JawaPos.com - Selama berada di bawah naungan studio Kyoto Animation, sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap karya Naoko Yamada selalu menggunakan hanakotoba. Pun, setelah pindah ke studio Science Saru, tradisi ini tetap ia pertahankan dalam serial anime perdananya, Heike Monogatari, sebuah adaptasi dari kisah epik Jepang yang kaya akan simbolisme bunga.
Bahkan dalam adegan pembuka serial anime fiksi-historis ini, Naoko Yamada sudah menggunakan bunga dengan cara yang berbeda dari karya-karyanya sebelumnya. Yuk, simak ulasan berikut yang membahas hanakotoba dari bebungaan dalam serial Heike Monogatari.
Azalea: Rapuhnya Hidup yang Cepat Berlalu serta Keluhuran Budi
Azalea (Rhododendron sp.), bunga cantik dengan kelopak halus dan warna-warni cerah nan semarak ini telah memikat hati siapa saja, khususnya para penggemar bunga di seluruh dunia. Namun di balik keindahannya, bunga azalea memiliki hanakotoba yang cukup dalam; emosi serta perasaan tersembunyi yang menunggu untuk diungkap.
Dalam kebudayaan Jepang, azalea memainkan peran penting, yaitu kehadiran bunga-bunga ini di taman-taman melambangkan harmoni, keanggunan, dan keindahan hidup yang cepat berlalu.
Bunga ini miliki sejarah dan makna kultural yang kaya, dan miliki arti yang terkait dengan moderasi, kesederhanaan, gairah, hasrat, kemewahan, kelimpahan, kerinduan, kerapuhan, kesederhanaan, ketahanan, kegigihan, dan aura feminin.
Meskipun azalea memiliki hanakotoba yang lebih menyanjung, seperti penghormatan terhadap perempuan, keanggunan, kelembutan, harmoni, dan waktu yang berlalu, tetapi bunga ini juga dapat diartikan sebagai dukungan agar siapapun tetap gigih mengatasi segala tantangan, pengingat untuk menghargai keindahan dan ketidak-kekalan dalam hidup serta mengirimkan pesan pemantangan atau peringatan kepada mereka yang bertindak berlebihan.
Bunga azalea ungu muncul bersama dengan seruling milik Shigemori pada sekuen lagu tema pembuka serial anime Heike Monogatari, yang berjudul Hikaru Toki yang dibawakan oleh Hitsujibungaku, yang mana dalam bahasa bunga membawa makna kebangsawanan dan budi luhur atau mulia, dengan mana hanakotoba tersebut sangatlah berkaitan dengan pribadi si sulung klan Taira.
Sal Tree Flower: Pohon Suci yang Jadi Simbol Ketidak-kekalan dalam Hidup
Bunga-bunga pohon sal merupakan objek fisik dan spiritual yang lebih nyata dalam dunia Heike Monogatari daripada bahasa visual yang muncul bersamaan seperti yang terlihat dalam Koe no Katachi, Liz to Aoi Tori, atau bahkan episode 5 dari Violet Evergarden karya Naoko Yamada.
Bunga pohon sal atau sala (Shorea robusta) muncul pada episode pertama Heike Monogatari secara sekilas dengan adanya kilatan filter merah yang terdistorsi di atasnya. Filter visual ini juga dilakukan pada kupu-kupu yang muncul di adegan pembuka. Selain itu, pohon sala juga hadir melalui narasi yang dibawakan oleh Biwa, yang menandakan kejatuhan trah Heike itu sendiri.
Pohon sala adalah pohon suci dalam agama Buddha, yang melambangkan ketidakkekalan hidup dan berlalunya kemuliaan dengan cepat karena bunga itu mekar dan gugur dalam sekejap. Heike Monogatari adalah kisah epik yang mengikuti kebangkitan dan kejatuhan trah Heike, dan bunga-bunga ini membingkai seluruh cerita mereka bersama dengan baris, "Warna bunga sala mengungkapkan kebenaran bahwa yang makmur pasti merosot."
Baris narasi tersebut dengan sendirinya memparafrasekan baris yang juga ada dalam Sutra Raja Kemanusiaan Buddha, yang berbunyi, "Yang makmur pasti merosot, yang penuh pasti hampa."
Red Camelia: Simbol Kebangsawanan, Gairah, dan Kematian yang Mulia
Bunga ini hadir secara singkat saat Shigemori mengingat kembali kisah Taira no Tadamori dan bagaimana, meskipun menjadi seorang pejuang, ia diterima di istana dan mengintimidasi para penentang dengan pedang bambu berlapis perak.
Bunga kamelia merah populer di kalangan bangsawan Jepang, terutama selama periode Edo, dan dalam hanakotoba berarti mati dengan anggun atau jatuh cinta. Arti sebelumnya berlaku khususnya bagi para kaum bangsawan samurai, yang melambangkan kematian yang mulia. Ada yang mengatakan makna tersebut muncul karena melihat cara bunga kamelia yang layaknya 'memenggal kepala mereka sendiri' saat jatuh ke tanah. Bunga kamelia merah muncul beberapa kali dalam sepanjang serial anime ini, dan sering kali tertutup salju atau sebagai hiasan di dalam rumah.
Yatsude: Lambang Keberuntungan yang Tak Berhingga
Bunga bernama ilmiah Fatsia japonica yang biasa ditanam orang-orang Jepang di depan rumahnya ini juga dikenal sebagai yatsude (八つ手; delapan jari), oni no te ( 鬼の手; Tangan Iblis), atau tengu no uchiwa (天狗の羽内輪;Kipas Tengu), dan sering kali dimaknai sebagai jimat pengusir gangguan roh-roh jahat.
Orang-orang mungkin mengira tanaman ini dinamai yatsude atau delapan jari sebab huruf kanji yang membentuk namanya berasal dari karakter 'delapan' dan 'tangan', atau daunnya berjumlah delapan. Namun, sebenarnya tanaman ini tidak pernah memiliki daun berjumlah delapan jari, selalu tujuh atau sembilan. Lantas, kenapa tanaman ini dinamai demikian?
Hal tersebut karena karakter hachi (八), yang berarti delapan, dalam kasus ini juga digunakan untuk makna luas atau tak terbatas, yang mana sesuatu yang ditandai dengan bentuk huruf Kanji itu sendiri yang seolah melebar menuju tak hingga. Delapan dianggap sebagai angka keberuntungan di Jepang. Angka ini memberikan gambaran tentang pertumbuhan kemakmuran karena huruf Jepang delapan melebar secara bertahap.
Tanaman ini muncul pertama kali saat Tadamori berbincang dengan Shigemori dan hendak membebankan tampuk kepemimpinan klan kepadanya; juga ketika Shigemori berjumpa pertama kalinya dengan Biwa, tanaman ini bersanding dengan bunga daffodil di bawah guyuran salju.
Daffodil: Keberuntungan, Harapan, serta Rasa Hormat
Bunga daffodil putih atau narcissus poeticus muncul saat Biwa bertemu Shigemori untuk pertama kalinya dan Shigemori melihat apa yang dilakukan keluarganya kepada ayah si gadis.
Sebagai bunga penanda datangnya musim semi, dalam floriografi, bunga daffodil bermakna kelahiran kembali serta harapan. Selain itu, bunga ini juga memiliki arti ketahanan, karena bunga ini merupakan bunga kecil yang kuat yang berhasil bertahan hidup sepanjang musim dingin. Sedangkan dalam budaya Tiongkok, bunga ini diyakini melambangkan keberuntungan, kemakmuran, dan nasib baik.
Umumnya bunga daffodil dipandang sebagai simbol pembaharuan karena bunga ini merupakan salah satu bunga pertama yang tumbuh di musim semi saat masih ada salju di tanah, pertanda bahwa musim semi akan tiba.
Di Jepang, bunga daffodil dikenal sebagai "sahabat salju" bersama dengan bunga-bunga lain seperti bunga kamelia dan bunga plum, yang menandakan datangnya musim semi. Di atas segalanya, bunga daffodil dalam bahasa Jepang hanakotoba berarti rasa hormat, yang merupakan bunga menarik untuk ditaruh di antara Biwa dan Shigemori selama pertemuan pertama mereka.
Narcissi: Kesungguhan, Kesetiaan, dan Niat Tulus
Bunga ini muncul dengan latar belakang griya miliki klan Taira kala musim salju.
Sebenarnya cukup membingungkan dengan mana semua bunga daffodil adalah anggota famili tanaman narcissus; pun, daffodil adalah nama resmi untuk semua tanaman dalam famili narcissus. Sehingga pada dasarnya, jika suatu tanaman dianggap sebagai narcissus, maka tanaman itu juga akan dianggap sebagai bunga daffodil.
Bunga narsisis putih, membawa hanakotoba yang mewujudkan gagasan tentang kesungguhan, dan kepolosan. Bunga ini juga berdiri sebagai lambang harapan, kesetiaan, dan cinta tanpa syarat. Selain itu, bunga ini juga melambangkan niat yang tulus dan dimulainya perjalanan baru.
Holly: Simbol Keluarga yang Baik
Holly disebut hiiragi atau nanten dalam bahasa Jepang dan cukup membawa keberuntungan. Daunnya yang berduri dipercaya dapat mengusir oni dan menjauhkan berbagai macam gangguan. Tanaman ini merupakan tumbuhan bersemak penghasil buah beri merah yang dikenal juga sebagai nandina atau bambu surgawi.
Nama nanten terdiri dari dua karakter; yang pertama berarti "selatan (南)," yang kedua "surga (天)." Namun, kata yang sama dengan Kanji yang berbeda dapat berarti lain, yaitu "kesulitan (難)" dan "berguling (転)."
Tumbuhan ini memiliki hanakotoba yang melambangkan keluarga yang baik yang berasal dari buah-buahnya yang melimpah; yang ditafsirkan sebagai simbol kemakmuran bagi keturunan siapa saja.
Pada Hari Tahun Baru, tanaman ini dianggap layaknya pohon keberuntungan untuk menangkal malapetaka.
Tanaman ini berulang kali muncul dalam serial Heike Monogatari, beberapa hadir di dalam lingkungan griya klan Taira dan sepertinya mencoba untuk mengungkapkan beberapa kebaikan yang ada di antara anggotanya dan menjadi penanda dari kesulitan dan kejatuhan Heike kelak.
Plum: Harapan dan Pembaruan
Dalam hanakotoba, bunga plum sering dikaitkan dengan ketahanan dan kegigihan. Karena bunga ini mekar di musim dingin, bunga ini menjadi simbol harapan dan pembaruan, muncul dari kegelapan musim dingin untuk menandakan datangnya musim semi. Bunga ini menjadi pengingat bahwa bahkan dalam kondisi yang paling keras sekalipun, kehidupan masih dapat berkembang.
Sakura: Ketidakkekalan dalam Hidup
Bunga selanjutnya adalah sakura. Bunga sakura (Prunus serrulata) merupakan tanaman asli Jepang dan telah dibudidayakan di sana selama lebih dari seribu tahun dan memiliki sejarah yang panjang dalam budaya di sana. Bunga Sakura memiliki identitas yang kuat karena mewakili pemerintahan Jepang, bahkan sejak zaman Nara.
Dikaitkan dengan musim ketika berbagai kehidupan bangkit dari dinginnya salju, sakura juga menjadi lambang dari pembaruan, kegembiraan, dan harapan.
Seperti yang diharapkan dari bunga yang begitu cantik, sakura memiliki dua makna yang menyentuh hati, yaitu jiwa yang indah dan wanita yang menawan. Sebagai lambang sejati Negara Matahari Terbit, bunga sakura melambangkan ketidakkekalan berbagai hal sekaligus keindahan masa kini.
Banyak serial anime dan manga yang menggunakan bunga sakura untuk mengekspresikan keindahan serta kesedihan dari momen yang cepat berlalu. Sebab bunganya juga mencerminkan siklus kehidupan. Bunganya memancarkan kecemerlangan yang luar biasa yang cepat berlalu saat layu setelah mekar selama lima belas hari, mengingatkan semua manusia akan akhir hidup mereka. Jadi, bunga sakura juga bisa dijadikan ungkapan yang mengundang siapa pun untuk menikmati hidup.
Beberapa orang mungkin berpikir bahwa sakura dapat berarti ungkapkan untuk tidak melupakan seseorang yang berharga. Makna tersebut muncul karena ketika bunga ini jatuh, mereka melakukannya secara cukup sentimental, seolah-olah tampak enggan berpisah dengan rantingnya. Meskipun demikian, bunga sakura masih menjadi hadiah yang sangat populer dan akan sangat dihargai pada kesempatan apa pun, karena sebagian besar orang Jepang mengasosiasikan bunga sakura dengan kenangan indah.
Dalam hal ini, bunga sakura melambangkan berbagai konsep, termasuk sifat kehidupan yang cepat berlalu dan segala sesuatunya akan berubah pada akhirnya. Hal ini karena rata-rata, dibutuhkan waktu seminggu bagi pohon bunga sakura untuk mekar sebelum kelopaknya jatuh ke tanah tanpa bisa dihindari. Selama rentang waktu yang singkat ini, orang-orang berbondong-bondong mendatangi taman-taman untuk melakukan tradisi Hanami dan memberi apresiasi atas ketidakmampuan manusia untuk memahami keindahan yang fana yang ditemukan dalam segala hal. Bagaimanapun, alam yang fanalah yang memberi makna, bukan objek atau makhluk yang dimaksud.
Bunga ini juga sering kali muncul dalam adegan-adegan tertentu di sepanjang serial Heike Monogatari. Salah satunya adalah ketika Biwa dan Koremori duduk bersama di bawah bunga sakura. Adegan ini menjadi transisi waktu dari kedatangan Biwa ke adegan berikutnya di mana Biwa dan Shigemori duduk dan mengamati kunang-kunang di malam hari, mungkin di musim panas. Bunga sakura, seperti bunga pohon sal, menggambarkan sifat kehidupan yang sementara dan tidak kekal karena alasan yang sama: bunga ini mekar dengan cepat, indah, dan cepat mati.
Editor : Candra Mega Sari