JawaPos.com - Pick me digunakan untuk menyebut karakter seseorang yang mencoba mendapatkan perhatian, persetujuan, pengakuan, dan validasi dari orang lain di sekelilingnya. Orang dengan karakter ini biasanya mencoba agar semua perhatian tertuju padanya dengan cara bersikap maupun berkomentar berbeda atau mendominasi dengan tujuan dianggap lebih baik, lebih tau, dan spesial dibanding orang lain di sekitarnya.
Orang berkarakter pick me bisa ditemukan di mana saja, baik di lingkungan pertemanan maupun di tempat kerja. Ciri-ciri utamanya adalah selalu berusaha mendapatkan validasi bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain.
Tanpa kita sadari, kita sering menilai sikap dan ucapan seseorang di sekitar kita sebagai pick me, padahal kita sendiri ternyata juga menunjukkan sikap yang membuat orang lain menilai kitalah yang pick me. Jika itu yang terjadi, berarti sudah waktunya kita melakukan kontemplasi dan refleksi terhadap cara kita bersikap dan bertutur dengan orang lain.
Para pick me girl, mereka biasanya melontarkan celetukan seperti, "Apaan sih ke salon, mending ke gunung. Gue mah anti ribet-ribet klub," atau "Kenapa sih cewek-cewek suka boyband, gue sih lebih relate sama musik rock."
Perempuan dengan sindrom ini merendahkan femininitas perempuan lain untuk mendapatkan validasi dari pria, ingin menunjukkan perbedaan dari perempuan lainnya. Dulu, istilah ini juga dikenal sebagai "I am not the other girls." Fenomena ini bisa dialami oleh siapa saja, tidak hanya perempuan.
Berbeda bagi pick me boy mereka merasa bahwa mereka berbeda dengan pria pada umumnya dengan biasa melontarkan kata-kata seperti, "Heran kok masih ada cowok yang suka dugem, ngerokok, bukan aku banget itu mah", "Jaman sekarang kalo cowok nggak nge-gym tuh aneh banget, mereka nggak peduli kesehatan apalagi ke pasangannya," dan lain lain.
Dilansir dari laman klikdokter.com, penyebab dari seseorang yang mengidap pick me syndrome sering merasa lebih baik dengan merendahkan pilihan orang lain, terutama dari jenis kelamin yang sama, untuk menarik perhatian lawan jenis atau lingkungan pergaulan. Pada perempuan, ini berkaitan dengan internalized misogyny, dimana mereka menerima stereotip seksis dan menginternalisasi pandangan misoginis terhadap diri mereka sendiri.
Stereotip seksis menganggap satu gender lebih baik daripada yang lain, seperti asumsi bahwa perempuan harus di dapur dan laki-laki yang mencari nafkah. Perempuan dengan pick me girl syndrome bisa merasa benci terhadap gender mereka sendiri, terutama jika mereka tumbuh dalam budaya patriarki yang mendukung nilai-nilai maskulin. Hal ini menyebabkan mereka cenderung bersikap tomboy dan lebih nyaman berteman dengan pria.
Sindrom ini dapat muncul karena perasaan harga diri yang terlalu tinggi, di mana mereka ingin terlihat unggul dan merasa mampu bersaing. Mereka meyakini diri mereka kuat dan ingin menunjukkan bahwa mereka berada di luar stereotip gender.
Editor : Candra Mega Sari