JawaPos.com – Jelang periode puncak (peak season) libur Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru), perusahaan-perusahaan pelat merah di sektor transportasi mempersiapkan armada dan suplai kursi untuk mengantisipasi kenaikan demand. Pergerakan wisatawan diprediksi meningkat.
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), misalnya, memastikan seluruh layanan dan fasilitas penyeberangan siap untuk mendukung kelancaran perjalanan masyarakat. Menurut Direktur Utama ASDP Heru Widodo, prediksi puncak pergerakan libur Nataru di 13 lintas pantauan nasional diperkirakan terjadi pada 22–23 Desember 2024. ”Selanjutnya, prediksi puncak pergerakan libur Tahun Baru 2025 pada 30 dan 31 Desember, sedangkan prediksi puncak arus balik terjadi pada 1–2 Januari 2025,” ujar Heru kemarin (16/12).
Kenaikan penumpang periode Nataru mencapai 4,1 persen, yaitu 3 juta penumpang. Sementara itu, kenaikan trip diprediksi mencapai 14,3 persen atau 14.975 trip bila dibandingkan periode Nataru tahun lalu.
Dari segi kesiapan sarana dan prasarana, ASDP telah meningkatkan kapasitas pelabuhan yang semula 5.526 kendaraan kecil pada 2023 di Pelabuhan Merak menjadi 6.026 kendaraan kecil pada periode tahun ini. Di Pelabuhan Ketapang, kapasitas pelabuhan meningkat yang semula 1.570 menjadi 1.670 kendaraan kecil ditambah dengan lahan bulusan.
Di jalur udara, Garuda Indonesia bersama anak usahanya, Citilink, menyiapkan total 1,4 juta kursi penerbangan. Garuda memprediksi periode peak season berlangsung dari 19 Desember 2024 hingga 3 Januari 2025. Untuk mengakomodasi lonjakan permintaan, Garuda menyediakan 741.514 kursi dan Citilink menyiapkan 717.560 kursi. Dari total kursi yang disediakan Garuda, 534.260 kursi dialokasikan untuk penerbangan domestik dan 207.254 kursi diperuntukkan penerbangan internasional.
Direktur Utama Garuda Indonesia Wamildan Tsani Panjaitan mengatakan, di tengah animo masyarakat menyambut perayaan Natal dan tahun baru serta implementasi kebijakan penurunan harga tiket rute domestik, upaya optimalisasi ketersediaan kapasitas tersebut menjadi langkah Garuda Indonesia untuk memenuhi kebutuhan layanan penerbangan dengan harga yang terjangkau.
”Kami memastikan kebijakan penurunan harga tiket penerbangan domestik mulai diimplementasikan pada periode 19 Desember 2024 hingga 3 Januari 2025,” ujar Wamildan.
Sesuai kebijakan yang disampaikan Kementerian Perhubungan, penurunan harga tiket diproyeksikan mencapai 10 persen yang sebagian berasal dari komponen penunjang harga tiket. Komponen tersebut, antara lain, fuel surcharge, PJP2U, dan PJP4U serta penyesuaian avtur di sejumlah bandara.
Sementara itu, Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan, meski penurunan tiket pesawat akan berdampak pada pendapatan maskapai, pemerintah tetap mendukung kebijakan tersebut demi memberikan manfaat kepada masyarakat. ”Itu bagian dari penugasan yang harus kita jalankan,” ujarnya.
Erick menambahkan, pemerintah berencana menyusun road map harga tiket pesawat untuk lima tahun ke depan. Tujuannya, mengurangi fluktuasi harga tiket pada momen-momen tertentu seperti Idul Fitri dan Natal yang sering kali memberatkan masyarakat. (agf/c7/fal)
Editor : Hendra