JawaPos.com - Film horor ternyata bukan sekadar hiburan menegangkan karena secara psikologi terbukti melatih otak dengan cara yang sangat tidak terduga oleh kebanyakan penontonnya.
Penelitian ilmiah mengungkap bahwa ada hubungan yang menarik antara kebiasaan menonton film horor dengan perkembangan kecerdasan dan kemampuan emosional seseorang.
Dari peningkatan fungsi kognitif hingga kemampuan memproses trauma, film horor memberikan manfaat yang jauh melampaui sensasi ketakutan semata.
Dilansir dari laman YourTango pada Kamis (23/7), inilah empat sifat kecerdasan langka yang secara konsisten berkembang pada orang-orang yang gemar menonton film horor secara rutin.
Baca Juga: Tanpa Disadari, Ini 9 Perilaku Self Sabotage yang Menandakan OrangTidak Bahagia Menurut Psikologi
1. Kemampuan Mengelola Rasa Takut dan Kecemasan yang Lebih Baik
Menurut penelitian tahun 2012 oleh Mathias Clasen dari Aarhus University, tema-tema berulang dalam film horor secara aktif melatih pikiran penonton untuk mengelola ketakutan.
Dengan mengamati cara karakter dalam film merespons situasi menakutkan, penonton belajar strategi yang efektif untuk menghadapi rasa takut dalam kehidupan nyata mereka.
Penonton secara inheren memahami bahwa cerita yang disaksikan fiksi, sehingga duduk melewati ketidaknyamanan dalam lingkungan yang terkontrol memperkuat kemampuan menghadapi ketakutan sesungguhnya.
Proses ini juga memperkuat ketangguhan, kemampuan beradaptasi, dan keterampilan pemecahan masalah ketika menghadapi tantangan kehidupan yang nyata dan tidak terduga.
Setiap ketakutan yang berhasil dihadapi dalam konteks aman seperti film melatih respons saraf yang sama yang akan digunakan dalam krisis kehidupan yang sesungguhnya.
Dengan kata lain, ketidaknyamanan yang terasa selama menonton horor bukan pengalaman sia-sia karena ia mempersiapkan seseorang menghadapi situasi darurat dengan lebih tenang.
Orang yang terbiasa melewati ketegangan film horor cenderung lebih siap secara psikologis menghadapi situasi menekan dibandingkan mereka yang selalu menghindari konten yang menakutkan.
2. Fungsi Kognitif yang Meningkat dan Tingkat Stres yang Lebih Rendah
Saat menonton film horor, amigdala dan hipokampus di pusat otak mulai saling bertukar sinyal sebagai respons terhadap ketegangan yang semakin memuncak.
Peneliti dari University of California, Irvine merekam aktivitas neuronal sembilan partisipan selama mereka menyaksikan adegan-adegan horor dan menemukan aktivasi otak yang signifikan.
Jump scare yang menegangkan menciptakan lonjakan adrenalin dalam tubuh yang menyerupai pengalaman ketakutan nyata secara neurologis dan fisiologis.
Setelah ancaman itu berlalu, otak melepaskan dopamin, serotonin, oksitosin, dan endorfin yang memberikan rasa senang dan lega secara bersamaan.
Pelepasan kimia-kimia ini meningkatkan fungsi kognitif secara nyata dan mempertajam indra yang bisa sangat berguna dalam situasi yang berpotensi mengancam jiwa.
Menonton film horor pada dasarnya berfungsi seperti terapi eksposur yang melatih respons emosional dan perilaku terhadap ketakutan dan kecemasan nyata secara bertahap.
Paparan berulang pada konten yang mengganggu dalam kondisi aman membantu penonton mengembangkan strategi koping yang jauh lebih matang untuk menghadapi tekanan kehidupan.
Baca Juga: 7 Alasan Kenapa Punya Hobi Bisa Bikin Hidup Lebih Bahagia daripada Main HP Menurut Psikologi
3. Kecenderungan Lebih Besar untuk Merenungkan Nilai dan Keyakinan Hidup
Di balik teror dan darah, film horor hampir selalu menyematkan pesan yang lebih dalam tentang kemanusiaan, masyarakat, kematian, kejahatan, dan kerapuhan kehidupan.
Pesan-pesan ini bertahan lama setelah kredit film bergulir dan memainkan peran nyata dalam mendorong pertumbuhan pribadi penonton yang mau merefleksikannya.
Penonton belajar memahami ketakutan bawah sadar mereka sendiri, kompas moral mereka, dan bagaimana mereka akan bereaksi dalam situasi yang penuh tekanan dan risiko tinggi.
Akhir yang bahagia dalam film horor, seperti protagonis yang bertahan hidup, meninggalkan perasaan inspiratif yang bisa diambil sebagai sumber kekuatan saat menghadapi tantangan pribadi.
Proses refleksi ini membantu seseorang memahami apa yang benar-benar penting dalam hidupnya dan membangun koneksi yang lebih dalam dengan diri mereka sendiri.
Film horor mengajarkan cara menghadapi rasa takut dan belajar darinya tanpa harus mengalami trauma yang tidak bisa dipulihkan dalam kehidupan nyata.
Dengan cara ini, menonton horor berkontribusi pada pertumbuhan pribadi yang sesungguhnya karena memungkinkan seseorang berlatih menghadapi ketakutan terbesar mereka dalam lingkungan yang sepenuhnya aman.
4. Kemampuan Lebih Baik dalam Memproses Trauma dan Kesedihan
Paparan pada konten horor fiksi menawarkan pendekatan terapeutik yang membantu seseorang menghadapi dan memproses trauma atau kesedihan yang mereka bawa dalam kehidupan.
Dengan mengekspos diri secara langsung pada konten yang menakutkan dalam lingkungan yang nyaman, seseorang bisa lebih baik menavigasi kecemasan, fobia, dan rasa tidak aman yang dimilikinya.
Pelepasan kimia otak yang dipicu oleh narasi horor, dikombinasikan dengan keterhubungan pada protagonis yang menavigasi kehidupan pasca trauma, menciptakan pemahaman tentang cara mengatasi luka pribadi.
Proses ini bisa menghasilkan rasa lega dan pelarian sementara dari perjuangan sehari-hari yang dirasakan oleh penonton yang sedang melewati masa sulit.
Kemampuan untuk mengidentifikasi diri dengan karakter yang bertahan dari hal-hal buruk memberikan penonton rasa harapan bahwa mereka pun bisa melewati kesulitan mereka sendiri.
Tentu saja, apa yang bermanfaat bagi sebagian orang belum tentu cocok bagi semua orang karena setiap individu memiliki pemicu berbeda yang perlu dihormati dan diperhatikan.
Namun secara keseluruhan, memahami manfaat psikologis dan emosional dari film horor dapat membuat pengalaman menonton yang sangat menakutkan terasa jauh lebih bermakna dan bermanfaat.
Baca Juga: 9 Ucapan yang Sering Keluar dari Orang Tidak Kompeten Menurut Psikologi
Editor : Candra Mega Sari