergengsi.

Oppenheimer menyelesaikan studi sarjananya di Universitas Harvard dengan mengambil jurusan kimia sebelum akhirnya beralih ke fisika dan meraih gelar doktor dari Universitas Göttingen, Jerman, pada tahun 1927. Di bawah bimbingan Max Born, ia memberikan kontribusi signifikan dalam mekanika kuantum, termasuk pengembangan pendekatan Born-Oppenheimer yang digunakan dalam teori molekuler.

Karier akademiknya berkembang pesat ketika ia bergabung dengan Universitas California, Berkeley, sebagai profesor fisika teoretis pada tahun 1936. Selama di Berkeley, ia terlibat dalam berbagai penelitian di bidang astrofisika, elektrodinamika kuantum, dan fisika nuklir yang menjadi dasar bagi pengembangan teknologi nuklir di masa depan.

Baca Juga: Atasi Blue Screen di Laptop! Ini 12 Langkah Ampuh untuk Mengembalikan Performa

Pada masa Perang Dunia II, Oppenheimer ditunjuk sebagai direktur ilmiah Proyek Manhattan, sebuah proyek rahasia Amerika Serikat untuk mengembangkan bom atom. Di bawah kepemimpinannya, Laboratorium Los Alamos di New Mexico menjadi pusat riset dan pengembangan senjata nuklir pertama di dunia.

Puncak dari proyek tersebut adalah keberhasilan uji coba nuklir pertama yang dikenal sebagai "Trinity Test" pada 16 Juli 1945. Setelah itu, bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, yang mengakhiri Perang Dunia II tetapi juga menimbulkan perdebatan moral tentang penggunaan senjata pemusnah massal.

Setelah perang, Oppenheimer menjadi penasihat bagi Komisi Energi Atom Amerika Serikat dan aktif mengadvokasi pengendalian senjata nuklir. Ia menentang pengembangan bom hidrogen yang lebih dahsyat, yang membuatnya berselisih dengan sejumlah pejabat militer dan pemerintahan.

Akibat pandangan politiknya, terutama keterlibatannya dengan individu-individu yang memiliki hubungan dengan Partai Komunis, pemerintah AS mencabut izin keamanannya pada tahun 1954. Keputusan ini menghancurkan reputasi ilmiahnya dan membuatnya mundur dari dunia politik serta penelitian nuklir.

Baca Juga: 7 Kreasi Chia Seed: Lezat, Sehat, dan Praktis untuk Sahur & Berbuka Puasa

Meskipun mengalami kemunduran karier, Oppenheimer tetap berkontribusi dalam dunia akademik dan diangkat sebagai direktur Institut Studi Lanjutan di Princeton. Ia menghabiskan sisa hidupnya dengan menulis dan memberikan kuliah tentang filsafat ilmu serta etika dalam sains.

Pada tahun 1963, pemerintah AS berusaha memperbaiki citranya dengan memberikan penghargaan Enrico Fermi Award kepada Oppenheimer sebagai pengakuan atas jasanya dalam fisika. Namun, penghargaan tersebut tidak dapat menghapus kontroversi seputar keterlibatannya dalam pengembangan senjata nuklir.

Oppenheimer meninggal dunia pada 18 Februari 1967 akibat kanker tenggorokan yang dideritanya selama bertahun-tahun. Warisannya tetap hidup dalam dunia ilmu pengetahuan, dan namanya terus dikenang dalam sejarah sebagai sosok yang membawa perubahan besar dalam bidang fisika nuklir.

Kisah hidupnya diangkat dalam buku biografi berjudul American Prometheus: The Triumph and Tragedy of J. Robert Oppenheimer, yang kemudian diadaptasi menjadi film Oppenheimer karya sutradara Christopher Nolan pada tahun 2023. Film ini menyoroti dilema moral yang dihadapi ilmuwan dalam mengembangkan teknologi yang dapat menghancurkan dunia.

Baca Juga: Bantu Jaga Kesehatan saat Puasa! Inilah 5 Manfaat Minum Susu di Bulan Ramadhan

Dengan segala pencapaiannya, Oppenheimer tetap menjadi figur yang kompleks dalam sejarah sains dan politik global. Ia adalah simbol dari kekuatan ilmu pengetahuan yang luar biasa, tetapi juga peringatan akan tanggung jawab moral yang harus diemban oleh para ilmuwan. (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#bom atom #Oppenheimer #nuklir #ilmuan