JawaPos.com - Setiap orang punya kepribadian berbeda yang dibentuk oleh berbagai karakteristik, preferensi, dan batasan pribadi. Semua aspek ini punya peran dalam membentuk kepribadian kita, meskipun tidak ada kombinasi yang bisa dikatakan benar atau salah.
Akan tetapi, ada beberapa kualitas kepribadian yang sehat yang secara ilmiah diketahui memiliki hubungan erat dengan kesejahteraan mental yang baik. Dilansir dari laman Wellandgood.com, berikut adalah ciri-ciri orang dengan kepribadian sehat yang menjadi kunci kebahagiaan dan kesejahteraan mental.
1. Terbuka terhadap Pasangan
Menolak atau menekan emosi adalah seperti mencoba melawan arus sungai. Semakin kita berupaya menahannya, semakin kuat dorongannya. Ketika kita menolak perasaan kita, kita tidak hanya mengabaikan kebutuhan emosional kita, namun juga menciptakan ketegangan batin yang dapat memicu berbagai masalah kesehatan mental.
Emosi yang terpendam mampu memanifestasikan diri dalam bentuk gejala fisik seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, atau bahkan penyakit yang lebih serius. Selain itu, penolakan terhadap emosi juga bisa menghambat pertumbuhan pribadi dan mencegah kita mencapai potensi penuh kita.
2. Terus Terang
Manipulasi, baik itu terhadap diri sendiri atau orang lain menjadi penghalang utama dalam membangun hubungan yang autentik. Ketika kita mencoba menjadi seseorang yang bukan diri kita sebenarnya atau memanipulasi orang lain demi mendapatkan apa yang kita harapkan, maka kita menciptakan jarak antara diri kita dan orang lain.
Hubungan yang dibangun di atas fondasi ketidakjujuran dan manipulasi cenderung rapuh dan tidak berkelanjutan. Dengan memilih untuk bersikap autentik, kita melepaskan diri dari beban supaya terus-menerus menjaga citra yang sempurna dan memungkinkan hubungan kita berkembang secara alami.
Baca Juga: 7 Tanda Orang Diam-Diam Merasa Kesepian Menurut Psikologi, Kenali untuk Memahami Lebih Baik
3. Kompetensi
Sebaliknya, kurangnya perasaan kompeten dapat menimbulkan berbagai masalah psikologis. Ketika kita merasa tidak mampu atau tidak cukup baik, maka kita cenderung menghindari situasi yang menantang dan menguji kemampuan kita.
Hal ini dapat menghambat pertumbuhan pribadi dan membatasi peluang kita dalam mencapai potensi penuh. Selain itu, kurangnya perasaan kompeten juga dapat memicu perasaan rendah diri, kecemasan, dan depresi.
4. Kehangatan
Kehangatan pada hubungan memberikan banyak manfaat, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain. Ketika kita merasa hangat dan terhubung dengan orang lain, kita mengalami peningkatan rasa kebahagiaan, kepuasan hidup, dan kesejahteraan umum.
Kehangatan juga dapat membantu kita mengatasi stres, mengurangi kecemasan, dan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Selain itu, kehangatan dalam hubungan bisa menciptakan lingkaran positif, di mana kehangatan yang kita berikan kepada orang lain akan kembali kepada kita dalam bentuk dukungan dan kasih sayang.
5. Emosi Positif
Hayes dengan bijak menyoroti bahwa kegembiraan seperti udara segar yang kita hirup. Ketika kita merasakan kegembiraan, kita seakan diberi ruang dalam melepaskan diri dari beban dan kekhawatiran sehari-hari. Kegembiraan ini membawa kita kembali pada sisi anak-anak dalam diri kita, di mana segala sesuatu terasa lebih ringan dan penuh keajaiban.
Sayangnya, kegembiraan juga membawa serta kerentanan. Saat kita membuka diri untuk merasakan kegembiraan, kita juga membuka diri pada kemungkinan rasa sakit atau kekecewaan di masa depan. Meski begitu, Hayes mengajak kita supaya memercayai proses hidup dan membiarkan diri kita merasakan kegembiraan sepenuhnya.
6. Tingkat Pertengkaran yang Rendah
Hayes dengan bijak mengingatkan kita bahwa kemarahan dan permusuhan merupakan racun bagi hubungan antarmanusia. Sebagai makhluk sosial, kita mempunyai hasrat alami untuk terhubung dan menjalin ikatan dengan orang lain.
Namun, kemarahan dan permusuhan justru menciptakan dinding penghalang yang memisahkan kita. Saat kita membiarkan kemarahan menguasai diri, kondisi ini membuat kita tidak hanya merusak hubungan dengan orang lain, tetapi juga mengisolasi diri kita sendiri.
7. Kecemasan Rendah
Hayes dengan cermat mengungkapkan bahwa apabila kecemasan berada dalam tingkat yang wajar dan terkendali, punya peran yang sangat penting sebagai mekanisme perlindungan diri. Kecemasan dapat berfungsi sebagai semacam sinyal peringatan atau alarm internal yang memberi tahu kita bahwa ada elemen tertentu dalam situasi yang membutuhkan perhatian ekstra atau kewaspadaan lebih.
Dalam hal ini, kecemasan tidak selalu dianggap negatif, melainkan bisa berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kewaspadaan kita terhadap potensi risiko atau tantangan. Perasaan cemas ini dapat mendorong kita agar lebih berhati-hati, berpikir lebih jernih, dan membuat keputusan yang lebih bijak saat menghadapi situasi yang memerlukan pertimbangan matang.
8. Depresi Rendah
Hayes dengan sangat tepat mengemukakan bahwa fleksibilitas mental atau pikiran adalah salah satu indikator penting dari kesehatan psikologis yang baik. Ketika kita punya fleksibilitas dalam cara berpikir, kita tidak hanya dapat melihat suatu situasi dari berbagai perspektif, tetapi juga bisa menangkap dan memahami berbagai lapisan dan kompleksitas yang mungkin ada dalam situasi tersebut.
Fleksibilitas pikiran memungkinkan kita menghindari pola pikir yang kaku dan terbatas. Secara lebih luas, kemampuan ini membantu kita beradaptasi dengan perubahan dalam hidup. Dengan pikiran yang terbuka, kita lebih siap menghadapi tantangan, menyelesaikan masalah secara kreatif, dan merespon berbagai situasi dengan lebih efektif tanpa terhambat pandangan sempit.
9. Kerentanan terhadap Stres Rendah
Orang yang tangguh memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengatasi stres. Mereka tidak hanya mampu bertahan dalam situasi yang sulit, akan tetapi juga mampu belajar dan tumbuh dari pengalaman tersebut.
Mereka lebih bijaksana dalam memilih stres mana yang perlu mereka hadapi dan mana yang mampu mereka abaikan. Selain itu, mereka juga lebih mampu mengendalikan emosi dan pikiran mereka, sehingga tidak mudah terbawa oleh perasaan negatif.
10. Impulsivitas Rendah
Impulsivitas umumnya dihubungkan dengan kebutuhan untuk mencari kepuasan segera dari sumber di luar diri sendiri. Misalnya, seseorang yang impulsif mungkin cenderung bergantung pada makanan, belanja, atau hubungan guna mengisi kekosongan emosional.
Sebaliknya, orang yang kurang impulsif cenderung lebih mampu menemukan kepuasan dari dalam diri mereka sendiri dan mempunyai sumber daya internal yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan pada kehidupannya.
Baca Juga: Tujuh Tanda Anak Dibully di Sekolah Menurut Psikologi, Jangan Abaikan Sinyal-Sinyal Ini!
Editor : Candra Mega Sari