JawaPos.com - Eating disorder atau gangguan makan sering diartikan sebagai kebiasaan memuntahkan makan setelah memakannya. Padahal, ada begitu banyak jenis gangguan makan dan karakteristiknya masing-masing. Eating disorder adalah serangkaian gangguan mental yang ditandai dengan pola makan yang tidak sehat atau tidak wajar. Kondisi ini dapat memberi dampak negatif bagi kesehatan fisik dan juga mental.
Tak hanya berdampak secara emosional, gangguan makan dapat mempengaruhi kemampuan tubuh untuk mendapatkan gizi yang cukup dan menghambat kehidupan sehari-hari. Jika hal ini dibiarkan dapat menimbulkan bahaya pada organ-organ tubuh seperti jantung, lambung, dan tulang. Bahkan pengidapnya juga berisiko mengalami komplikasi yang serius atau lebih parahnya akan berdampak pada kematian.
Eating disorder paling sering ditemui pada remaja dan orang dewasa. Meski demikian, baik pria maupun perempuan dari semua kelompok usia tak lepas dari risiko penyakit ini. Melansir dari laman siloamhospitals.com, ada beberapa jenis gangguan makan, antara lain:
1. Anoreksia
Anoreksia adalah gangguan makan di mana seseorang mengonsumsi makanan sangat sedikit meskipun berat badan sudah di bawah rata-rata. Gejala termasuk penurunan berat badan drastis, menyangkal rasa lapar, dan berolahraga berlebihan.
2. Bulimia
Bulimia ditandai dengan kebiasaan makan berlebihan yang diikuti dengan memuntahkan makanan untuk mencegah kenaikan berat badan. Gejala termasuk kontrol diri yang rendah saat makan dan keinginan untuk memuntahkan makanan.
Baca Juga: 11 Tips Menghadapi Anak Manja dengan Bijak: Membangun Karakter Mandiri dan Disiplin sejak Dini
3. Binge Eating Disorder
Binge eating disorder juga melibatkan makan berlebihan tanpa kompensasi. Gejala termasuk makan cepat, merasa sangat kenyang, dan malu saat makan.
Ketiga jenis gangguan makan perlu mendapatkan bantuan medis dari dokter, khususnya dokter spesialis gizi klinis untuk bimbingan pola makan sehat. Pasien juga mungkin perlu konsultasi ke psikolog. Jika anda melihat teman atau keluarga dengan gejala gangguan makan, tawarkan bantuan untuk berkonsultasi dengan ahlinya agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Penyebab dari gangguan makan tidak diketahui secara pasti, namun faktor genetik mungkin berperan penting pada kondisi ini. Beberapa orang dengan gen tertentu berisiko lebih tinggi, terutama jika ada riwayat gangguan makan dalam keluarga.
Gangguan makan juga dapat dipicu oleh kondisi psikologis dan emosional seperti rasa percaya diri rendah, sifat perfeksionis, dan hubungan bermasalah. Lingkungan sekitar juga berpengaruh, dengan tubuh langsing dianggap ideal. Faktor risiko lainnya termasuk jenis kelamin wanita, usia remaja, stres berat, gangguan mental lain, dan profesi yang menuntut tubuh ideal.
Cara pemulihan eating disorder umumnya melibatkan beberapa pendekatan yang berbeda. Mengingat dampaknya yang mempengaruhi kesehatan fisik, dibutuhkan kerja sama antara psikolog, dokter spesialis kejiwaan, dan juga ahli gizi.
Mengutip laman Hellosehat.com, berikut adalah beberapa metode pemulihan yang dapat diterapkan pada individu dengan gangguan makan.
- Psikoterapi: Membantu anda untuk mengubah kebiasaan tidak sehat menjadi kebiasaan yang sehat. Psikoterapi dapat meliputi terapi kognitif perilaku dan terapi dengan dasar keluarga yang melibatkan turun tangan orang tua.
- Rawat inap: Jika anda memiliki masalah kesehatan yang serius, seperti anoreksia dan bulmia yang menyebabkan malnutrisi, Dokter akan merekomendasikan rawat inap demi memberikan penangan yang khusu dan dapat dipantau langsung oleh dokter.
- Obat-obatan: Obat seperti antidepresan dan antikecemasan dapat membantu mengatasi gejala depresi atau gangguan kecemasan yang sering kali terkait dengan gangguan makan.