JawaPos.com – Isu pemanasan kian menjadi perhatian serius. Dalam penyelenggaraan KTT Iklim COP29 di Baku, Azerbaijan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali memberikan peringatan keras kepada masing-masing negara.
Dilansir dari The Guardian kemarin (13/11), Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres mengingatkan potensi bencana besar dan perubahan iklim kian nyata terjadi. ’’Tahun ini merupakan kelas master dalam penghancuran yang dilakukan manusia,’’ ucapnya seraya merefleksikan cuaca ekstrem dan suhu rekor yang melanda dunia dalam beberapa kurun waktu terakhir.
Guterres menggambarkan penderitaan yang dirasakan masyarakat global akibat perubahan iklim. Mulai keluarga yang terpaksa mengungsi saat badai mendekat, pekerja dan peziarah yang tak tahan menghadapi suhu ekstrem, hingga anak-anak yang terpaksa tidur dalam kelaparan karena kekeringan menghancurkan hasil panen.
’’Semua bencana ini, dan lebih banyak lagi, diperburuk oleh perubahan iklim yang disebabkan manusia,’’ ujarnya di hadapan pemimpin dari hampir 200 negara.
Pertemuan selama dua minggu itu bertujuan untuk menyepakati solusi pendanaan guna menangani krisis iklim. Negara-negara berkembang menuntut kepastian dana sebesar 1 triliun dolar AS (sekitar Rp 15.785 triliun) per tahun hingga 2035 untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan beradaptasi dengan dampak cuaca ekstrem.
Sebagai bagian dari upaya internasional itu, Singapura berkomitmen menyumbang 500 juta dolar AS (sekitar Rp 7,89 triliun) untuk mempercepat aliran modal ke proyek hijau.
Konferensi COP29 juga dibayangi kekhawatiran atas dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh krisis iklim. Simon Stiell, kepala urusan iklim PBB, menegaskan bahwa perubahan iklim kini memengaruhi ekonomi global dan daya beli masyarakat. ’’Dampak perubahan iklim yang semakin parah akan memicu inflasi lebih tinggi,’’ ujarnya.
Dia mengaitkan itu dengan kekhawatiran ekonomi yang turut berperan dalam peningkatan dukungan terhadap partai-partai konservatif di berbagai negara. ’’Krisis iklim adalah krisis biaya hidup karena bencana iklim meningkatkan biaya hidup bagi masyarakat dan bisnis,’’ lanjutnya.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan target untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 81 persen pada 2035. Di sisi lain, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev menegaskan bahwa Azerbaijan akan tetap bergantung pada ekspor minyak dan gas yang menyumbang 90 persen dari pendapatan ekspor negara itu. ’’Minyak dan gas adalah berkah dari Tuhan,’’ katanya. (din/c6/bay)
Editor : Hendra