Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Puasa hingga Mati dalam Jainisme: Ritual Santhara yang Kontroversial di India

Nurul Fitriyah • Rabu, 5 Maret 2025 | 09:00 WIB
Ilustrasi wanita meninggal. (Dok. Freepik)
Ilustrasi wanita meninggal. (Dok. Freepik)

JawaPos.com – Praktik puasa Santhara dalam Jainisme merupakan ritual yang dilakukan menjelang akhir kehidupan sebagai bentuk pelepasan duniawi. Penganutnya meyakini bahwa ritual ini dapat membantu mencapai pencerahan dan mengurangi karma buruk yang telah dikumpulkan selama hidup.

Santhara adalah praktik puasa dalam Jainisme yang dilakukan secara bertahap hingga tubuh tidak lagi menerima asupan makanan dan minuman. Ritual ini diyakini sebagai jalan menuju moksa, yaitu kebebasan dari siklus kelahiran kembali.

Mengetahui tentang Santhara memberikan wawasan mengenai salah satu ritual spiritual tertua yang masih dijalankan hingga saat ini. Selain itu, pemahaman tentang praktik ini juga berkaitan dengan etika dan hukum dalam masyarakat modern.

Berikut puasa hingga mati dalam Jainisme dengan ritual Santhara yang kontroversial di India dilansir dari channel YouTube Kamar JERI oleh JawaPos.com, Selasa (4/3):

1. Konsep Puasa dalam Jainisme

Puasa merupakan bentuk pengendalian diri. Dalam Jainisme, puasa dilakukan tidak hanya untuk kesehatan fisik tetapi juga untuk kepentingan spiritual.

Penganutnya meyakini bahwa menahan lapar dapat mengurangi akumulasi karma buruk. Berbagai bentuk puasa dilakukan, mulai dari menahan makan dalam waktu tertentu hingga tidak makan sama sekali.

Santhara menjadi bentuk tertinggi karena dilakukan hingga tubuh benar-benar melemah. Ritual ini hanya dijalankan oleh mereka yang telah mencapai tingkat spiritual yang tinggi.

2. Filosofi di Balik Santhara

Santhara melambangkan pelepasan duniawi total. Praktik ini mencerminkan kepercayaan bahwa kehidupan duniawi penuh keterikatan yang harus dilepaskan untuk mencapai kebebasan sejati.

Dalam Jainisme, tubuh dianggap sebagai penjara bagi jiwa, dan Santhara adalah cara untuk membebaskannya. Dengan mengurangi asupan makanan dan minuman secara bertahap, seseorang bisa mencapai kematian yang tenang.

Proses ini dianggap sebagai bentuk tapasya, yaitu pengorbanan diri untuk memperoleh pencerahan. Hanya individu yang benar-benar siap yang boleh menjalani ritual ini.

3. Perbedaan Kasaya Santhara dan Bahya Santhara

Kasaya Santhara berfokus pada pengendalian batin. Dalam jenis ini, individu berusaha melepaskan emosi, nafsu, dan keterikatan duniawi sebelum menjalani puasa penuh.

Bahya Santhara lebih berfokus pada aspek fisik, seperti berhenti mengkonsumsi makanan padat terlebih dahulu sebelum berhenti minum. Kedua jenis ini dilakukan secara bertahap agar tubuh bisa beradaptasi dengan proses pelepasan.

Masing-masing memiliki peran dalam mempersiapkan jiwa menuju moksa. Ritual ini dilakukan di bawah pengawasan para petapa berpengalaman.

4. Pandangan Hukum dan Etika

Santhara menimbulkan perdebatan hukum panjang. Sebagian pihak melihatnya sebagai hak individu dalam menjalankan keyakinan, sementara yang lain menilainya sebagai praktik yang melanggar hak asasi manusia.

Pemerintah India pernah melarang ritual ini, tetapi Mahkamah Agung akhirnya mengakuinya sebagai bagian dari kebebasan beragama. Para penganut Jainisme berpendapat bahwa Santhara berbeda dari bunuh diri karena dilakukan dengan kesadaran penuh.

Mereka percaya bahwa ini adalah bentuk pemurnian spiritual, bukan sekadar tindakan putus asa. Namun, kontroversi masih terus berlanjut, terutama terkait individu lanjut usia yang menjalani ritual ini.

5. Peran Keluarga dalam Santhara

Keluarga memberikan dukungan moral penuh. Selama proses Santhara, keluarga tidak boleh memaksa individu untuk makan atau minum.

Mereka hanya mendampingi dan memastikan bahwa ritual berlangsung sesuai ajaran Jainisme. Ada tradisi menyanyikan doa dan lagu-lagu rohani untuk membantu individu mencapai ketenangan batin.

Beberapa keluarga merasa bangga karena anggota mereka telah mencapai tahap akhir spiritual. Namun, ada juga yang mengalami dilema emosional karena harus menyaksikan orang yang mereka cintai melemah secara bertahap.

6. Tokoh-Tokoh yang Menjalani Santhara

Beberapa tokoh besar memilih Santhara. Maharaj Ji, seorang biksu Jain, mengajarkan bahwa kematian bukan sesuatu yang menyedihkan, melainkan proses alami menuju kebebasan jiwa.

Sayar Devy Modi, seorang perempuan berusia 88 tahun, menjalani Santhara setelah didiagnosis kanker sebagai bentuk penerimaan terhadap nasibnya. Acharya Shri Vidyasagar Ji Maharaj, seorang pemuka agama Jain, juga menjalani ritual ini dan mendapat penghormatan luas setelah wafat.

Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa Santhara lebih banyak dijalani oleh mereka yang telah mencapai usia lanjut. Keputusan menjalani ritual ini selalu dilakukan dengan kesadaran penuh dan bukan atas paksaan.

7. Kontroversi dan Respons Publik

Santhara menuai berbagai reaksi masyarakat. Sebagian besar komunitas Jainisme mendukung ritual ini sebagai bagian dari ajaran agama yang harus dihormati.

Namun, di luar komunitas Jain, praktik ini sering dianggap sebagai bentuk ekstremisme spiritual yang berbahaya. Beberapa pihak merasa ritual ini bisa dimanfaatkan untuk menekan individu lanjut usia agar mengakhiri hidup mereka.

Meskipun begitu, Mahatma Gandhi sendiri pernah mengagumi prinsip ahimsa dalam Jainisme, yang juga menjadi dasar filosofi Santhara. Hingga kini, diskusi mengenai etika dan legalitas ritual ini terus berlanjut.

Mempelajari praktik Santhara membuka wawasan tentang keyakinan dan filosofi yang dianut oleh penganut Jainisme. Ritual ini mencerminkan nilai-nilai spiritual yang kuat, tetapi juga menimbulkan berbagai perdebatan di era modern.

(*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#ritual #puasa #india #jainisme #Santhara