Menurut Psikologi, 7 Kebiasaan Sehari-hari Ini Bikin Mental Kamu Makin Rapuh

Mohammad Maulana Iqbal • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 16:20 WIB
Ilustrasi orang rapuh mental dan emosional menurut psikologi (Magnific)
Ilustrasi orang rapuh mental dan emosional menurut psikologi (Magnific)

 

JawaPos.comPsikologi mencatat bahwa kerapuhan emosional membuat seseorang mudah merasa kewalahan saat emosi sulit dikendalikan.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan ketahanan mental, yang justru membantu seseorang tetap tenang di bawah tekanan hidup.

Sejumlah kebiasaan tertentu ternyata menjadi faktor utama yang mempertahankan kerapuhan emosional pada diri seseorang.

Melansir dari laman YourTango, inilah tujuh kebiasaan harian yang sering memicu dan mempertahankan kerapuhan mental serta emosional:

Baca Juga: 8 Tanda Seseorang Punya Niat Jahat padamu Menurut Psikologi, Waspadai Perilakunya!

1. Berusaha Memperbaiki Emosi yang Menyakitkan

Berusaha menghilangkan emosi yang menyakitkan justru membuat seseorang semakin rentan terhadap perasaan tersebut.

Otak cenderung menganggap sesuatu sebagai ancaman ketika seseorang terus berusaha menghindar atau menyingkirkannya.

Kebiasaan menghindari emosi menyakitkan membuat otak semakin cemas terhadap perasaan yang muncul.

Menerima emosi apa pun, termasuk yang menyakitkan, menjadi inti utama dari kekuatan emosional seseorang.

2. Mengkritik Diri Sendiri saat Merasa Buruk

Banyak orang yang penuh kasih justru sangat kritis terhadap dirinya sendiri saat menghadapi suasana hati buruk.

Mereka mungkin bersikap penuh empati kepada teman, namun langsung menghakimi diri sendiri dalam situasi serupa.

Menghakimi diri sendiri hanya menambah beban perasaan buruk yang sebenarnya sudah cukup berat untuk dihadapi.

Kebiasaan ini menciptakan lingkaran penderitaan emosional yang berkepanjangan dan memperkuat kerapuhan yang dialami.

Baca Juga: 10 Hal yang Tidak Boleh Dibagikan di Media Sosial Menurut Psikologi, Bisa Bikin Menyesal!

3. Terjebak dalam Kekhawatiran yang Berlebihan

Kekhawatiran kronis dapat menggerus rasa percaya diri seseorang secara perlahan namun signifikan.

Kebiasaan ini melatih otak untuk percaya bahwa hal buruk selalu mengintai di setiap sudut kehidupan.

Otak pun mulai meyakini bahwa seseorang tidak akan mampu menghadapi berbagai kesulitan yang muncul.

Menghindari kebiasaan mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi dapat membantu memperkuat ketahanan emosional seseorang.

4. Terus Larut dalam Masa Lalu

Terpaku pada masa lalu menjadi kebalikan dari kebiasaan mengkhawatirkan masa depan secara berlebihan.

Kebiasaan mengingat kesalahan masa lalu membentuk pandangan keliru terhadap kemampuan diri saat ini.

Hidup terlalu lama dalam kenangan masa lalu membuat seseorang kesulitan menjalani masa kini secara utuh.

Belajar dari kesalahan penting dilakukan, namun berbeda dengan terus-menerus mengkritik diri tanpa henti.

5. Bergantung pada Orang Lain untuk Merasa Baik

Mencari dukungan dari orang lain saat merasa buruk merupakan hal yang wajar dilakukan manusia.

Masalah muncul ketika seseorang terlalu bergantung pada orang lain untuk merasa baik-baik saja.

Kebiasaan ini mengajarkan otak bahwa dirinya tidak mampu menghadapi perasaan sulit secara mandiri.

Tanggung jawab terhadap perasaan seseorang pada akhirnya tetap berada di tangan diri sendiri sepenuhnya.

6. Tidak Menegakkan Batasan Pribadi

Rasa percaya diri yang sehat sangat bergantung pada kemampuan menjaga batasan pribadi yang jelas.

Kegagalan menetapkan batasan hampir selalu berujung pada kerapuhan emosional yang dialami seseorang.

Menetapkan dan menegakkan batasan sering terasa sulit karena berbagai perasaan tidak nyaman yang menyertainya.

Menjaga batasan pribadi menjadi bentuk penghormatan terhadap diri sendiri yang penting bagi kekuatan emosional.

Baca Juga: 8 Prinsip Rahasia Orang Kaya Menurut Psikologi untuk Sukses Finansial

7. Merasa Harus Selalu Bahagia Sepanjang Waktu

Semua orang menyukai perasaan bahagia, namun menganggapnya sebagai kondisi yang wajib selalu dirasakan adalah keliru.

Merasa sedih, marah, atau takut sebenarnya merupakan bagian normal dari pengalaman hidup manusia.

Menuntut diri selalu bahagia justru membuat perasaan tidak nyaman terasa semakin tidak tertahankan.

Menerima seluruh perasaan yang dialami membantu seseorang membangun kekuatan emosional yang lebih sehat.

Editor : Candra Mega Sari
kerapuhan emosional mental kebiasaan psikologi