Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Look Back: Sebuah Alih Wahana dari Manga Karya Tatsuki Fujimoto yang Ingatkan Siapa Saja agar Tidak Lupa untuk Menengok ke Belakang

Erie Dewangga • Jumat, 8 November 2024 | 14:00 WIB

Kyomoto dan Fujino, dua tokoh utama dalam film animasi Look Back yang fenomenal.
Kyomoto dan Fujino, dua tokoh utama dalam film animasi Look Back yang fenomenal.

JawaPos.com — Look Back, merupakan salah satu judul dari manga edisi tunggal karya Tatsuki Fujimoto (mangaka Chainsaw Man) yang terbit di majalah Shōnen Jump+ pada tahun 2021 yang sangat populer. Manga one-shot ini bahkan mendapat cukup banyak respons positif dari komunitas otaku di hampir seluruh dunia, termasuk Indonesia. Banyak forum diskusi di jejaring media sosial yang tak henti-hentinya mengulas keindahan cerita yang meninggalkan kesan bittersweet ketika siapa saja selesai membacanya.

Dikarenakan antusiasme penggemarnya itulah, manga Look Back ini akhirnya diadaptasi menjadi sebuah film animasi berdurasi 57 menit yang tayang di bioskop-bioskop pada bulan Juni kemarin.

Bahkan, saking ramainya antusiasme penggemar, kabarnya film Look Back bisa anda saksikan melalui situs layanan streaming Prime Video pada tanggal 8 November 2024 ini. Kabar baik untuk anda yang belum sempat mengalami puncak sinema ini melalui layar lebar.

Lalu, apa, sih, yang membuat Look Back begitu ramai dibahas di berbagai forum yang ada di internet bahkan sampai jauh setelah turun dari layar-layar bioskop? Yuk, simak ulasan berikut.

Jangan Sombong, karena Di Atas Langit Masih Ada Langit!

Mengutip situs MyAnimeList, film animasi ini bercerita tentang Ayumu Fujino, seorang gadis yang enerjik nan ambisius, yang sedang ingin dilihat oleh orang-orang karena keahliannya menggambar.

Mendengar pujian datang silih berganti, Fujino pun jadi sombong dan lupa bahwa di atas langit masih ada langit lagi. Kesombongan itulah yang membuatnya meremehkan orang, dan dengan entengnya menyerahkan jatah komik 4-koma di koran sekolahnya kepada Kyomoto. Dan, betapa terkejutnya Fujino ketika melihat komik 4-koma di koran sekolah yang digambar Kyomoto: komik itu jauh lebih bagus daripada komiknya.

Seolah-olah ada yang menekan saklar di balik kesadaran Fujino. Ia pun bergegas pulang dan berlatih menggambar mati-matian; memulai segalanya dari awal. Gadis itu kembali belajar seni menggambar dari dasarnya, yang ada di pikiran si gadis cuma bagaimana caranya supaya gambarnya lebih bagus daripada Kyomoto sampai akhirnya ia pun menyerah.

Semua berubah ketika Fujino disuruh mengantarkan ijazah ke rumah Kyomoto. Saat itulah, untuk pertama kalinya, ia bertemu dengan sosok sang rival.

Kedua murid yang tak pernah bertatap muka di kelas, tiba-tiba menjadi duo mangaka berbakat di usia muda, siapa yang menduga? Namun, perjalanan mereka sebagai mangaka jelas tidak mudah. Kira-kira kejutan apa yang menunggu Fujino dan Kyomoto di ujung sana yang membuat mereka lantas menengok ke belakang?

Fujino-Kyomoto dan Suka-Duka Perjuangan Para Pegiat Dunia Seni

Betapa menariknya karakter Fujino, sebab meskipun dirinya dihadapkan pada kenyataan berupa adanya orang lain dengan bakat yang sama, dia tidak menyerah begitu saja. Gadis itu bangkit dan tertantang untuk jadi lebih baik lagi dalam menggambar.

Beberapa dari penonton dan pembaca Look Back, mungkin akan merasa dekat dengan Fujino pada momen gadis itu menemukan motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih daripada yang sekarang. Pun mereka juga akan merasakan hal yang sama ketika Fujino pada akhirnya menyerah dan kehilangan arah sebab menyadari betapa payahnya diri sendiri dibandingkan orang lain.

Baca Juga: Deep Sea Aquarium Magmell: Manga Cantik Karya Kiyomi Sugishita yang Bercerita tentang Biota Laut Kaya Mutiara Kehidupan

Lalu, Kyomoto, si gadis kikuk yang bahkan rupa wajah orang lain pun ia tak tahu sebab selalu tertunduk malu. Dari pertemuan-nya dengan Fujino, dia pun pelan-pelan mulai berubah menjadi pribadi yang sedikit lebih percaya diri dan mulai menemukan passion-nya dalam seni lukis, yaitu menggambar latar belakang.

Mengamati perkembangan karakter dari kedua tokoh utama inilah yang membuat pengalaman menonton Look Back jadi tinggalkan kesan yang begitu dalam di benak orang-orang. Apalagi bagi mereka yang dekat dengan industri kreatif, tentu mereka akrab dengan hal-hal yang terjadi di antara Fujino dan Kyomoto. Tentu mereka akan terdiam, menarik napas, dan kembali menengok ke belakang—melihat kembali perjuangan masing-masing.

Plot Cerita Lugas, Tapi Menyimpan Kejutan Tak Terduga

Secara garis besar, plot cerita Look Back terbilang sederhana dan mudah dicerna. Namun, bukan Tatsuki Fujimoto namanya kalau tidak menyiapkan sebuah kejutan di antara karya-karyanya. Entah itu berupa perubahan ekstrem pada alur ceritanya atau pun pengkarakteran para tokohnya yang bertambah 'gila' semakin anda membalik lembar demi lembar komiknya.

Pada Look Back, Tatsuki Fujimoto menyiapkan sebuah kejutan menjelang babak akhir ceritanya. Bagi pembaca manga-nya, mungkin sudah bisa menebak di mana letak kejutan tersebut. Namun, hal ini sama sekali tidak mengurangi pengalaman menonton adaptasi film animasinya.

Plot Look Back memanglah lugas, bercerita tentang perjuangan mereka yang hendak meraih mimpi masing-masing yang di dalamnya memuat rasa frustrasi ketika kemampuan yang tak kunjung jadi lebih baik, rasa bahagia ketika karya mereka diakui, rasa galau ketika harus berpisah jalan dengan sahabat, dan lain-lain.

Salah satu sekuen yang patut mendapat perhatian lebih adalah ketika Fujino-Kyomoto pergi untuk jalan-jalan ke Tokyo untuk menghabiskan uang honor pertama mereka. Pada sekuen tersebut, semua, selain kedua tokoh utama, dibuat diam dan tak berwarna. Pada saat itu, seluruh dunia betul-betul bagaikan gambar latar belakang bagi Fujino-Kyomoto yang tengah bahagia-bahagianya.

Karena kelugasan plot inilah, maka Tatsuki Fujimoto menyelipkan kejutan menjelang babak akhir yang membuat siapapun akan terperangah bahkan sampai mereka meninggalkan studio bioskop. Sebuah situasi yang, lagi-lagi, membuat para penonton untuk menengok ke belakang dan melihat kembali wajah orang-orang yang mendukung mereka sampai sekarang, menatap lagi alasan-alasan yang membuat mereka tetap bertahan sampai detik ini.

Animasi Luar Biasa Indah Hasil Olah Tangan Manusia, Suarakan Perlawanan terhadap AI

Melansir dari blog Sakugabooru, proyek pengalihwahanaan Look Back dari medium manga menjadi anime ini merupakan sebuah usaha untuk membawa perubahan di industri film animasi Jepang yang kini terkontaminasi oleh berbagai kepentingan.

Adalah Kiyotaka Oshiyama (Dennou CoilSpace Dandy, dan Flip Flappers), sang direktor yang sudah mulai jengah dengan iklim produksi seni animasi yang memaksanya menjadi seorang Superman yang menangani segalanya Sebagai seorang seniman, Kiyotaka Oshiyama sampai pada tahap di mana dirinya tidak meyakini orang lain untuk ikut menangani karyanya. Demi mendukung pandangan idealisnya terhadap seni animasi yang bersih dari kontaminasi norma industri atau bisnis, maka lahirlah Studio DURIAN yang membawa kebaruan dalam produksi film animasi di Jepang.

Usaha Studio DURIAN membuahkan hasil. Mereka mendapat tawaran untuk mengalihwahanakan judul Look Back karya Tatsuki Fujimoto, seorang mangaka yang terkenal dengan gaya cerita dan gambar yang penuh spontanitas tetapi selalu tepat sasaran.

Kiyotaka Oshiyama pun mengatakan bahwa untuk mengadaptasi spontanitas gaya sang Mangaka ke dalam medium gambar bergerak dengan tetap mempertahankan kekasaran sketsa-nya adalah tidak bertentangan dengan keindahan karya itu sendiri. Sebab akhir-akhir ini marak penggunaan efek animasi yang menyilaukan mata, yang mana hal tersebut hanya polesan di luar belaka, tapi tidak menghidupkan cerita.

Kekasaran tersebut bisa dilihat dari desain dan akting para tokohnya, yang digambarkan secara apa adanya. Terkesan tidak sempurna memang, tapi kustru dengan ketidaksempurnaan itulah sebuah karya seni dapat dilihat sebagai hasil tangan manusia yang dikerjakan dengan sepenuh hati dan bukan bikinan kecerdasan buatan yang tak berperasaan.

Baca Juga: Hanakotoba dalam Serial Anime Bleach, Bukan Hanya Sekadar Lambang, Tapi Jadi Representasi Motto dari Tiap Divisi di Gotei 13

Berkat ketidaksempurnaan itu, proyek adaptasi Look Back pun sukses besar. Animasinya terlihat begitu hidup dan ekspresif. Kiyotaka Oshiyama berhasil menyampaikan secara tepat gaya Tatsuki Fujimoto ke dalam medium gambar bergerak yang menyentuh hati.

Look Back, merupakan hasil proyek alih wahana salah satu karya Tatsuki Fujimoto yang dikerjakan dengan penuh cinta oleh orang-orang yang memang mendedikasikan dirinya ke dalam dunia seni-kreatif sekaligus menjadi sebuah pengingat bagi siapapun agar senantiasa menengok ke belakang dan menanyakan kembali alasan mereka melakukan suatu hal sampai detik ini. (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#Look Back #Tatsuki Fujimoto #manga