JawaPos.com – Sejumlah faktor ekonomi, khususnya deflasi lima bulan beruntun, bakal berpengaruh pada pertumbuhan sektor ritel di dalam negeri. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memproyeksikan pertumbuhan sektor ritel di Indonesia akan menurun menjadi sekitar 4,8 persen pada 2024 dibandingkan tahun lalu yang mencapai kisaran 5,3 persen.
Ketua Umum Aprindo Roy Nicholas Mandey menjelaskan, deflasi beruntun telah mengakibatkan penurunan permintaan domestik yang membuat konsumsi rumah tangga melambat. ”Deflasi ini bukan berarti harga-harga naik, tetapi daya beli masyarakat yang turun,” kata Roy di Jakarta kemarin (14/11).
Sebagian besar, kata dia, disebabkan banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK). ”Lebih dari 50 ribu pekerja terkena dampak PHK dalam periode ini yang turut menahan belanja masyarakat,” sambungnya.
Baca Juga: Isi Market Spesifik Premium, Pasar Hyundai Ioniq 5 N Berpotensi Tumbuh Kuasai High Performance EV
Di sisi lain, hal yang membuat pelaku usaha optimistis adalah program-program bantuan dan subsidi yang sempat tertunda di masa transisi mulai diteruskan kembali oleh pemerintah baru. Termasuk program bantuan langsung untuk masyarakat. Roy optimistis upaya pemerintah itu dapat menggerakkan kembali ekonomi masyarakat secara bertahap. ”Pemerintahan yang baru sekarang sudah mulai menggerakkan sektor ekonomi, menggerakkan lagi bantuan-bantuan langsung,” ujarnya.
Asosiasi berharap kebijakan-kebijakan kontradiktif tidak justru ditunjukkan pemerintah di tengah upaya menjaga optimisme tersebut. Misalnya, wacana kenaikan pajak pertambahan penghasilan (PPN). Roy menegaskan, para pengusaha ritel berkeberatan dengan rencana kenaikan PPN sebesar 12 persen.
Aprindo mengusulkan agar rencana kenaikan itu ditunda dalam satu hingga dua tahun mendatang. ”Ini kita baru deflasi. Baru mau kembali (bangkit, Red) lagi. Jadi, PPN itu harus ditangguhkan,” tegasnya.
Roy menambahkan, produktivitas industri ritel nasional biasanya mengalami puncaknya pada momen Ramadan, Idul Fitri, Natal, dan tahun baru. Menurut dia, saat ini tekanan deflasi di Indonesia berangsur selesai sehingga diharapkan memengaruhi permintaan domestik. ”Kita tinggal satu bulan lagi melangkah ke tahun 2025 dengan tantangan yang tentunya pasti enggak akan selesai dan belum tentu selesai. Tetapi, di tengah tantangan biasanya ada peluang,” bebernya.
Roy menegaskan, saat ini belum ada PHK yang terjadi di industri ritel karena sifat industri yang padat karya. Namun, dia tak menampik ada pengusaha ritel yang mengerem ekspansi karena pengaruh deflasi. Hanya, belum sampai ada ritel yang mengalami pailit. ”Kalau yang mengurangi ekspansi iya, karena pelemahan domestik itu. Jadi, menahan investasi untuk ekspansi. Tapi, kolaps belum,” kata Roy.
Di sisi lain, Kementerian Perdagangan sempat menargetkan pertumbuhan bisnis industri ritel Indonesia dapat mencapai 5 persen pada tahun depan. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan, pemerintah akan mendorong agar pertumbuhan bisnis ritel nasional lebih berkualitas pada 2025. ”Kita akan terus tingkatkan ya dari tahun ini sekitar 5 persen,” ujar Budi. (agf/c7/fal)
Editor : Hendra