JawaPos.com – Tren penguatan dolar Amerika Serikat (AS) alias USD dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi presiden terpilih Donald Trump. Negara adidaya itu akan berfokus pada penguatan ekonomi domestik melalui program Make America Great Again (MAGA). Jika bicara investasi, penting memperhatikan ekspektasi return, jangka waktu, dan profil risiko.
”Amerika akan menguatkan ekonomi domestiknya dan politik terkait perang dagang akan membuat USD semakin kuat,’’ ujar CEO Jooara Gembong Suwito kepada Jawa Pos kemarin (22/11).
Kebijakan protektif yang diterapkan pemerintahan Trump, lanjut dia, akan mengarah pada penguatan USD. Dampaknya, mata uang negara lain, termasuk rupiah, akan mengalami pelemahan. Data terbaru Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia (JISDOR BI) menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah terhadap USD kemarin (22/11) berada di level Rp 15.911. Naik dibandingkan pada awal Oktober yang masih tercatat di Rp 15.204 per USD.
Namun, BI memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Gembong menjelaskan, setiap kali rupiah berada di angka Rp 16.200 atau Rp 16.300 per USD, pasti akan ada intervensi dari bank sentral. Stabilitas itu sangat bergantung pada seberapa kuat cadangan devisa Indonesia untuk mendukung intervensi tersebut.
Mengenai proyeksi jangka pendek, Gembong memprediksi bahwa nilai tukar rupiah bisa mencapai Rp 16.200 hingga Rp 16.300 per USD dalam tiga bulan ke depan. Hal itu dipengaruhi dua faktor. Yakni, eksternal dari kondisi AS serta kebijakan domestik Indonesia, seperti kenaikan PPN yang berpotensi meningkatkan inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat.
Di sisi lain, penguatan USD juga berpengaruh pada pasar investasi. Gembong mengungkapkan bahwa dalam kondisi ketidakpastian global yang tinggi, aset safe haven seperti USD banyak dicari. Hal itu mendorong terjadinya capital outflow. Sebab, investor mencari perlindungan asetnya dari ketidakpastian ekonomi. ”Termasuk dari potensi perang besar yang dapat terjadi, seperti ketegangan yang semakin meningkat di Timur Tengah dan Rusia-Ukraina,” imbuhnya.
Menurut dia, bagi investor yang sudah membeli USD di level Rp 15.100 per USD, kini sudah saatnya memanfaatkan keuntungan. ”Dan, melihat potensi sampai Rp 16.200 atau Rp 16.500 per USD, itu berarti sudah untung lebih dari 10 persen. Kenapa tidak dinikmati?’’ ucap Gembong.
Dengan kondisi yang semakin tidak menentu, baik kebijakan dalam negeri maupun dinamika politik global, investasi dalam USD bisa menjadi pilihan. Dengan tujuan melindungi nilai aset di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Hal senada disampaikan Vice President Infovesta Wawan Hendrayana. Dengan kondisi saat ini dan proyeksi kebijakan Trump di 2025, dia memperkirakan dalam tiga bulan ke depan USD masih akan menguat. Termasuk terhadap rupiah yang bisa menembus Rp 16 ribu per USD.
”Seiring dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dan pasca kebijakan Trump sudah dijalankan dan efeknya dapat dicermati, kisaran USD di tahun depan adalah Rp 15.500–Rp 16 ribu,’’ kata Wawan saat dihubungi Jawa Pos.
Bagi investor yang memang memiliki kebutuhan USD, itu tentu menarik. Investasi dalam USD bisa dalam deposito atau obligasi negara seri Indonesia. ”Khusus seri Indonesia yang saat ini dapat dibeli melalui aplikasi perbankan memiliki keunggulan lain, yaitu bebas pajak,’’ imbuhnya. (han/c6/dio)
Editor : Hendra