Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Hanakotoba dalam Anime Koe no Katachi (Bagian Tiga): Bunga Sakura dan Sifat Fana dari Berbagai Hal dalam Kehidupan

Erie Dewangga • Kamis, 12 Desember 2024 | 14:30 WIB
Naoko Yamada selalu hadirkan elemen bunga serta hanakotoba dalam setiap film dan serial animasi garapannya
Naoko Yamada selalu hadirkan elemen bunga serta hanakotoba dalam setiap film dan serial animasi garapannya

JawaPos.com - Selama menjadi sutradara di studio Kyoto Animation, telah diketahui bahwa setiap karya animasi yang diarahkan oleh Naoko Yamada selalu terselip hanakotoba atau bahasa bunga dalam kapasitas tertentu. Hal itu dikarenakan bagi sutradara film animasi Koe no Katachi atau A Silent Voice ini, "Orang yang mengerti bahasa bunga akan mampu menafsirkan perasaan serta pesan-pesan tersirat yang tak mampu terungkapkan melalui kata-kata."

Pada bagian ketiga dan terakhir dari artikel tentang hanakotoba dalam film animasi Koe no Katachi ini, mari simak pembahasan perihal makna bunga sakura yang berperan besar sebagai sarana Naoko Yamada mengungkapkan hubungan Shōya Ishida dan Shōko Nishimiya.

Makna dari Kehadiran Bunga Sakura dalam Kebudayaan Jepang

Bunga sakura (Prunus serrulata) merupakan tanaman asli Jepang dan telah dibudidayakan di sana selama lebih dari seribu tahun dan memiliki sejarah yang panjang dalam budaya di sana. Bunga Sakura memiliki identitas yang kuat karena mewakili pemerintahan Jepang, bahkan sejak zaman Nara.

Bunga sakura memiliki tempat yang spesial dalam budaya Jepang, dan bahkan dirayakan dengan semarak setiap tahun-nya selama festival Hanami atau tradisi menyambut musim semi dengan melihat bunga-bunga mekar (biasanya sakura atau plum). Dengan bunganya yang berwarna putih atau merah muda dan aroma yang lembut, bunga ini biasanya mekar dari bulan April hingga Mei, tergantung pada spesiesnya.

Karena tempatnya yang tak tergantikan dalam kebudayaan Jepang, bunga sakura selalu ada dan hadir dalam banyak hal yang ada di negeri ini, mulai dari sastra, fesyen, sampai dengan budaya pop seperti anime, manga, dorama, musik video, dan lain-lain; dari sekadar hiasan latar belakang hingga menjadi premis utama dan menjadi bagian dari judul, seperti pada manga karangan Akari Shinohara, 5 Centimeters per Second, yang diadaptasi menjadi sebuah film animasi oleh Makoto Shinkai, dengan adanya fakta bahwa "Kecepatan kelopak bunga sakura yang jatuh ialah lima sentimeter per detik."

Pun, dalam anime, manga, atau dorama dan film, bunga ini biasanya terlihat tumbuh di dekat sekolah-sekolah, dan sering dianggap menandakan awal yang baru, sebab tahun ajaran baru di Jepang dimulai pada bulan April (bersamaan dengan waktu mekarnya bunga ini di musim semi). Dikaitkan dengan musim ketika berbagai kehidupan bangkit dari dinginnya salju, sakura juga menjadi lambang dari pembaruan, kegembiraan, dan harapan.

Baca Juga: Hanakotoba dalam Anime Koe no Katachi (Bagian Satu): Dari Kembang Api yang Tak Kekal Sampai Cyclamen yang Bermakna Selamat Tinggal

Seperti yang diharapkan dari bunga yang begitu cantik, sakura memiliki dua makna yang menyentuh hati, yaitu jiwa yang indah dan wanita yang menawan. Namun, ada banyak jenis bunga sakura di luar sana, dan masing-masing memiliki makna yang berbeda. Berikut adalah beberapa jenis umum dan hanakotoba-nya: Someiyoshinozakura melambangkan kesucian sangat cantik; Shidarezakura bermakna elegan, tetapi juga menipu; dan Yaezakura berarti terpelajar serta berbudaya

Sebagai lambang sejati Negara Matahari Terbit, bunga sakura melambangkan ketidakkekalan berbagai hal sekaligus keindahan masa kini.

Banyak serial anime dan manga yang menggunakan bunga sakura untuk mengekspresikan keindahan serta kesedihan dari momen yang cepat berlalu. Sebab bunganya juga mencerminkan siklus kehidupan. Bunganya memancarkan kecemerlangan yang luar biasa yang cepat berlalu saat layu setelah mekar selama lima belas hari, mengingatkan semua manusia akan akhir hidup mereka. Jadi, bunga sakura juga bisa dijadikan ungkapan yang mengundang siapa pun untuk menikmati hidup.

Beberapa orang mungkin berpikir bahwa sakura dapat berarti ungkapkan untuk tidak melupakan seseorang yang berharga. Makna tersebut muncul karena ketika bunga ini jatuh, mereka melakukannya secara cukup sentimental, seolah-olah tampak enggan berpisah dengan rantingnya. Meskipun demikian, bunga sakura masih menjadi hadiah yang sangat populer dan akan sangat dihargai pada kesempatan apa pun, karena sebagian besar orang Jepang mengasosiasikan bunga sakura dengan kenangan indah.

Dalam hal ini, bunga sakura melambangkan berbagai konsep, termasuk sifat kehidupan yang cepat berlalu dan segala sesuatunya akan berubah pada akhirnya. Hal ini karena rata-rata, dibutuhkan waktu seminggu bagi pohon bunga sakura untuk mekar sebelum kelopaknya jatuh ke tanah tanpa bisa dihindari. Selama rentang waktu yang singkat ini, orang-orang berbondong-bondong mendatangi taman-taman untuk melakukan tradisi Hanami dan memberi apresiasi atas ketidakmampuan manusia untuk memahami keindahan yang fana yang ditemukan dalam segala hal. Bagaimanapun, alam yang fanalah yang memberi makna, bukan objek atau makhluk yang dimaksud.

Gagasan tersebut terangkum dalam konsep mono no aware, yaitu perasaan yang anda dapatkan saat menghargai keindahan bunga sakura tetapi juga sedih karena tahu bahwa bunga itu akan segera layu.

Dalam konsep mono no aware, bunga sakura dikatakan merepresentasikan keindahan yang langka dan sementara yang mewujudkan kepekaan, kesedihan, atau sedikit kesedihan atas ketidakkekalan dari semua hal dalam hidup. Konsep yang telah eksis dalam karya-karya susastra sejak periode Heian ini bahkan dimasukkan ke dalam leksikon budaya oleh studi sarjana sastra Motoori Norinaga tentang Hikayat Genji.

Sakura: Keindahan dari Sifat Fana dalam Segala Aspek Kehidupan

Hanami, atau kebiasaan menikmati keindahan bunga sakura dan terkadang plum yang disebutkan di atas, juga berperan besar sebagai sarana sutradara Naoko Yamada menyampaikan pesan-pesan yang sublim dalam adaptasi film animasi Koe no Katachi.

Shōko Nishimiya dan Shōya Ishida tidak bermaksud untuk pergi piknik untuk melihat bunga sakura bersama, tetapi sebenarnya mereka berdua pergi untuk makan roti bersama di atas jembatan yang melintasi sebuah sungai, lalu memberi makan ikan-ikan yang ada di sana. Jembatan tersebut pertama kali dibingkai oleh bunga sakura selama masa ketika keduanya pertama kali berdamai setelah perkenalan awal mereka yang dipaksakan Shōya sebelum upaya bunuh dirinya.

Memang lebih mudah untuk memahami sifat hubungan mereka yang goyah itu berakar pada kesalahan masa lalu daripada sifat bunga sakura yang fana dan berlalu dengan cepat. Namun, meski demikian hubungan Shōya dan Shōko pada akhirnya menjadi semakin kuat karena kesulitan demi kesulitan yang harus dihadapi kedua tokoh ini.

Meskipun tampaknya hampir terkesan tidak berperasaan untuk mengatakan-nya, tapi untuk memiliki hubungan yang lebih kuat, mereka perlu mengatasi ketidakmampuan mereka untuk berkomunikasi sebagai hasil dari penindasan yang dilakukan oleh Shōya.

Melalui Koe no Katachi, Naoko Yamada menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa perjuangan mereka itu perlu sebab tidak ada orang yang "baik" atau "jahat" dalam film ini, yang ada hanya sekelompok tokoh yang tidak sempurna yang semuanya gagal untuk berhubungan dan memahami satu sama lain, terlepas dari apakah mereka dilahirkan dengan kelebihan pendengaran atau tidak. Hubungan, seperti kebanyakan hal lain, yang mana disimbolkan oleh kehadiran bunga sakura di beberapa adegan penting, juga bersifat sementara.

Dalam Koe no Katachi, sakura dan juga bunga-bunga lain, seperti yang telah dibahas pada dua artikel sebelumnya, memang sering kali membingkai tiap tokoh yang ada sebagai sarana untuk ungkapkan emosi yang mereka rasakan pada adegan-adegan tertentu.

Dalam hal ini, selain membingkai hubungan di antara Shōko dan Shōya, bunga sakura juga memainkan peran besar dalam hubungan Shōya dengan tokoh lainnya, khususnya persahabatannya dengan Tomohiro Nagatsuka.

Baca Juga: Hanakotoba dalam Anime Koe no Katachi (Bagian Dua): Dari Azalea sebagai Peringatan hingga Clover yang Jadi Simbol Keberuntungan

Nagatsuka menjadi pusat perhatian di samping Shōya di bawah bunga sakura sementara si pemuda makan siang dan merenungkan bagaimana, atau apakah, ia harus mendekati Shōko lagi. Pada saat itu, Nagatsuka masih tidak dikenali sebagai teman potensial bagi Shōya sebab semenjak ia menerima karma setelah menindas Shōko di sekolah dasar, pemuda itu sengaja menjauhi orang-orang yang mana ditandai dengan adanya tanda "X" biru besar di wajah teman-teman sekelasnya.

Kelopak bunga terus berguguran ketika Shōya datang membantu Nagatsuka di kemudian hari. Pemuda itu mendekati seorang pengganggu di sekolah yang mencoba mencuri sepeda Nagatsuka dan menawarkan sepedanya sendiri sebagai gantinya. Interaksi ini dilihat terutama dari kejauhan saat kelopak bunga sakura berserakan di kaki mereka.

Bunga-bunga itu seolah menyisipkan kesan seperti kebetulan dan ketidakkekalan dalam adegan tersebut. Bagaimana jika Shōya tidak datang membantu Nagatsuka? Apa perbedaan dalam kehidupan Shōya setelah interaksi ini dan bagaimana itu bisa mengubah hidupnya?

Salah satu hal menarik yang ditekankan oleh sutradara Naoko Yamada adalah penggunaan lagu My Generation dari The Who dalam film ini.

Menurutnya, seperti yang dikutip oleh situs Sakugablog dari wawancaranya dalam Festival Film Glasgow di tahun 2017, "Saya mulai bertanya-tanya seperti apa Shōya saat itu: seorang anak yang merasa tak terkalahkan tetapi juga menghadapi frustrasi yang mungkin tidak berdasar. Lagu ini muncul di benak saya dengan keras."

Bunga sakura juga membingkai Shōya dalam adegan tersebut. Bagian pembuka segmen kilas balik My Generation menunjukkan pemuda itu yang berjalan melintasi jembatan untuk mengunjungi Shōko untuk terakhir kalinya sebelum melanjutkan rencananya untuk bunuh diri. Dia tidak melaksanakan rencana ini, tetapi adegan singkat saat dia berjalan melintasi jembatan sambil membawa buku catatan Shōko merupakan kesepahaman bersama terhadap ketidakstabilan dan kesulitan yang ada dalam hubungan mereka.

Sementara lagu itu diputar dengan riang selama kilas balik, penonton diperkenalkan kepada Shōya dan dua teman dekatnya di sekolah dasar, Kazuki Shimada dan Keisuke Hirose, serta Naoka Ueno dan Miki Kawai. Semua hubungan tersebut, terutama hubungannya dengan Shimada dan Hirose, bersifat sementara, keindahannya tertanam selamanya di masa lalu yang tak mungkin terulang, sebelum ia bertemu dan mengenal Shōko.

Editor : Candra Mega Sari
#Naoko Yamada #anime #hanakotoba #Koe no Katachi