Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Tujuh Tradisi Perayaan Natal Unik dari Berbagai Daerah di Indonesia, Ada Tradisi Marbinda hingga Bakar Batu

Salma Faiza Pratomoputri • Sabtu, 7 Desember 2024 | 08:00 WIB

Ilustrasi perayaan Natal
Ilustrasi perayaan Natal

JawaPos.com - Desember tiba, dan semangat Natal mulai terasa di seluruh dunia. Bagi banyak orang, Natal adalah momen istimewa untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat.

Indonesia, dengan kekayaan budaya yang luar biasa, merayakan Natal dengan beragam tradisi unik. Perpaduan antara nilai-nilai keagamaan dan adat istiadat setempat menciptakan perayaan Natal yang khas di setiap daerah. Tradisi-tradisi ini seringkali dilakukan menjelang atau saat perayaan Natal.

Melansir dari situs resmi Wonderful Indonesia, berikut ini merupakan tujuh tradisi perayaan Natal unik dari berbagai daerah di Indonesia. 

1. Sumatera Utara: Marbinda/Marhobas 

Marbinda adalah tradisi penyembelihan hewan. Sementara itu, Marhobas merupakan tradisi memasak yang dilakukan oleh para pria setelah penyembelihan. Kedua tradisi ini biasa diselenggarakan oleh warga Batak Toba, Sumatera Utara dan bertujuan untuk mempererat kebersamaan warga, meningkatkan gotong royong, dan menyimbolkan rasa syukur.

Biasanya hewan yang disembelih adalah babi, sapi, atau kerbau. Hewan-hewan ini berasal dari uang tabungan warga yang dikumpulkan selama berbulan-bulan. Hasil dari daging yang disembelih akan dimasak melalui tradisi Marhobas dan dibagikan kepada warga. Selain itu, terdapat sebuah keyakinan bahwa orang yang terpilih untuk membagikan daging akan menjadi kepala desa pada periode selanjutnya. 

Baca Juga: Cara Mudah dan Hemat Menuju Mall Central Park dengan Transportasi Umum: Ada Pikachu dan Pohon Natal Besar Selama Nataru

2. Jakarta: Rabo-Rabo 

Tradisi ini biasa dilakukan di Kampung Tugu, kawasan Cilincing, Jakarta Utara. Kampung ini dulunya pernah disinggahi oleh orang-orang keturunan Portugis yang beragama Kristen. Mereka mempunyai sebuah tradisi bernama Rabo-rabo yang biasa dilakukan menjelang Natal. 

Tradisi ini mempunyai arti ekor mengekor dan dilakukan dengan mengelilingi kampung sambil mendatangi rumah-rumah untuk menyanyikan lagu keroncong. 

Misalnya, satu rombongan warga akan mengawali Rabo-Rabo dengan pergi ke gereja terlebih dahulu untuk beribadah. Saat pulang, mereka akan langsung mendatangi rumah-rumah warga lainnya yang berada di sekitar. Nantinya salah satu anggota keluarga yang berasal dari rumah yang didatangi, harus ikut dengan rombongan seperti ekor yang memanjang. Kemudian tradisi ini diakhiri dengan pesta makan di rumah warga yang terakhir didatangi. 

3. Bali: Ngejot dan Penjor 

Bali dikenal karena mempunyai banyak sekali umat Hindu. Sebagai salah satu upaya toleransi agama, umat Kristen di Bali juga melaksanakan tradisi Ngejot dan Penjor menjelang perayaan hari Natal. 

Ngejot merupakan tradisi berbagi makanan yang dilakukan para warga. Makanan yang dibagikan disesuaikan dengan agamanya masing-masing. Sementara itu, Penjor adalah bambu-bambu tinggi melengkung yang terdapat pada hari raya Galungan. Bambu-bambu tersebut terpasang pada bagian depan rumah sebagai simbol rasa syukur terhadap anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan. 

4. Jawa: Wayang Wahyu 

Pertunjukan Wayang Wahyu mempunyai alur cerita yang berasal dari berbagai kisah di Alkitab. Biasanya pertunjukan ini diadakan di gereja-gereja tertentu di daerah Jawa pada hari menjelang perayaan Natal. Tradisi ini merupakan salah satu simbol inkulturasi budaya yang sudah berada sejak tahun sekitar 1960-an. Pertunjukan Wayang Wahyu berfungsi sebagai pengingat kepada umat Katolik untuk menjalin keharmonisan antar sesama. 

5. Nusa Tenggara Timur: Meriam Bambu 

Tradisi Meriam Bambu telah dimainkan sejak tahun 1980-an oleh warga setempat. Seperti namanya, tradisi ini merupakan sebuah pesta meriam bambu yang begitu meriah. Permainan meriam bambu dengan suaranya yang menggelegar merupakan salah satu hal yang ditunggu menjelang natal. Suasana gembira yang tercipta dari meriahnya bunyi meriam biasa ditafsirkan sebagai sambutan terhadap kelahiran Yesus Kristus. 

6. Sulawesi Utara: Kunci Taon 

Tradisi Kunci Taon bisa dijumpai dengan mudah di kota Manado. Tradisi ini dilaksanakan sekaligus untuk memperingati akhir tahun. Dimulai dengan serangkaian ibadah di gereja dan berziarah ke makam kerabat. Saat berziarah, biasanya lampu hias diletakkan untuk menghiasi makam kerabat. Selanjutnya, tradisi Kunci Taon akan diakhiri dengan pawai keliling kampung dengan mengenakan ragam kostum menarik. 

Tradisi ini biasanya dimulai pada awal minggu bulan Desember dan diakhiri awal bulan Januari tahun berikutnya. 

7. Papua: Bakar Batu 

Tradisi Bakar Batu ini merupakan tradisi memasak bersama-sama dengan batu yang dibakar. Batu-batu akan dimasukkan ke dalam sebuah lubang, lalu dilapisi ilalang dan daun pisang sebanyak dua kali. Kemudian daging babi juga menyusul masuk dilapisi daun pisang dan batu-batu. Terakhir, memasukkan sayur-sayuran dan umbi-umbian yang ditutup dengan daun pisang, ilalang, dan batu bakar lagi. 

Tradisi ini biasa digelar setelah menyelesaikan misa Natal dan menghabiskan waktu setengah hari. Tradisi bakar batu menunjukkan rasa syukur yang sangat mendalam kepada Tuhan dan mempererat kebersamaan. 

Baca Juga: 7 Checklist Wajib Sebelum Liburan Nataru 2025: Jaminan Perjalanan Lancar dan Seru

Editor : Candra Mega Sari
#tradisi #perayaan natal #indonesia