Victim Mentality: Distorsi Kognitif ketika Seseorang Berpikir Dirinya Korban
Apakah anda terus-menerus merasa seolah-olah diri anda tidak memiliki kendali atas situasi atau bahwa orang lain berusaha menjatuhkan anda? Atau apakah anda merasa seolah-olah hal-hal buruk terus terjadi tak peduli apa pun yang anda lakukan? Jika anda mendapati diri anda menyalahkan orang lain atas kejadian atau situasi dalam hidup, bisa jadi anda sedang berjuang dengan apa yang dikenal sebagai mentalitas korban.
Mentalitas korban adalah jenis distorsi kognitif tentang cara seseorang memandang dunia serta keadaan mereka; sebuah kondisi ketika seseorang sering merasa seperti korban, meskipun bukti mengatakan sebaliknya. Tanda-tandanya termasuk sering menyalahkan orang lain dan kesulitan menerima tanggung jawab pribadi.
Orang dengan mentalitas korban merasa seolah-olah hal-hal buruk terus terjadi dan dunia menentang mereka. Namun, faktanya, kita semua memang pernah mengalami hari-hari ketika dunia seolah tidak berpihak pada kita.
Mentalitas korban dapat membuat anda merasa hidup tidak adil. Anda bahkan mungkin merasa tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubah keadaan. Selain itu, anda mungkin menganggap segala sesuatu sebagai sesuatu yang pribadi meskipun hal itu tidak ditujukan kepada anda.
Dalam psikologi klinis, mentalitas korban menggambarkan ciri kepribadian orang yang percaya bahwa mereka terus-menerus menjadi korban tindakan merugikan orang lain, bahkan ketika menyadari adanya bukti yang bertentangan.
Kebanyakan orang mengalami periode normal mengasihani diri sendiri sebagai bagian dari proses berduka, misalnya. Namun, episode-episode ini bersifat sementara dan kecil dibandingkan dengan perasaan tidak berdaya, pesimisme, rasa bersalah, malu, putus asa, dan depresi yang terus-menerus yang menguasai kehidupan orang yang menderita kompleks korban.
Sayangnya, tidak jarang orang yang pernah menjadi korban hubungan yang kasar atau manipulatif menjadi mangsa mentalitas korban secara universal.
Tanda-Tanda Victim Mentality
Mentalitas korban dapat terwujud dalam banyak cara. Mentalitas ini dapat berupa perasaan bahwa dunia ingin menjatuhkan anda atau kesulitan mengambil tanggung jawab pribadi atas apa yang terjadi dalam hidup anda. Tanda-tanda mentalitas korban dapat diamati melalui:
1. Perilaku
- Sering menyalahkan faktor eksternal atau orang lain ketika terjadi kesalahan
- Kesulitan mengambil tanggung jawab pribadi
- Terlalu kritis terhadap diri sendiri atau orang lain
- Merusak diri sendiri
- Bergaul hanya dengan orang-orang yang berpikiran sama dengannya
2. Mental
- Melihat dunia sebagai sesuatu yang tidak adil atau tidak aman
- Distorsi kognitif
- Pola pikir yang merugikan atau pesimisme
- Berpikir tentang kesalahan dan luka masa lalu
- Kecenderungan pikiran untuk menyakiti diri sendiri bahkan bunuh diri
3. Emosi
- Kecemasan
- Depresi
- Perasaan tidak diperhatikan
- Rasa bersalah atau malu
- Harga diri rendah
- Kebencian terhadap orang lain
- Isolasi sosial.
4. Hubungan
- Kesulitan dalam keintiman dan kepercayaan
- Ketidakmampuan emosional
- Empati terbatas terhadap orang lain
- Ketidakpercayaan terhadap figur otoritas
- Mencatat skor dalam hubungan
- Kesulitan menerima kritik yang membangun
Penyebab Victim Mentality
Apa yang menyebabkan seseorang memiliki mentalitas korban? Penyebab umumnya meliputi:
- Pengalaman trauma masa lalu yang membuat pola pikir ini berkembang sebagai mekanisme koping
- Berbagai situasi negatif yang membuat seseorang tidak memiliki rasa kendali
- Rasa sakit emosional yang berkelanjutan yang membuat seseorang merasa tidak berdaya atau terjebak sehingga mereka menyerah
- Dikhianati kepercayaannya oleh seseorang di masa lalu membuat seseorang merasa tidak dapat mempercayai orang lain di masa mendatang (terutama orang tua atau pasangan)
- Keuntungan sekunder setelah periode awal (misalnya, membuat orang lain merasa bersalah sehingga seseorang mendapat perhatian)
Secara umum, mentalitas korban dapat disebabkan karena adanya trauma di masa lalu (yang biasanya diakibatkan oleh pengkhianatan), gejala kebergantungan dalam hubungan, dan sikap manipulatif dari mereka yang menikmati peran sebagai 'si korban.'
Bagaimana Menyikapi Seseorang dengan Victim Mentality?
Berinteraksi dengan seseorang yang selalu melihat dirinya sebagai korban bisa jadi sulit. Mereka mungkin menolak bertanggung jawab atas kesalahan mereka dan menyalahkan orang lain saat terjadi kesalahan. Mereka mungkin selalu tampak merendahkan diri sendiri.
Namun, ingatlah bahwa banyak orang yang hidup dengan pola pikir ini pernah menghadapi kejadian sulit atau menyakitkan dalam hidup. Ini tidak berarti anda harus bertanggung jawab atas mereka atau menerima tuduhan dan kesalahan. Namun, cobalah untuk membiarkan empati memandu respons anda.
Berikut cara-cara yang bisa anda lakukan untuk menyikapi orang dengan mentalitas korban:
- Bersikaplah empati dan akui bahwa mereka pernah menghadapi kejadian menyakitkan di masa lalu
- Jangan melabeli mereka sebagai korban karena hal ini hanya akan memperburuk situasi
- Identifikasi perilaku tertentu yang tidak membantu seperti mengalihkan kesalahan, mengeluh, dan tidak mau bertanggung jawab
- Biarkan mereka berbicara dan berbagi perasaan mereka
- Jangan minta maaf jika tidak merasa sepenuhnya bersalah atas suatu situasi
- Tetapkan batasan dan jangan biarkan mereka mengganggu ruang pribadi anda
- Tawarkan bantuan untuk menemukan solusi bagi mereka tetapi jangan mencoba melindungi mereka dari hasil yang buruk
- Bantu mereka untuk bertukar pikiran mengenai tujuan atau cara untuk mengubah hidup mereka
- Ajukan banyak pertanyaan untuk menyelidiki dan membuat mereka berpikir (misalnya: Apa yang anda kuasai? Apa yang telah anda lakukan dengan baik di masa lalu?)
- Validasi perasaan mereka daripada mengabaikannya
- Dorong mereka untuk berbicara dengan terapis jika mereka memiliki trauma yang belum terselesaikan dari masa lalu
- Bersiaplah untuk percakapan anda dan jangan biarkan diri anda terjebak dalam dinamika yang buruk
- Jangan menyerang mereka dan bersikaplah lembut; biarkan mereka tumbuh melalui dorongan Anda
Memiliki mentalitas korban tidak bisa dijadikan alasan untuk berperilaku buruk. Menetapkan batasan untuk diri sendiri itu penting. Namun, pahami juga bahwa mungkin ada banyak hal lain yang terjadi selain sekadar keinginan mereka untuk diperhatikan.
Editor : Candra Mega Sari