Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Urban Misteri: Pengalaman Dokter Indigo saat Koas di RS Surabaya, Ketukan Besi dan Suara Tangisan dari Dalam Keranda yang Diantar ke Ruang Jenazah

Hendra Eka • Jumat, 15 November 2024 | 14:30 WIB

 

Ilustrasi dokter muda. (Dok. Jawa Pos)
Ilustrasi dokter muda. (Dok. Jawa Pos)

JawaPos.com - Menjadi seorang indigo bisa jadi kelebihan atau kekurangan? Meski terbiasa dengan hal-hal tak kasatmata, pengalaman Ihedi Sacramento saat menjadi koas di salah satu RS Surabaya Timur cukup berbeda. Gangguan muncul di balik keranda yang dia antar ke ruang jenazah.

Lorong sunyi antara IGD menuju ruang jenazah seakan menelan seluruh suara. Hanya terdengar derit roda keranda besi yang bergema pelan seiring gesekannya dengan lantai. Suara sepatu dari langkah kaki Ihedi Sacramento, seorang mahasiswa kedokteran yang sedang koas, terasa normal meski sedang mengantarkan jenazah.

Udara dingin menusuk tulang, mencengkeram tubuhnya, menambah keheningan lorong tersebut. Hanya ada dirinya seorang dan jenazah di dalam keranda yang dia bawa. Informasi yang dia dapat, orang tersebut meninggal karena serangan jantung. ’’Aku nggak tahu kenapa orang ini meninggal, tapi katanya serangan jantung,’’ bisiknya sendiri.

Kondisi mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri tersebut malam itu tidak lagi bugar. Sudah 40 jam dia habiskan untuk berjaga sebagai koas. Tubuh dan psikisnya telah letih.

Sembari menyusuri lorong, sorot matanya masih tertuju pada keranda besi. Menjadi seorang indigo yang terbiasa dengan hal tak kasatmata kali ini tak membuatnya kuat. Hawa yang semakin dingin dan sunyi kian menurunkan mentalnya.

Baca Juga: Urban Misteri: Pengalaman Tinggal Keluarga Melissa di Rumah Bekas Pesugihan, Bergantian Sakit-sakitan dan Sosok Hitam Bertanduk Kerap Muncul

Dia pun buru-buru mendorong keranda tersebut karena ingin segera beristirahat. Namun, lorong itu terasa cukup panjang. Bulu kuduknya yang mulai merinding pun tak dia pedulikan.

Tiba-tiba suara ketukan besi terdengar amat pelan. Hampir tak terdengar. ’’Ah, mungkin angin atau ada sesuatu yang jatuh dari taman,” pikir Ihedi.

Kakinya kembali berjalan. Baru beberapa langkah, ketukan itu terdengar semakin jelas. Dia baru sadar, ketukan tersebut bukan dari area sekitar lorong. Setelah mengamati, suara terdengar dari dalam keranda besi yang dia dorong.

Awalnya, nalar logikanya masih lebih kuat dibandingkan ketakutannya karena dirinya seorang dokter. Mungkin saja orang tersebut belum meninggal dan itu suatu hal yang wajar di dunia medis. Dengan keberaniannya, dia membuka penutup keranda di sisi atas untuk memeriksa kondisi orang tersebut. ’’Loh, ternyata kepalanya masih terikat tali,” gumamnya.

Sontak dia menutup lagi keranda besi tersebut dan berharap segera sampai kamar jenazah. Di lorong berikutnya, suara ketukan tadi berubah menjadi suara minta tolong, samar-samar, seperti bisikan angin. Dia berusaha mengabaikannya. Tapi saat dorongan keranda dilanjutkan, suara itu menghilang.

Tiba-tiba ada sesuatu yang terlempar. Seperti pecahan tembok jatuh tepat di depannya. Dia terhenti, tubuhnya menegang. Penasaran, keranda itu dia buka lagi. Sontak dia kaget. Posisi mata jenazah yang tertutup kini sedikit terbuka. Dengan tangan gemetar, dia memberanikan diri menutupnya.

Langkah kakinya kembali dia lanjutkan. Mendekati ruang jenazah, suara yang semula minta tolong berubah menjadi tangisan. Keranda itu bukan lagi diketuk, melainkan digedor berkali-kali dari dalam. Dia pun bergegas lari. Begitu sampai di depan ruang jenazah, pundaknya ditepuk oleh seseorang.

Namun saat memalingkan kepala, tak ada siapa pun. Untuk memastikan kali terakhir orang itu sudah betul dinyatakan meninggal dunia, dia membuka lagi keranda tersebut. Ketika dibuka, dia sontak terkejut lantaran tali pengikat tangan, kepala, badan sudah longgar semua. Apalagi, kepala jenazah itu menoleh ke kiri, mulutnya terbuka lebar, dan mengeluarkan darah dari hidung.

Dia memilih kabur tanpa mengikat lagi tali yang longgar. Pada saat bersamaan, dia bertemu dengan penjaga ruang jenazah. ’’Itu ada kiriman dari IGD,” teriak dia.

Ihedi hanya terduduk lemas, seakan masih terbayang kejadian malam itu. ’’Apakah itu halusinasi?  Bisa saja. Tapi, itu terlalu nyata.” ceritanya kepada seorang satpam di pos keamanan. (dho/c6/son)

Editor : Hendra
#Urban #urban misteri #dokter #misteri #keranda