JawaPos.com - Saat ini, kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), Gading Serpong, dan Alam Sutera di Tangerang Selatan dikenal sebagai pusat hunian elit dengan berbagai fasilitas modern.
Namun, siapa sangka daerah ini dahulu tidak banyak diminati oleh masyarakat dan sangat erat dengan aura mistis. Berikut perjalanan Serpong hingga saat ini.
Asal-Usul Serpong dan Legenda Mistis
Kurangnya lampu pencahayaan menjadikan orang-orang enggan melewati tempat yang konon disebut "Tempat Jin Buang Anak" tersebut. Selain itu, kisah Mat Item, sosok jawara yang dianggap sakti dan disegani orang banyak kerap memperkuat kesan Serpong sebagai tempat yang angker dan berbahaya.
Saat 1980-an, jalan menuju kawasan ini hanyalah hutan karet dengan tanah berlumpur saat hujan, dan berdebu saat kemarau. Suasana itu pun ikut menambah kesan Serpong sebagai wilayah angker dan penuh mistis.
Usaha Pembangunan Dimulai
Pada 1989, Ciputra memulai bangun kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) untuk mengubah citra Serpong menjadi kota mandiri. Namun, tantangan pun menimpa Ciputra karena krisis ekonomi pada 1997. Ciputra pun tak berkembang selama beberapa tahun.
Pada 2003–2004, properti di Serpong mulai tumbuh saat BSD diambil alih Sinarmas. Sementara Gading Serpong diambil alih oleh Summarecon dan Paramount. Tak lupa, Ciputra pun tetap mendapat bagian mengelola Alam Sutera.
Serpong Masa Kini
Sedikit demi sedikit, Serpong berkembang menjadi pusat hunian mewah yang dilengkapi mal, pusat bisnis, tempat wisata, dan sekolah internasional. Bahkan, lokasi ini menjadi destinasi properti yang sangat diminati dengan daya tarik kelas atas.
Transformasi Serpong dari tempat angker menjadi pusat properti menunjukkan perubahan drastis. Kini, Serpong tidak hanya menjadi kota mandiri, namun juga menjadi simbol pertumbuhan ekonomi yang modern di Tangerang Selatan (Tangsel) dan penyokong kota Jakarta.
Editor : Hendra