Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Transplantasi Ginjal Membuka Harapan Baru Pasien Gagal Ginjal

Muhtamimah • Rabu, 17 September 2025 | 19:06 WIB
Sesi diskusi bersama mengenai perkembangan transplantasi ginjal di forum The 5th Siloam Urology-Nephrology Summit 2025.
Sesi diskusi bersama mengenai perkembangan transplantasi ginjal di forum The 5th Siloam Urology-Nephrology Summit 2025.

JawaPos.com - Siloam International Hospitals melalui Siloam ASRI terus memperkuat kompetensi para dokter spesialis dan tim paramedis, fasilitas kesehatan, dan kualitas pelayanannya. Guna meningkatkan harapan hidup para pasien gagal ginjal yang melakukan transplantasi ginjal dengan standar dan hasil setara dengan rumah sakit internasional. 

Ajang 5th Siloam Urology – Nephrology Summit 2025 yang digelar pada Agustus lalu menyoroti berbagai perkembangan terbaru. Mulai dari penguatan sistem donor dari pasien yang meninggal dunia, strategi pencegahan reaksi penolakan organ, hingga inovasi pemanfaatan teknologi robotik yang diyakini akan menjadi masa depan transplantasi ginjal. 

Data Kementerian Kesehatan RI menyebutkan lebih dari 200.000 pasien menjalani terapi hemodialisis setiap tahun. Transplantasi ginjal menjadi salah satu terobosan medis penting bagi pasien gagal ginjal stadium akhir. Namun, minimnya ketersediaan donor dengan berbagai masalah lain masih memerlukan penyelesaian.

Forum ini menghadirkan sejumlah pakar urologi dan nefrologi dari dalam dan luar negeri, yaitu Prof. Shin Sung (pakar transplantasi ginjal dari Korea Selatan), Prof. Dr. dr. Endang Susalit, SpPD-KGH, FINASIM (pakar penyakit dalam konsultan ginjal-hipertensi Siloam ASRI), Prof. dr. Agus Rizal Ardy Hariandy Hamid, SpU(K), FICRS, PhD (dokter spesialis urologi Siloam ASRI),  dan dr. Aries Perdana, Sp.An-KKV (dokter spesialis anestesi Siloam ASRI).

Para pakar itu menegaskan bahwa transplantasi ginjal dapat memberikan harapan baru bagi pasien gagal ginjal stadium akhir. Akan tetapi, keberhasilan transplantasi membutuhkan dukungan regulasi, kesiapan infrastruktur medis, ketersediaan tim medis seperti dokter spesialis nefrologi, urologi, anestesi, psikiater, forensik dan medikolegal serta tim paramedis yang berkemampuan baik. 

Paparan dr. Aries Perdana, Sp.An-KKV menjelaskan bahwa transplantasi dari donor meninggal dunia (cadaveric donor) dapat menjadi solusi nyata untuk keterbatasan donor hidup di Indonesia. "Keberhasilan program donor kadaver sangat bergantung pada diagnosis mati batang otak (MBO) yang akurat, manajemen donor di ICU, serta koordinasi lintas rumah sakit secara nasional," ungkap dr. Aries.

Pandangan ini diperkuat oleh Prof. dr. Agus Rizal Ardy Hariandy Hamid, SpU(K), FICRS, PhD, yang menyoroti pentingnya menilai kualitas donor dan penerima secara menyeluruh. "Kualitas donor, kondisi klinis penerima, serta pemantauan jangka panjang adalah faktor-faktor yang saling berkaitan. Semua ini menentukan apakah transplantasi akan memberikan manfaat maksimal bagi pasien,"  tuturnya.

Prof. Dr. dr. Endang Susalit, SpPD-KGH, FINASIM yang berpraktek di Siloam Hospitals ASRI menjelaskan bahwa keberhasilan transplantasi ginjal tidak berhenti setelah operasi selesai. Tantangan terbesar justru datang dari risiko tubuh pasien menolak organ baru yang dianggap sebagai benda asing.

"Untuk mencegah penolakan ini, pasien harus mengonsumsi obat khusus yang disebut obat penekan sistem imun, atau imunosupresan pada waktu tertentu. Obat ini membuat tubuh tidak menyerang ginjal baru sehingga organ bisa berfungsi dengan baik," terang Prof. Endang.

Dia menambahkan, salah satu obat utama yang digunakan adalah tacrolimus, yang terbukti efektif tetapi harus diberikan dengan pemantauan ketat.

Bentuk dosis sekali sehari  kini menjadi pilihan karena lebih mudah diikuti pasien, sehingga meningkatkan kepatuhan pengobatan. 

Baca Juga: Empat Warga Tangsel Terima Klaim Asuransi Pohon Tumbang Sepanjang 2025, Pemkot Sediakan Posko Klaim Asuransi

"Kepatuhan pasien sangat penting. Obat bisa efektif, tapi tanpa disiplin minum obat, risiko kegagalan transplantasi tetap tinggi," tegasnya.

Prof. Shin Sung, pembicara internasional dari Korea Selatan memaparkan bahwa teknologi robot transplantasi ginjal (robotic kidney transplantation) menawarkan prosedur yang lebih presisi, minim invasif, serta pemulihan yang lebih cepat.

"Dengan bantuan teknologi robotik, risiko komplikasi dapat ditekan, waktu pemulihan lebih singkat, dan kualitas hidup pasien pasca-transplantasi bisa lebih baik," jelasnya.

Teknologi robotik diharapkan dapat membuka jalan bagi layanan transplantasi yang lebih modern di Indonesia, sekaligus meningkatkan angka keberhasilan dan kualitas hidup pasien.

 Hingga saat ini, Siloam ASRI telah menangani 464 pasien transplantasi ginjal dengan tingkat kelangsungan hidup satu tahun mencapai 98,9 persen. Capaian tersebut mencerminkan kompetensi tim medis, fasilitas mumpuni, serta sistem layanan yang sesuai dengan standar internasional.

Melalui forum ilmiah tahunan ini, Siloam International Hospitals kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong transformasi layanan kesehatan nasional, khususnya di bidang urologi dan nefrologi.

Prof. Shin Sung, salah satu pakar internasional dari Korea Selatan memaparkan perkembangan Robotic Kidney Transplantation.
Prof. Shin Sung, salah satu pakar internasional dari Korea Selatan memaparkan perkembangan Robotic Kidney Transplantation.

 

 
Editor : Hendra
#siloam #gagal ginjal #tranplantasi ginjal