Mengingat dominasinya di pasar Jepang, beserta pengaruhnya terhadap bentuk hiburan lain, sekarang saatnya untuk mencermati manga lebih dekat untuk memahaminya lebih dalam, mulai dari sejarah perkembangan, pembagian demografi, sampai dengan fluiditas audiens-nya.
Sejarah Singkat Manga: Berawal dari Gulungan sampai Kini Jadi Majalah dan Tankoubon
Dipercaya pertama kali muncul sekitar abad ke-12 dalam bentuk Chōjū giga yang juga dikenal sebagai Scrolls of Frolicking Animals and Humans, karya-karya berupa gulungan itu menampilkan kisah hewan seperti katak dan kelinci yang berperilaku sangat mirip manusia (animorph). Chōjū giga juga dianggap sebagai dasar gaya baca dari kanan ke kiri yang digunakan untuk manga saat ini.
Manga mulai berkembang setelah pendudukan Sekutu (1945-1952). Saat itu banyak tentara-tentara Amerika Serikat membawa produk budaya pop Barat seperti komik, film, dan kartun yang memberikan pengaruh terhadap dunia perkomikan Jepang. Hasil awal dari pengaruh tersebut termasuk manga Astro Boy karya Osamu Tezuka yang populer di dalam dan di luar Jepang. Dan mencapai masa keemasan-nya pada era 1980-an hingga 1990-an, ketika Dragon Ball menjadi representasi budaya pop Jepang dalam ekspansi skala global. Popularitas manga terus berlanjut sampai sekarang. Beberapa komik Jepang yang terkenal secara global di antaranya adalah Bleach, One Piece, dan Naruto yang dikenal sebagai the Big Three, karena ketiganya selalu berada di tingkat teratas dalam hal penjualan dan angket popularitas.
Komik di Jepang biasanya terbit di majalah-majalah khusus yang terbit secara berkala (mingguan atau bulanan) di mana para mangaka (seniman komik Jepang) mempublikasikan karya-karya mereka. Setiap edisi majalah, menerbitkan satu chapter dari satu entri judul manga yang kemudian nantinya beberapa chapter tersebut akan dibundel dalam satu buku yang disebut dengan tankoubon atau di Indonesia sering dimaknai sebagai komik itu sendiri.
Satu volume tankoubon biasanya berisi 9 sampai 10 chapter (untuk manga mingguan) dan 4 chapter (untuk manga bulanan). Edisi bundel per volume inilah yang kemudian dijual oleh penerbit ke seluruh toko buku di Jepang atau dijual ke luar negeti ketika ada penerbit dari negara lain yang membeli lisensi manga tersebut.
Walaupun saat ini, publikasi manga sudah bisa diakses secara digital. Namun, banyak penerbit tetap mempertahankan format hitam-putih. Hal ini karena warna hitam-putih sudah menjadi ciri khas komik Jepang secara umum yang telah dikenal di seluruh dunia.
Bukan Genre, Kenali Apa Itu Kodomomuke, Shounen, Shoujo, Seinen, dan Josei
Mungkin beberapa dari anda sering mendengar istilah-istilah di atas. Bagi para penggemar baru budaya pop Jepang, istilah-istilah tersebut mungkin cukup asing, pun masih banyak wibu yang terlanjur salah kaprah menganggapnya sebagai bagian dari genre seperti halnya aksi, sains-fiksi, drama-romantis, komedi, atau horor.
Perlu dipahami, bahwa kodomomuke, shounen, shoujo, seinen, dan josei bukanlah genre, melainkan demografi atau segmentasi konsumen dari suatu manga dan anime berdasar gender serta umur. Setiap judul anime dan manga memiliki target audiens-nya masing-masing yang biasanya dikategorikan ke dalam lima kelompok utama di atas
- Kodomomuke
Manga pada demografi ini ditujukan untuk anak-anak mulai dari usia dini hingga sekitar sekolah dasar menengah/akhir. Agar sesuai dengan target pembacanya, manga kodomo membahas subjek yang sederhana, mudah dibaca, dan memiliki gambar yang memungkinkan pemahaman yang cukup saat membaca belum sepenuhnya dikuasai. Contoh yang paling populer adalah manga Doraemon (Fujiko F. Fujio).
- Shounen
Manga-manga dengan demografi ini ditujukan untuk kalangan remaja (khususnya laki-laki) dengan rentang usia target mulai dari usia 12 sampai 18 tahun. Shounen (dan shoujo) merupakan demografi yang memiliki genre paling beragam saat ini, mulai dari aksi, petualangan, fantasi, sampai dengan komedi dan drama-romantis, semua ada dalam demografi ini. Contoh manga shounen, di antara yang paling terkenal adalah manga-manga the Big Three (Bleach, One Piece, Naruto), I Sold My Life for Ten Thousand Yen per Year, dan Kaoru Hana wa Rin to Saku.
- Shoujo
Audiens yang ditargetkan oleh demografi ini adalah para gadis, khususnya remaja. Manga shoujo, pada dasarnya dikenal karena kisah-kisah romansanya yang sering diutarakan dalam konteks sekolah. Sama seperti shounen, manga dalam demografi ini pun memiliki ciri khasnya sendiri, seperti ekspresi perasaan karakter yang kuat, ciri mata besar yang mencerminkan emosi, romansa yang dihadirkan dengan satu atau lain cara, dan cukup sering menjadi alur utama yang klise tapi tetap menyenangkan. Contoh manga dengan demografi shoujo, antara lain: Magical Doremi, Sailor Moon!, Kimi no Todoke, NANA!, Banana Fish, dan Natsume’s Book of Friends.
Baca Juga: 12 Rekomendasi Manga Post-Apocalypse yang Selipkan Renungan Perihal Kehidupan Manusia di Bumi Setelah Kiamat Melanda
- Seinen
Audiens yang ditargetkan oleh demografi ini adalah orang-orang dewasa muda (18-40 tahun), khususnya para pria. Narasi dalam manga berdemografi seinen bisa lebih kasar, lebih kompleks, lebih keras, dan lebih bernuansa gelap yang memungkinkan sedikit lebih banyak introspeksi dan moralitas yang suram; pun, bisa jadi jauh lebih cerah-ceria daripada shounen ataupun shoujo. Berikut contoh manga seinen: Bocchi the Rock, Kingdom, Black Lagoon, Skip to Loafer, Blue Period, Land of Lustrous, March Come Like a Lion, Witch Hat Atelier, Vinland Saga, Solanin, The Apothecary Diaries, dan From Now On We Begin Ethics.
- Josei
Audiens yang ditargetkan oleh demografi ini adalah para wanita dewasa muda. Cerita pada manga josei sebagian besar berfokus pada tema-tema yang lebih dewasa seperti kehidupan kerja, kehidupan universitas, pernikahan, perceraian, dan keintiman. Contoh manga josei: Chihayafuru, Usagi Drop, Princess Jellyfish, My Broken Mariko, Kids on the Slope, Shouwa Genroku Rakugo Shinju, Ikoku Nikki, Witch of Thistle Castle, dan Cocoon.
Tumpang-Tindih Audiens Manga: Siapa Saja yang Boleh Baca yang Mana Saja?
Sebagai fenomena budaya pop, manga tidak hanya membuat tempat bagi dirinya sendiri di kancah nasional Jepang, tetapi juga dunia internasional. Untuk menarik minat khalayak yang lebih luas, manga tersedia dalam berbagai genre, mulai dari aksi, petualangan, fantasi, olahraga, drama, sains-fiksi, komedi, kisah romansa, semua ada. Pun, manga telah tersegmentasi dalam lima demografi utama: kodomomuke untuk anak kecil, shounen-shoujo untuk para remaja, sampai seinen dan josei untuk orang dewasa.
Tapi, bagaimana, sih, membedakan mana shounen-mana shoujo dan mana seinen-mana josei? Jawabannya sederhana, anda tinggal melihat majalah di mana judul manga tersebut diterbitkan.
Contohnya seperti ini: manga Sousou no Frieren diterbitkan di majalah Weekly Shonen Sunday (Shogakugan) yang menyasar para remaja (laki-laki), jadi meskipun Sousou no Frieren memiliki cerita yang cukup filosofis seperti seinen, tapi manga ini termasuk manga shounen. Pun, pada adaptasi manga Kusuriya no Hitorigoto yang diilustrasikan oleh Nekokurage, karena diterbitkan di majalah Big Gangan (Square Enix) yang berdemografi seinen, meskipun memiliki gaya ilustrasi yang cukup cantik (seperti manga shoujo), maka manga ini tetap dikategorikan sebagai manga seinen.
Namun, adanya demografi ini hanya sebagai kategorisasi dari target audiens awal. Anda bebas membaca manga dari demografi manapapun tanpa memandang gender anda. Tidak ada yang menghalangi seorang gadis atau wanita muda untuk membaca manga shounen, pun seorang remaja laki-laki untuk membaca shoujo, atau lelaki dewasa untuk membaca cerita josei.
Namun, fluiditas audiens ini tidak berlaku jika menyangkut segmentasi kodomomuke atau anak kecil. Anda tidak diperkenankan untuk menyodori mereka manga atau bacaan dari demografi yang jauh di atas usianya.
Dan yang patut anda perhatikan adalah jangan sampai lengah mengawasi anak-anak, selalu sesuaikan bacaan serta tontonan mereka dengan usianya, tetap dampingi mereka setiap kali menonton atau membaca sesuatu agar jangan sampai anak-anak mengonsumsi media yang bukan diperuntukkan bagi mereka.
Ingat, tidak semua manga atau komik adalah untuk anak kecil. Jangan sampai anda abai, dan ketika mengetahui kalau anak-anak anda terlanjur membaca manga dewasa, yang anda salahkan justru pihak penerbitnya.
Editor : Candra Mega Sari