Selain itu, peringatan ini juga menekankan urgensi perlindungan satwa liar yang terancam punah dan perlunya tindakan konservasi untuk melestarikan spesies dan habitat mereka.
Ayo, bersama lindungi para satwa liar dan jaga ekosistem kita agar anak-cucu kita masih bisa melihat mereka hidup di bumi, satu-satunya rumah bagi makhluk hidup di sistem tata surya kita.
Nilai Satwa Liar bagi Kehidupan Manusia
Orang-orang di mana pun bergantung pada satwa liar dan sumber daya berbasis keanekaragaman hayati untuk memenuhi kebutuhan mereka, mulai dari makanan, bahan bakar, obat-obatan, perumahan, dan pakaian. Agar mereka dapat menikmati manfaat dan keindahan yang diberikan alam kepada manusia, orang-orang telah bekerja sama untuk memastikan ekosistem dapat berkembang dan spesies tumbuhan dan hewan dapat bertahan hidup untuk generasi mendatang. Jadi, mari kita rayakan satwa liar dan pekerjaan konservasi penting yang sedang dilakukan di seluruh dunia!
Hari Konservasi Satwa Liar Sedunia adalah kesempatan untuk merayakan berbagai bentuk fauna dan flora liar yang indah dan beragam serta untuk meningkatkan kesadaran akan banyaknya manfaat yang diberikan konservasi bagi manusia. Pada saat yang sama, hari ini mengingatkan kita akan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan perang melawan kejahatan terhadap satwa liar dan pengurangan spesies yang disebabkan oleh manusia, yang memiliki dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial yang luas. Mengingat berbagai dampak negatif ini, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan berfokus pada penghentian hilangnya keanekaragaman hayati.
Realita yang Menyedihkan: 41 Ribu Spesies Hewan Terancam Punah!
Hari kehormatan ini dicetuskan pertama kali pada tahun 2012 oleh Menteri Luar Negeri AS saat itu, Hillary Clinton, untuk meningkatkan kesadaran orang-orang akan berbagai isu termasuk kepunahan satwa liar, bahaya yang mengancam, serta perdagangan dan perburuan satwa liar global. Sepuluh tahun kemudian, meskipun ada berbagai upaya untuk mengurangi jumlah kasus kejahatan satwa liar dan tingkat spesies yang terancam punah, tindakan yang dilakukan manusia terus mempercepat kematian keanekaragaman hayati di planet kita tercinta.
Sebagaimana dilaporkan oleh IUCN, sumber informasi terlengkap di dunia tentang status risiko kepunahan global spesies makhluk hidup, lebih dari 41.000 spesies saat ini berada di ambang garis merah terancam punah; 27% spesies mamalia, 13% spesies burung, 41% spesies amfibi, 37% spesies hiu dan pari, 21% spesies reptil, dan 28% spesies krustasea.
Menurut World Wildlife Fund (WWF), beberapa spesies hewan terkenal yang populasinya berada pada tingkat yang mengkhawatirkan termasuk orangutan Tapanuli (kurang dari 800 ekor tersisa), harimau (sekitar 3.900 ekor tersisa), panda raksasa (sekitar 1.890 ekor tersisa), macan tutul Amur (sekitar 100 ekor tersisa), gorila gunung (sekitar 1.063 ekor tersisa), dan badak hitam (lebih dari 6.000 ekor tersisa).
Di Inggris, beberapa spesies yang terancam punah termasuk landak, tupai merah, tikus air, berang-berang, kucing hutan Skotlandia, tikus hazel, dan kelelawar bertelinga panjang abu-abu. Penyebab menurunnya jumlah mereka termasuk pemukiman manusia dan pembangunan infrastruktur, produksi ternak, dan perburuan liar/perburuan untuk tujuan trofi.
Sungguh realita yang sangat mengkhawatirkan, dengan populasi satwa liar yang terus menyusut, menjadi contoh yang menyedihkan tentang konsekuensi perambahan manusia dan perusakan habitat. Ini adalah pengingat yang jelas bahwa tindakan kita memiliki konsekuensi yang luas bagi keseimbangan ekosistem yang rapuh di seluruh dunia.
Peran Teknologi Digital dalam Konservasi Satwa Liar
Kita berada di tengah transformasi digital global. Dengan dua pertiga populasi dunia yang terhubung dengan internet pada tahun 2023 yang sudah meningkat 45 persen dari lima tahun lalu-cara kita terhubung dengan satu sama lain dan dengan planet kita terus berkembang.
Meskipun kemajuan teknologi telah meningkatkan berbagai aspek konservasi satwa liar secara signifikan, termasuk penelitian, komunikasi, pelacakan, dan analisis DNA, tantangan seperti akses yang tidak merata, polusi lingkungan, dan penggunaan teknologi yang tidak berkelanjutan menghambat tercapainya inklusi digital universal pada tahun 2030.
Sekretariat Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Tumbuhan dan Satwa Liar yang Terancam Punah (CITES) telah mengumumkan tema Hari Margasatwa Sedunia Perserikatan Bangsa-Bangsa 2024 (#WWD2024), yaitu "Menghubungkan Manusia dan Planet: Menjelajahi Inovasi Digital dalam Konservasi Satwa Liar."
Dengan tema ini, Hari Konservasi Satwa Liar Sedunia 2024 akan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang penerapan teknologi digital terkini dalam konservasi dan perdagangan satwa liar serta tentang dampak intervensi digital terhadap ekosistem dan masyarakat di seluruh dunia. Perayaan ini akan mengeksplorasi inovasi digital dan menyoroti bagaimana teknologi dan layanan digital dapat mendorong konservasi satwa liar dan koeksistensi manusia-satwa liar, sekarang dan untuk generasi mendatang di dunia yang semakin terhubung.
Dengan tema ini juga, perayaan World Wildlife Conservation Day berfungsi sebagai sarana untuk pertukaran lintas generasi dan pemberdayaan pemuda. Melalui seni, presentasi, dan diskusi, hari ini berfokus pada peluang untuk konservasi satwa liar digital yang berkelanjutan. Hari ini mendorong eksplorasi inovasi digital yang ada, mengatasi perbedaan interseksional, dan membayangkan konektivitas digital yang inklusif untuk semua orang dan planet ini.
Baca Juga: Mengenal Perayaan Yule, Hari Raya Orang Pagan Kuno yang Menginspirasi Adanya Hari Raya Natal
Editor : Candra Mega Sari