Perang Dunia I merupakan konflik yang terjadi di benua Eropa, Asia, dan Afrika. Walaupun perang banyak terjadi di ketiga benua itu, nyatanya banyak aksi pertempuran laut yang juga terjadi di benua Amerika dan Oceania. Konflik ini ditandai dengan kebuntuan di medan peperangan dan terus berlangsung hingga 1918.
Peperangan ini memang terjadi lebih dari 100 tahun yang lalu karena berlangsung sejak 1914-1918. Meskipun begitu, Perang Dunia I memiliki banyak korban jiwa di kedua belah pihak karena banyaknya penemuan teknologi militer baru yang lebih mematikan. Dilansir dari statista.com, perang ini menewaskan sekitar 15 juta jiwa baik di kalangan militer maupun sipil sehingga menjadikannya sebagai salah satu konflik paling mematikan dalam sejarah.
Invasi Rusia ke Ukraina memang tidak begitu mematikan sebagaimana yang terjadi pada Perang Dunia I. Namun, perang ini tetap memakan korban jiwa yang cukup signifikan dan menyebabkan salah satu peristiwa pengungsian terbesar pada abad ke-21.
Dilansir dari france24.com, Ukraina telah kehilangan 426.000 pasukan yang tewas dan terluka. Di waktu yang bersamaan, PBB mengeluarkan laporan bahwa sebanyak 12.500 warga sipil tewas dan 28.400 lainnya terluka. Pemerintah Ukraina juga menyebutkan bahwa masih ada 63.000 warganya yang hilang atau tidak diketahui nasibnya per Februari 2025.
Sementara di pihak lawan yaitu Rusia, diperkirakan kehilangan 700.000 pasukan dimana terdapat 50.000-100.000 yang tewas. Masuknya Korea Utara dalam perang ini juga mengakibatkan sekitar 1.100-3.000 pasukannya terbunuh di medan perang Ukraina.
Dari data yang telah diberikan sebelumnya, dapat disimpulkan peperangan ini merupakan bencana kemanusiaan dengan skala besar di Eropa. Meskipun pada awalnya semua pihak enggan untuk membahas perdamaian, rupanya hal itu bisa menjadi kenyataan dalam waktu dekat.
Pada 12 Februari 2025, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin membicarakan tentang gencatan senjata dan perdamaian di Ukraina melalui telepon. Dilansir dari edition.cnn.com, Trump berpendapat bahwa menelepon Putin memiliki pembicaraan yang positif dan mengatakan bahwa dia dan Putin akan bertemu langsung dalam waktu dekat. Pernyataan Trump didukung dengan bertemunya delegasi AS dan Rusia di Riyadh, Arab Saudi untuk membahas perdamaian di Ukraina beberapa hari kemudian.
Pada waktu yang bersamaan negara-negara Eropa yang dipimpin oleh Perancis mengadakan konferensi darurat di Paris. Dikutip dari reuters.com, pertemuan itu dibentuk atas inisiatif Presiden Perancis Emmanuel Macron untuk membahas jaminan keamanan Ukraina, dan meningkatkan anggaran pertahanan Eropa guna melindungi diri dari Rusia. Diplomasi yang dilakukan oleh AS dengan Rusia juga merupakan agenda pembahasan dari konferensi ini agar dapat mencapai perdamaian meskipun Ukraina tidak diajak bergabung oleh AS saat pertemuan di Riyadh.
Untuk saat ini, peluang untuk mencapai perdamaian semakin terbuka lebar. Hal ini juga didukung oleh keinginan Presiden Putin dari Rusia dan Presiden Zelenskyy dari Ukraina.
Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Perancis Emmanuel Macron di Washington D.C. pada 24 Februari 2025 juga memperkuat kemungkinan perdamaian. Dilansir dari nytimes.com, kedua pemimpin membahas mengenai Ukraina ditengah memburuknya hubungan antara Uni Eropa & Ukraina dengan Amerika Serikat mengenai negosiasi damai dengan Rusia. Dalam pertemuan, Trump dan Macron memiliki pandangan yang berbeda mengenai Ukraina dimana Trump tidak menyebutkan jaminan dan kedaulatan wilayah Ukraina yang telah diduduki oleh Rusia serta menolak untuk menyebut Putin sebagai diktator.
Lanjut dari pembahasan di atas, Macron justru menekankan pentingnya menjaga kedaulatan wilayah Ukraina dan menyalahkan Rusia atas invasi yang dilakukan. Meskipun masih terdapat ketidaksetujuan dari berbagai pihak, nyatanya perdamaian memiliki posisi yang lebih kuat dibandingkan melanjutkan perang. Validitas ini tentu didukung dengan korban yang semakin banyak, angka pengungsian yang tidak kalah banyaknya, dan dampak ekonomi serta geopolitik yang negatif bagi dunia secara langsung maupun tidak langsung.
Editor : Candra Mega Sari