Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Hanakotoba dalam Anime Mahoutsukai no Yome (Bagian Satu): Mulai dari Poinsettia hingga Lavender, Simbol Kemurnian Hati sampai Harapan Dapat Jawaban

Erie Dewangga • Rabu, 15 Januari 2025 | 14:30 WIB

Serial anime Mahoutsukai no Yome yang kaya dengan hanakotoba.
Serial anime Mahoutsukai no Yome yang kaya dengan hanakotoba.

JawaPos.com — Serial Mahoutsukai no Yome (The Ancient Magus Bride), adaptasi anime dari manga karangan Kore Yamazaki. Selain penuh dengan keajaiban sihir, ternyata anime ini juga kaya dengan simbolisme yang hadir melalui bahasa bunga, lho!

Yuk, simak rangkaian artikel berikut yang membahas hanakotoba apa saja yang ada dalam serial Mahoutsukai no Yome atau MahoYome.

Hanakotoba: Sarana Pahami Latar Belakang dan Karakter Tokoh

Sebenarnya, sejak pada episode pertama MahoYome yang berjudul, “April Showers Bring May Flowers” atau “Hujan di Bulan April Tumbuhkan Bunga di Bulan Mei, sudah cukup banyak bunga yang dihadirkan.

Salah satunya adalah tanaman poinsettia atau Euphorbia pulcherrima, yang hadir melalui lukisan dalam bingkai di ruangan tempat di mana Hatori Chise (VA: Atsumi Tanezaki) menandatangani kontrak penyerahan dirinya sebagai objek lelang di pasar gelap para penyihir dan pegiat ilmu-ilmu magis.

Bahkan, tinta dari goresan tanda tangan si Gadis Berambut Merah belum mengering saat baris judul di atas muncul pada lanskap kota di Inggris, yang kemungkinan besar adalah London.

Mengingat kondisi mental awal Chise di momen pembukaan Mahoutsukai no Yome, pepatah itu sangat menjelaskan latar belakang si gadis dalam serial ini. Sebelum mencapai titik ketika ia menandatangani kontrak itu, Chise telah melihat dan mengalami begitu banyak hal yang menyakitkan, dan ini adalah titik balik karakternya.

Melalui hanakotoba yang digunakan secara bebas, bahkan sejak episode pertamanya, penonton akan diajak untuk pelan-pelan memahami karakter dan perkembangan Hatori Chise si Sleigh Beggy.

Poinsettia: Keberkahan dalam Kemurnian dan Kemurahan Hati

Saat Chise menandatangani kontraknya, ia dikelilingi oleh berbagai lukisan bunga. Di belakangnya tampak seperti poinsettia beserta rangkaian bunga kuning yang tidak terlalu kentara sebab tertimpa berkas sinar matahari. Di sebelah kanannya terdapat lukisan bunga lili putih dan bunga-bunga kecil berwarna merah muda, yang kemungkinan besar adalah euphorbia. Sementara, yang ada di depannya adalah lukisan ladang bunga yang tampak seperti lavender.

Poinsettia, tanaman endemik dari Meksiko ini, merupakan simbol klasik dari musim liburan; dengan daunnya yang berwarna merah cerah serta bentuknya yang menyerupai bintang, menjadikan bunga ini sebagai dekorasi favorit di rumah-rumah menjelang Natal tiba.

Dalam hanakotoba, bunga ini membawa ungkapan harapan untuk kesuksesan, hati yang membara, serta memiliki makna keberkahan dan kemurnian. Sedangkan, dalam floriografi Barat, bunga ini melambangkan keceriaan, kesuksesan, dan semangat menyambut perayaan Natal.

Selain itu, di tanah asalnya, simbolisme bunga ini jauh melampaui hubungannya dengan perayaan Natal. Dalam tradisi Meksiko, poinsettia dikenal sebagai La Flor de Nochebuena atau Bunga Malam Kudus yang melambangkan semangat untuk memberi dan keajaiban.

Baca Juga: Hanakotoba dalam Anime Houseki no Kuni (Bagian Dua): Hasu sampai Suzuhime, Lambang Buddha sampai Simbol Cinta Abadi

Frasa tersebut bermula dari legenda yang mengatakan bahwa seorang anak papa yang mempersembahkan rumput liar ke altar gereja, yang secara ajaib berubah menjadi bunga poinsettia yang indah. Kisah ini sering dibagikan selama perayaan Natal di Meksiko, sehingga menjadikan bunga ini lekat dengan pesan kerendahan hati dan kemurahan hati.

Bila memperhatikan konteks kemunculannya dalam episode pertama MahoYome, poinsettia dapat dipahami sebagai pertanda bahwa apa yang dilakukan oleh Chise bisa jadi membawa keberkahan baginya.

Pun, keadaan Chise yang sebatang kara, sama persis dengan si anak kurang beruntung dalam legenda di atas. Selain itu, pesan kerendahan dan kemurahan hati yang dibawa oleh bunga ini juga memberikan sedikit gambaran terkait perkembangan karakter Chise pada episode-episode selanjutnya, yaitu menjadi pribadi yang selalu mengulurkan tangannya kepada siapa saja yang membutuhkan.

White Lily: Kemurnian, Komitmen, dan Kelahiran Kembali

Secara umum, bunga lili putih (Lilium candidum) melambangkan komitmen, kepercayaan, dan kelahiran kembali; dalam hanakotoba, bunga ini berarti kemurnian dan kesucian; sedangkan, dalam floriografi era Victoria, bunga lili putih menyimbolkan kepolosan, kesederhanaan, dan kebajikan.

Selain menjadi bunga yang membawa makna simpati, sebab bunga ini telah menjadi bunga pemakaman sebagai cara untuk mewakili kembalinya seseorang kepada kesucian setelah kematian, shiroiyuri juga kerap dipakai sebagai buket untuk acara pernikahan karena makna komitmen yang dibawanya.

Dalam kemunculannya pada episode pertama anime The Ancient Magus’ Bride, makna bunga lili putih sejalan dengan perkembangan karakter Chise yang seolah ‘terlahir kembali’ ketika ia bertemu dengan Elias Ainsworth (VA: Ryôta Takeuchi) setelah dirinya ‘mati’ saat menyerahkan dirinya sebagai objek lelang di pasar gelap. Pun, makna kemurnian dan kesucian juga sesuai dengan kepribadian Chise yang berhati seputih warna bunga ini. Selain itu, makna komitmen juga memberikan gambaran terkait perkembangan hubungan di antara Chise dan Elias pada episode-episode selanjutnya.

Euphorbia: Kemandirian, Ketabahan, dan Sesuatu yang Berharga

Meskipun tidak seperti mawar atau lili yang lebih umum digunakan sebagai sarana mengungkapkan maksud hati, euphorbia juga memiliki bobot tersendiri dalam dunia simbolisme bunga. Dalam berbagai budaya, bunga sukulen berduri ini telah dilihat sebagai lambang ketahanan dan penyembuhan karena sifatnya yang melindungi dan meneguhkan kehidupan.

Di Jepang, tempat seni hanakotoba berkembang pesat, euphorbia dapat menunjukkan makna sesuatu yang berharga serta kekuatan dalam ketenangan. Hal ini sejalan dengan etos orang Jepang untuk menemukan keindahan dalam hal yang sederhana; sebuah filosofi yang mengangkat bahkan bunga yang paling sederhana ke status yang memiliki makna yang indah.

Selain itu, bunga ini juga membawa makna kemurnian, kemandirian, ketabahan melalui kesulitan, perlindungan, dan kebijaksanaan. Pun, euphorbia juga dapat dipakai sebagai ungkapan yang menyatakan agar seseorang janganlah berlaku kejam.

Makna-makna di atas sejalan dengan karakter serta latar belakang Hatori Chise, yang mana sudah mandiri sedari kecil (sebab dipaksa oleh keadaan) dan tabah menjalani hidupnya yang diuji oleh berbagai kesulitan.

Pun, meski selama hidupnya, mulai kanak-kanak sampai remaja, Chise selalu diperlakukan tidak baik, bisa dikatakan bahwa kehadiran bunga ini menjadi sebuah harapan agar si Gadis Berambut Merah tidak berlaku sama (atau bahkan lebih) kejam terhadap orang lain nantinya.

Lavender: Keraguan, Kesetiaan, dan Harapan

Baca Juga: Hanakotoba dalam Anime Houseki no Kuni (Bagian Satu): dari Tanpopo sebagai Simbol Harapan sampai Fuurosou yang Miliki Beragam Makna Ungkapan

Bunga terakhir dalam bagian pertama artikel ini adalah lavender (Lavandula sp.). Ada banyak pendapat tentang asal-usul nama bunga ini. Beberapa sumber mengatakan “Lavender” diambil dari bahasa Latin “Lavare” yang berarti, “Mencuci”. Sementara, sumber lain menyatakan bahwa bunga ini dinamai berdasarkan kosakata Latin lain, yaitu “Livere” yang berarti “Kebiruan”.

Terlepas dari pendapat tentang asal-usul namanya, tanaman cantik ini sekarang populer dengan nama lavender, yang dalam floriografi umum bermakna kesucian, kehalusan, keanggunan, ketenangan, keheningan, pengabdian, dan kesetiaan

Dalam hanakotoba, lavender melambangkan keheningan, harapan, ketidakpercayaan, keraguan, serta ungkapan permohonan untuk menjawab si pemberi bunga.

Sejak era Victoria, orang-orang akan mengirimkan bunga lavender kepada orang lain untuk memberi tahu pihak lain tentang komitmen dan perasaan mereka (umumnya dalam konteks hubungan platonis).

Dalam persahabatan, bunga lavender melambangkan kesetiaan. Aromanya yang abadi menandakan kesetiaan dan komitmen yang dibagikan oleh teman atau sahabat. Sama seperti aroma lavender yang tetap konstan, begitu pula keteguhan persahabatan sejati.

Aroma lavender yang menenangkan juga mencerminkan kenyamanan dan ketenangan yang diberikan teman-teman dalam kehidupan satu sama lain. Ini berfungsi sebagai pengingat akan kedamaian dan ketenangan yang dibawa oleh persahabatan sejati. Pada dasarnya, lavender dengan indah merangkum ikatan abadi dan rasa aman yang datang dengan persahabatan sejati.

Selain itu, karena aromanya yang menenangkan ini pula, sehingga tak mengherankan kalau lavender juga dikaitkan dengan pembersihan atau penyembuhan spiritual dan sering digunakan dalam berbagai produk aromaterapi.

Hanakotoba dari bunga ini sungguh melambangkan kondisi mental serta perasaan Chise pada titik terendahnya, dengan mana si Gadis Berambut Merah sudah tidak percaya lagi dengan nilai dirinya sendiri serta meragukan orang lain. Pun, dalam keraguannya yang hening, Chise tetap menyimpan sedikit harapan agar seseorang (siapapun itu) untuk menjawab permohonannya: memberi eksistensinya makna di dunia yang kejam ini.

Metafora Perayaan Atas Kelahiran Kembali Setelah Mati

Jika digabungkan dalam konteks khusus ini, hanakotoba dari bunga-bunga dalam lukisan tersebut menambah rasa tidak nyaman saat kita menonton serial Mahoutsukai no Yome, terutama bila mengingat bahwa pada adegan berikutnya memperlihatkan proses bagaimana Chise dijual di pelelangan. Adegan tersebut, secara efektif merupakan metafora dari kematian dan kelahirannya kembali. Chise dengan pasrah menandatangani perjanjian atas hidupnya tanpa mengetahui masa depannya sendiri.

Walaupun memicu perasaan tidak nyaman, dengan mana hal di atas seolah dirayakan dengan hadirnya bunga poinsettia dan lili, tetapi karena masa depannya tidak diketahui, hal ini juga tampak sebagai kematian bagi Chise.

Bunga lavender yang muncul di belakang si Juru Lelang yang menyodorkan kontrak kepada Chise adalah petunjuk terakhir bahwa si Sebatang Kara ini berada pada jalan menuju penyembuhan-nya justru ketika ia telah menyerah pada hidupnya.

(*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#MahoYome #anime #hanakotoba #manga #The Ancient Magus Bride #Mahoutsukai no Yome #bunga