JawaPos.com - Siapa bilang belajar sejarah itu membosankan? Yuk, simak artikel ini yang mengulas serial animasi Heike Monogatari, salah satu karya dari sutradara Naoko Yamada yang akan mengajak anda mempelajari salah satu mata rantai terpenting dalam sejarah Jepang.
Serial Anime dari Hikayat Heike, Sebuah Pengingat untuk Masa Depan
Diproduksi di bawah naungan Studio Science Saru, dan disutradarai oleh Naoko Yamada (K-ON!, Tamako Love Story, Koe no Katachi, Liz to Aoi Tori, Garden of Remembrance, dan Kimi no Iro), Heike Monogatari atau Heike Story adalah sebuah film animasi historikal-fiksi yang mengadaptasi novel karangan Hideo Furukawa, versi yang (jauh) lebih modern dari epos Hikayat Genji yang tersebar melalui tradisi lisan, yang dikemas dengan begitu sublim dan emosional.
Tradisi lisan, yang menyebar dalam bentuk folklore, adalah salah satu bentuk ekspresi kreatif tertua yang telah menyertai nenek moyang manusia dari generasi ke generasi, dari para penghayat kepercayaan, yang dengan cermat menyanyikan langkah-langkah ritual suci, hingga para pedagang yang bertukar cerita mistis bersama barang-barang mereka di jalur sutra.
Sejarah tradisi lisan dari epos ini bermula pada periode Muromachi (1340-an), ketika Akashi Kakuichi, seorang biksu Buddha Jepang, menatap para anggota aristokrasi saat ia membacakan kisah Heike Monogatari, diiringi oleh para pemain alat musik berdawai bernama biwa. Meskipun buta, ia mendapatkan kembali penglihatannya untuk sementara saat ia berenang melalui ingatannya yang cepat berlalu untuk menyatukan cerita yang disampaikan kepadanya oleh orang-orang asing di jalan, menciptakan kolase dengan sisa-sisa dunia yang penuh warna yang masih ia pegang teguh.
Versi Heike Monogatari karya Kakuichi dikembangkan secara lisan beberapa kali sebelum diabadikan dalam bentuk susastra yang kemudian jadi versi paling populer dari kisah epik sejarah setelah persaingan antara dua klan kerajaan, Taira dan Minamoto, selama perang Genpei abad ke-12 di Jepang. Hampir tujuh puluh dekade kemudian, ceritanya tetap tidak berubah, tetapi metode penyampaiannya telah bergeser dari ketergantungan pada mulut dan cerita menjadi tangan dan animasi.
Baca Juga: Hanakotoba dalam Anime Violet Evergarden (Bagian Satu): Tokoh-Tokoh Ini Punya Nama dengan Unsur Bunga yang Miliki Makna Menawan
Plot dari serial animasi yang mengadaptasi hikayat Heike yang diarahkan oleh Naoko Yamada ini bermula ketika ada seorang gadis muda, yang dikaruniai mata yang memungkinkannya melihat masa depan, yang dengan bodohnya mencela tindakan klan Heike dan membuat sang Ayah yang buta harus membayar tindakan tersebut dengan nyawanya.
Segera setelah itu, seperti yang telah ditakdirkan, Taira no Shigemori, putra tertua dari pemimpin klan Taira bertemu dengan gadis malang yang sama, yang sekarang menyebut dirinya "Biwa" yang memberi tahunya bahwa kejatuhan Heike sudah dekat. Setelah mengetahui ketidakadilan besar yang dialami Biwa di tangan Heike, Shigemori bersumpah untuk menerima dan merawat gadis itu daripada membiarkannya terbunuh.
Pada era ketika ketegangan militer kian memanas, klan Heike berada di tengah-tengah perebutan kekuasaan yang licik dan perang berdarah yang sudah di depan mata. Shigemori, yang matanya memungkinkan dia melihat roh orang mati, merasa cemas sekaligus berharap dapat mencegah kehancuran klannya. Namun, Biwa enggan mengungkapkan masa depan kepadanya dan harus beradaptasi dengan kehidupan barunya yang dikelilingi beragam suka-duka dalam bab-bab penting pada sepenggal sejarah Jepang ini.
Heike Monogatari, merupakan pengingat bahwa semua yang berkembang pasti akan jatuh tak ubahnya bunyi lonceng di kuil Jetavana yang menandakan berlalunya segala hal dalam kehidupan.
Biwa yang mampu melihat masa depan bagaikan aliran air yang hening dan tak ubahnya senar-senar pada alat musiknya, menganggap kelebihan tersebut tak ubahnya belenggu. Sebab, dengan melihat masa yang akan datang, maka ia pun 'buta' terhadap masa kini. Tak peduli sekeras apapun ia berusaha untuk mengubah takdir kehancuran trah Heike, Biwa terus dihadapkan pada jalan buntu. Tak ada yang yang bisa gadis itu perbuat, sebab kejatuhan Heike tak ubahnya karma dari Yang Maha Kuasa atas kerakusan, ketamakan, dan keserakahan anggota keluarga mereka sendiri.
Menonton anime ini, anda akan diajak untuk 'membaca' salah satu epik paling ikonik dari Jepang yang menceritakan sejarah klan Heike dan Perang Genpei (1180-1185). Selain itu anda juga akan menemu banyak hikmah penting dari kisah para anggota klan Heike yang diceritakan oleh Biwa dengan nada pedih nan menyayat hati.
Naoko Yamada: Akhir dari Era Lama atau Awal untuk Era Baru?
Tidak ada yang lebih menarik daripada karya sastra Jepang paling terkenal, bahkan sampai sekarang, yaitu Heike Monogatari, yang dipercayakan kepada seorang perempuan muda yang memiliki klaim kuat atas gelar sutradara paling cemerlang pada eranya.
Sutradara Naoko Yamada menghadapi tantangan terbesar dalam karier profesionalnya setelah ia meninggalkan Studio Kyoto Animation sebab tragedi serangan arsonis di studio yang membesarkannya tersebut pada Juli 2019. Dia tidak hanya menjauh dari jejaring pengaman terbaik yang ada dalam industri ini karena alasan yang tragis, tetapi ia juga harus menangani narasi yang sangat padat; narasi yang akan membuat sutradara yang paling efisien sekalipun menggigil, apalagi seseorang seperti dia yang lebih suka membatasi dialog dan narasi eksplisit, meminjamkan kanvasnya pada suara hati karakter sebagai gantinya.
Seolah itu belum cukup, rentang pra-produksi yang terkendala banyak hal dan juga fakta bahwa Naoko Yamada menolak untuk berkompromi dengan gayanya juga menjadi jalan terjal bagi sang sutradara beradaptasi, tentu mengundurkan diri, jangan pernah. Bukan Naoko Yamada namanya bila tidak memasukkan ciri khasnya sebagai sutradara anime.
Hanya butuh satu kesempatan bagi Heike Monogatari untuk menunjukkan bahwa kelembutan dan pengomposisian halus ala Naoko Yamada akan tetap ada, bahkan di lingkungan yang jauh lebih sulit untuk melakukannya. Pembingkaiannya yang halus dan sublim tetap sama persis sebagaimana yang biasa ia lakukan, dan obsesi-nya yang membara dengan hanakotoba dan bahasa tubuh, terutama aspek-aspek seperti gerakan-gerakan kecil dari jari-jemari tangan dan kaki, pun melalui ekspresi kecil yang muncul pada wajah para tokoh, tak pernah luntur.
Penggunaan bahasa bunga yang terang-terangan dilakukan oleh Naoko Yamada dalam serial Heike Monogatari ini, seperti kemunculan bunga kamelia, sakura, daffodil, dan lain-lain pada adegan tertentu, tidak hanya menarik secara artistik tetapi juga berfungsi untuk mendorong konstruksi citra historis pertunjukan ke latar depan dengan cara yang mencerminkan inti tematik cerita.
Tentu saja, pencapaian tekstur impresionistis ini menciptakan hubungan yang menegangkan dengan pengejaran pribadi Yamada terhadap "realisme" fotogramatik, ruang hidup, dan naturalisme gestural.
Melalui gaya arahan-nya yang familiar, Naoko Yamada menghindari isu-isu cerita yang terlampau padat serta menunjukkan segala hal di permukaan, dan lebih mengutamakan kejelasan emosional daripada kejelasan naratif; yang berarti bahwa bahkan jika anda tidak memiliki pengetahuan sama sekali untuk mengikuti semua plot cerita berlatar Jepang pada era feodal, anda masih bisa untuk tetap menikmati kisah tersebut, asalkan anda mau untuk memperhatikan sampai detail-detail terkecil yang ada dalam serial Heike Monogatari.
Meskipun antusiasme orang-orang pada awalnya tidak begitu ramai, tapi banyak yang tidak ragu untuk mengikuti serial anime Heike Monogatari, baik secara apa adanya sebagai sebuah anime pada umumnya; pun sebagai apa yang diwakilinya, yaitu sebuah karya penting sinema animasi yang menandai awal baru dalam karier sutradara Naoko Yamada.
Untuk itu, komunitas sakuga telah mulai menganalisis signifikansi keluarnya Naoko Yamada dari Studio Kyoto Animation mengingat ketidakmampuan industri luar untuk mewujudkan filosofi animasi naturalistiknya dengan tingkat konsistensi apa pun.
Namun, meskipun realitas kompleks dari produksi anime ini tentu saja layak mendapat perhatian kritis, yang paling menarik adalah tentang bagaimana cara Heike Monogatari menggunakan media sinema animasi untuk menyajikan kepada penonton gambaran hidup dari sejarah itu sendiri.
Di permukaan, Heike Monogatari tidak diragukan lagi merupakan karya Naoko Yamada yang paling terlibat secara konseptual, berani secara visual, dan matang secara tematis. Serial fiksi-sejarah ini memperluas eksperimen formal tersebut dengan mengarahkannya ke dalam, yang mana penyimpangan ini tidak menonjol dari norma industri, tetapi dari karya Naoko Yamada lainnya; yang paling menonjol adalah anime ini menghindari idealisasi figuratif demi gaya ekspresionistis.
Namun, hasil akhirnya jelas-jelas diresapi oleh motif dan kepekaan ikonik sang sutradara. Fokus yang disebutkan sebelumnya pada akting tokoh yang naturalistik, penggunaan kedalaman bidang bokeh yang estetis, drama yang disuling secara temporal, dan sebagainya, semuanya merupakan ciri khas dari Naoko Yamada.
Oleh karena itu, Heike Monogatari dapat dilihat tidak hanya sebagai studi kasus ilustratif tentang penentuan bersama material dari konteks kreatif dan penciptaan dari sang kreator, dengan mana hal itu juga akan mengubah cara para penggemar dalam memandang seluruh karya Naoko Yamada. Serial ini adalah penceritaan ulang, adaptasi transformatif yang mengangkat tema makna, peran, dan asal usul sejarahnya sendiri dengan menceritakan kisah tentang cara penceritaan yang memungkinkan penggambaran dan pencitraan ulang sejarah. Dengan menyajikan kembali kisah klasik dalam bentuk sinema animasi, anime ini mengaitkan cara penyajiannya sendiri dengan tujuannya, yaitu penghidupan kembali citra sejarah.
Melalui cara yang tidak biasa seperti mencangkokkan teknik, motif, dan fokus yang berulang ke dalam paradigma yang baru dan sangat berbeda, Heike Monogatari menawarkan dasar yang unik untuk memahai perspektif baru tentang pendekatan tunggal sutradara terhadap penceritaan sinematiknya.
Editor : Candra Mega Sari