Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Pemilu AS-Keputusan The Fed Pengaruhi Pasar, Pekan Ini IHSG Diprediksi Rebound Menguat hingga 7.800

Agas Putra Hartanto • Senin, 4 November 2024 | 10:05 WIB

 

Wartawa di depan layar peregerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, (21/10/2024).
Wartawa di depan layar peregerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, (21/10/2024).

 


JawaPos.com – Indeks harga saham gabungan (IHSG) berpotensi rebound pekan ini. Hal itu sejalan dengan realisasi data ketenagakerjaan yang melemah dan kenaikan inflasi personal consumption expenditure (PCE) Amerika Serikat (AS). Pelaku pasar keuangan juga menantikan data pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III 2024.

’’IHSG berpeluang menguat dengan support di level 7.450 sampai 7.000 dan resistance pada 7.558 hingga 7.800,’’ ucap analis pasar modal Hans Kwee tadi malam.

Bureau of Labor Statistics (BLS) AS mencatatkan tenaga kerja nonfarm payroll (NFP) naik 12 ribu pada Oktober 2024. Realisasi tersebut jauh dari ekspektasi pelaku pasar sebesar 113 ribu. Mengingat, pada bulan sebelumnya naik 223 ribu, yang direvisi dari 254 ribu.

Selain itu, tingkat pengangguran tetap tidak berubah pada level 4,1 persen. Sedangkan partisipasi angkatan kerja turun tipis 0,1 persen secara bulanan menjadi 62,6 persen. Inflasi PCE menunjukkan kenaikan 0,2 persen dengan tingkat inflasi secara tahunan sebesar 2,1 persen.

’’The Fed (The Federal Reserve, Red) diperkirakan akan melanjutkan pemotongan bunga 25 basis poin (bps) pada pertemuan pekan ini (6–7 November),” terang Hans.

Menurut dia, yang menjadi perhatian dan kekhawatiran pelaku pasar adalah pemilu AS pada Selasa (5/11) waktu setempat. Kemenangan Donald Trump diprediksi dapat mengganggu pemilihan perekonomian, mendorong inflasi, dan menaikkan yield obligasi US Treasury.

’’Kebijakan tarif Trump dianggap dapat menimbulkan perang dagang akibat pembalasan dari negara yang dikenakan tarif,” imbuh dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Trisakti itu.

Di dalam negeri, lanjut dia, pemerintah baru dihadapkan pada tantangan utang badan usaha milik negara (BUMN) dan keterbatasan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Restrukturisasi serta memperkuat permodalan BUMN menjadi pilihan wajib bila pemerintah ingin mendorong pertumbuhan dengan lokomotif perusahaan milik negara.

Meski demikian, Hans menilai dana asing masih akan mengalir ke obligasi Indonesia. Hal itu menyusul optimisme disiplin anggaran pemerintah baru. ’’Pekan ini pelaku pasar menantikan data PDB (produk domestik bruto) Indonesia yang diperkirakan turun sedikit dan cadangan devisa Indonesia,” tuturnya.

Sementara itu, data Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 28 Oktober–1 November 2024 menunjukkan kapitalisasi pasar bursa turun 2,23 persen menjadi Rp 12.601 triliun. Pergerakan IHSG selama sepekan lalu turut merosot 2,46 persen pada level 7.505,257 dari 7.694,66 pada pekan sebelumnya. Begitu pula, rata-rata nilai transaksi harian bursa yang lesu sebesar 5,4 persen menjadi Rp11,31 triliun.

’’(Pergerakan) indeks mencakup berbagai hal. Secara global konflik di Timur Tengah belum usai. Pemilihan presiden Amerika Serikat mengerucut pada kemenangan Donald Trump memengaruhi pergerakan bursa saham,’’ ungkap Direktur Utama BEI Iman Rachman. (han/c7/dio)

Editor : Hendra
#pasar modal #ihsg #menguat