Hanakotoba: Sampaikan Rasa yang Tak Terungkapkan oleh Kata-Kata
Ketika dihadapkan pada konteks atau adegan penting yang menuntutnya untuk menggunakan gaya bercerita showing-not-telling, Naoko Yamada memang sering kali beralih menggunakan hanakotoba untuk melakukan pekerjaan emosional yang jauh lebih mengena di hati para penontonnya.
Penggunaan bunga serta hanakotoba dalam film animasi Liz to Aoi Tori memiliki sentuhan yang lebih cekatan daripada yang pernah diperlihatkan oleh Naoko Yamada pada karya-karya sebelumnya, seperti Koe no Katachi dan episode kelima Violet Evergarden.
Sangat banyak hal yang tak terungkap serta tidak sempat terucapkan di antara pemeran utama film selipan dari serial Hibike! Euphonium ini, yaitu Mizore Yoroizuka (VA: Atsumi Tanezaki) dan Nozomi Kasaki (VA: Nao Taoyama), dan Naoko Yamada dengan bijak menggunakan musik serta bunga untuk menyatukan mereka sekaligus mengekspresikan sebagian besar perasaan serta emosi kedua gadis senior di klub orkestra SMA Kitauji tersebut.
Bunga menciptakan konteks latar belakang sekunder pada film ini, yang mana ditampilkan secara lebih menonjol dalam buku cerita dongeng berjudul Liz und der Blaue Vogel yang digunakan sebagai perangkat cerita untuk merefleksikan hubungan antara Mizore dan Nozomi dengan beberapa kilasan bunga kehidupan nyata pada momen-momen penting di antara keduanya.
Lupine: Kekaguman dan Kebahagiaan Utuh yang Terus Bertumbuh
Film animasi ini dibuka dengan halaman dari buku dongeng Liz und der Blaue Vogel yang membingkai matahari terbit di atas danau dengan pohon birch serta rumpun bebungaan. Bunga yang paling menonjol adalah lupine di sisi kiri dan bunga merah muda bulat dengan bagian tengah berwarna kuning di sisi kanan. Bunga lupine (Lupinus polyphyllus) atau nobori fuji (昇藤 のぼりふじ) ini miliki hanakotoba yang bermakna imajinasi, kreativitas, kekaguman, pertumbuhan, kebahagiaan utuh, ketenangan, keanggunan, serta ketekunan. Makna-makna tersebut selain menggambarkan pribadi Mizore, ternyata juga berasosiasi dengan tema yang coba diangkat oleh Naoko Yamada melalui film ini, yaitu pendewasaan.
Cosmos: Cinta dan Afeksi yang Dalam dan Abadi dari Hati Seorang Gadis
Masih di dalam adegan yang sama, selain bunga lupine, ada juga bunga bundar berwarna merah muda bisa berupa berbagai jenis bunga yang masih satu famili, yaitu Astereceae, namun bunga yang tampaknya paling mendekati adalah bunga cosmos yang dalam hanakotoba menyimbolkan hati seorang gadis. Sedangkan, dalam floriografi, bunga ini bermakna harmoni, keteraturan, keseimbangan, kemandirian, cinta yang dalam dan abadi; dan, cosmos merah muda berarti cinta, afeksi, dan kekaguman. Makna-makna tersebut, selain merepresentasikan karakter Nozomi, juga mengungkapkan perasaan kedua tokoh utama dalam film ini yang saling mengagumi satu sama lain.
Balloon Flower: Harapan Agar Sang Sahabat Lekas Kembali ke Pelukan
Selain itu, terdapat sekumpulan bunga berwarna biru di antara bunga-bunga lupine dan cosmos yang bisa saja adalah Platycodon grandiflorus atau yang disebut juga dengan kikyo (桔梗). Bunga ini miliki hanakotoba yang melambangkan cinta abadi, ketulusan, kepatuhan, keanggunan, dan kerapian. Sedangkan, dalam floriografi Barat, bunga ini melambangkan cinta yang tak berujung, kejujuran, kepatuhan, dan keinginan untuk kembalinya seorang teman yang sangat cocok dengan kemelut emosi Mizore ketika ditinggal Nozomi keluar dari klub orkestra; serta perasaan Liz setelah si Burung Biru pergi mengepakkan sayapnya ke langit tak berbatas.
Holly Flower: Pencarian dan Perayaan Hidup, Buah Cinta yang Murah Hati
Pada adegan Liz dan Burung Biru yang berikutnya, penonton disuguhkan dengan pemandangan di mana si gadis sedang bercengkerama dengan hewan-hewan di hutan. Dan ada sekumpulan bunga di sekitar mereka, yaitu lupine, beri Holly, dan lili lembah. Beri Holly, selain memuat hanakotoba yang menyimbolkan kesuburan, kemurah-hatian, perayaan hidup, cinta, buah ini juga memiliki makna yang cukup lucu, yang mana menandakan bahwa seseorang masih lajang dan sedang mencari. Pada titik ini, Liz memang sendirian di luar teman-teman hewannya, tetapi bunga-bunga itu menunjukkan kedalaman perasaannya jika diberi kesempatan.
Lily of the Valley: Bahaya Sikap Manis yang Berujung pada Pengorbanan
Meskipun bunga ini mungkin paling dikenal karena racunnya, bunga lili lembah (Convallaria majalis), ini miliki hanakotoba yang melambangkan pengorbanan, bahaya, cinta murni, kerendahan hati, sikap manis, kemurnian, kesucian, kemudaan, kebijaksanaan, dan menemukan kebahagiaan kembali. Bunga ini juga menyiratkan tingkat penderitaan dan keputusasaan tertentu yang harus dilalui seseorang dalam hidup, dan bagaimana kerendahan hati juga berperan di dalamnya, seolah-olah penderitaan manusia membuat anda semakin rendah hati seiring bertambahnya usia.
Dengan aromanya yang harum-manis, sulit dipercaya bahwa bunga yang tampak indah pun bisa berbahaya dan sangat beracun. Sungguh ironis, karena sifat-sifat tersebut juga begitu cocok dengan watak Nozomi yang walau tampak sebagai tokoh yang menawan dengan sifat positifnya, tapi ia diam-diam beracun.
Selain itu, ada cerita bahwa seseorang tidak akan lengkap tanpa orang yang diberi bunga ini, dengan mana hal tersebut sangat menggambarkan hubungan di antara Nozomi dengan Mizore.
Forget-Me-Not: Ketulusan dan Janji Setia untuk Tidak Melupakan
Liz melihat si Burung Biru setelah ia terbang, kemudian kamera beralih menyorot pemandangan sekelompok bunga yang menonjolkan bunga-bunga biru dengan bagian tengah berwarna kuning. Bunga yang paling jelas yang akan dikaitkan di sini adalah forget-me-not (Myosotis sylvatica), walau bunga-bunga itu tidak sekecil atau bergerombol sebagaimana mestinya. Bunga biru ini membawa hanakotoba yang berarti cinta sejati dan rasa hormat. Saat anda memberi seseorang bunga kecil ini, itu artinya anda berjanji untuk selalu mengingat orang tersebut dan akan senantiasa menyimpan dirinya dalam pikiran. Selain itu, bunga ini juga dianggap sebagai simbol kesetiaan dan ketulusan.
Baby Blue Eyes: Kelembutan Si Pemaaf Ajak Hargai Kebersamaan yang Fana
Bunga-bunga biru tersebut, juga bisa jadi adalah Baby Blue Eyes (Nemophila menziesii), meskipun bagian tengahnya tidak sama. Bunga yang disebut Rurikarakusa (ルリカラクサ) ini melambangkan kesuksesan di mana-mana, kelembutan, serta pengampunan; dalam floriografi Barat, bunga ini melambangkan kemenangan, kepekaan, harmoni, dan kepercayaan. Selain itu, Nemophila juga melambangkan sifat fana dari keindahan dalam hidup, mendorong siapapun untuk menghargai setiap momen yang dilalui bersama, sesederhana pun itu.
Blue Anemone: Perlindungan dan Antisipasi, Harapan Baik untuk Masa Depan
Bunga-bunga tersebut juga bisa saja adalah Anemone coronaria, meskipun bagian tengahnya tidak berwarna lebih gelap. Anemone berasal bahasa Yunani yang berarti "bunga angin," dan menurut cerita, anemone pertama kali mekar ketika Aphrodite meneteskan air mata atas kematian kekasih terlarangnya. Arti umum Yunani lainnya termasuk bunga sebagai simbol musim semi dan sebagai cara untuk menghormati meninggalnya orang yang dicintai. Bunga ini punya hanakotoba yang bermakna mengumumkan kedatangan serta antisipasi keindahan musim semi, perlindungan, kenangan, dan harapan baik untuk masa depan.
Buttercups: Keceriaan Pesona Kekanakan, Mau-Tidak Mau Jadi Dewasa Walau Tak Nyaman
Bunga kecil ini muncul sebentar sebagai bidikan tersendiri saat Nozomi melewati gerbang sekolah saat Mizore menunggunya di tangga. Seringkali bunga buttercups (Ranunculus bulbosa) dikatakan miliki hanakotoba yang melambangkan kegembiraan, keceriaan, kesenangan, kebahagiaan, kemurnian, pesona kekanakan, rasa tidak tahu terima kasih, masa muda, dan persahabatan.
Mitosnya, jika anda terbangun setelah bermimpi tentang bunga buttercup, artinya anda kehilangan sebagian dari masa kecil anda. Arti lainnya adalah bahwa anda harus membuat keputusan dalam hidup, yang membuat anda mau-tidak mau harus beradaptasi walau tidak nyaman.
Banyak hal yang tidak terucapkan antara Nozomi dan Mizore sepanjang film dan makna ini dapat berlaku untuk keduanya. Awalnya, buttercups tampaknya hanya berlaku untuk Nozomi, yang lebih tidak stabil, dan bingkai tersebut membuat penonton berpikir bahwa inilah masalahnya. Walau kecil, dan tampak remeh, tapi bunga ini menjadi penanda yang penting dalam plot film Liz to Aoi Tori.
Sakura: Ketidak-kekalan Hubungan Manusia yang Cepat Berlalu
Liz to Aoi Tori adalah kisah yang mencerminkan, seperti banyak proyek Naoko Yamada, tentang sifat fana dari sebuah hubungan. Sebagian besar miskomunikasi dalam film ini muncul karena Mizore tidak mengerti mengapa Liz harus melepaskan si Burung Biru terbang bebas.
Bunga sakura adalah motif yang berulang dalam media Jepang secara keseluruhan, yang mewakili ketidak-kekalan. Hubungan Mizore dan Nozomi adalah hubungan emosional yang dalam, tetapi juga cepat berlalu. Penempatan kilas balik ini menegaskan kembali dinamika Mizore dan Nozomi yang ada sekaligus memberi tahu penonton bahwa sifat hubungan mereka akan berubah karena hubungan itu juga bersifat sementara.
Pink Anemone: Cinta yang Terabaikan yang Dirasakan Begitu Mendalam
Sebagian besar bunga yang hadir dalam film Liz to Aoi Tori muncul dalam buku cerita yang menjadi judulnya. Ilustrasi-ilustrasi ini sering kali kembali ke bunga-bunga yang sama di rumah Liz, tetapi mengontekstualisasikannya kembali melalui hubungannya dengan burung biru. Di sini penonton melihat bunga yang tampak seperti bunga buttercup (yang juga ditampilkan dalam adegan pembuka Mizore dan Nozomi) serta bunga yang tampak seperti anemon merah muda. Anemon merah muda memiliki makna yang berbeda dengan yang berwarna biru, dan dapat memiliki konotasi negatif tentang cinta yang diabaikan.
Blue Star Flower: Ketulusan Kasih Sayang yang Teguh Meski Harus Berpisah
Bunga dengan kelopak runcing ini juga muncul di kaki si Burung Biru bersama dengan anemone merah muda. Bunga bintang biru (Amsonia ciliata) dikatakan menunjukkan kesetiaan dan kasih sayang. Meskipun anemon merah muda mungkin memiliki makna yang lebih suram, kemungkinan indikasi bagaimana Liz akhirnya menunjukkan cintanya dengan memberi tahu burung biru untuk kembali ke langit, bintang biru adalah pengingat bahwa ada kasih sayang yang tulus dan sifat yang teguh dalam hubungan mereka. Bahkan jika hubungan mereka mesti berakhir, perasaan mereka tetaplah valid.
Spiderworts: Optimisme dan Penghormatan kepada Seseorang
Saat Nozomi dan Mizore menyadari peran masing-masing, muncullah bunga kecil berwarna putih dengan tiga kelopak. Ada beberapa bunga dengan tiga kelopak dan bunga spiderwort (Tradescantia fluminensis) paling menyerupai. Spiderwort, selain bemakna optimisme dan moralitas, bunga ini juga miliki hanakotoba yang berarti bahwa anda sangat menghormati dan mengagumi seseorang. Makna ini menjadi sangat penting bagi perkembangan karakter kedua tokoh utama Liz to Aoi Tori, terutama Nozomi, yang baru menyadari bahwa ia tanpa sengaja telah menahan Mizore.
Di babak akhir film Liz to Aoi Tori, Nozomi yang mengikuti Mizore, tidak mampu mencapai ketinggian yang sama. Ini bukanlah akhir yang bahagia, juga bukan akhir yang menyedihkan. Ini adalah titik balik yang pahit-manis dalam hubungan yang telah mereka lalui bersama. Namun, kekaguman dan kasih sayang tetap ada.
Pada akhirnya, Naoko Yamada tidak menggunakan bunga untuk mengekspresikan hampir semua emosi yang tak terucapkan seperti dalam Koe no Katachi. Sebaliknya, ia membiarkan musik (gubahan Kensuke Ushio) yang berbicara dan menggunakan bunga sebagai alur visual yang mengiringi narasi emosional seperti buku cerita itu sendiri. Sehingga sangatlah tepat bahwa perpisahan Mizore kepada Nozomi serta "pelarian" mereka juga diceritakan melalui karya musik dan bukan dengan cara lain.
Editor : Candra Mega Sari