Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Kenali Rapid Eye Movement (REM), Salah Satu Tahapan Tidur yang Menjadi Alasan Manusia Bermimpi dan Tujuan Mengalami Mimpi

Salma Faiza Pratomoputri • Selasa, 5 November 2024 | 09:00 WIB
Ilustrasi bangun tidur (Dok. Freepik)
Ilustrasi bangun tidur (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Semua orang pasti pernah bermimpi, mulai dari menyenangkan, menyeramkan, hingga membingungkan. Sampai saat ini, mimpi termasuk suatu fenomena yang menarik dan membuat penasaran banyak orang. Meskipun terasa acak dan membingungkan, mimpi adalah hasil dari suatu proses yang kompleks dalam otak kita. 

Selain itu, mimpi juga diyakini mempunyai tujuan penting dalam otak yang dapat membantu dalam proses penyelesaian diri. Secara ilmiah, mimpi terbentuk pada fase tidur Rapid Eye Movement (REM). Tahapan dalam tidur ini menjadi salah satu alasan manusia mengalami mimpi. 

Melansir dari website resmi layanan kesehatan hellosehat.com dan halodoc.com, berikut merupakan penjelasan dari REM, proses pembentukan mimpi, dan tujuan dari adanya mimpi. 

 

Rapid Eye Movement (REM) 

Seperti yang kita ketahui, manusia memiliki empat tahap tidur yang dilalui sehari-hari, yaitu tahap tidur ringan Non Rapid Eye Movement 1 (NREM 1),  tidur sedang (NREM 2), tidur dalam (NREM 3), dan tidur nyenyak (REM). 

Rapid Eye Movement (REM) termasuk salah satu tahapan tidur terakhir dan terdalam. Ketika memasuki tahap ini, napas akan menjadi lebih cepat, tidak teratur, dan mata bergerak dengan tempo yang cepat. Tidak hanya itu, di sini juga terjadi peningkatan aktivitas otak dan detak jantung. 

Pada fase REM disebut juga sebagai paradoks tidur, kondisi ketika otak dan sistem tubuh lainnya aktif bekerja. Selain itu, otot-otot juga menjadi lebih relaks. 

Fase tidur ini terjadi sekitar 70 - 90 menit setelah tidur. Kemudian, setiap 90 menit hingga sepanjang malam. Selanjutnya, REM juga diketahui mempunyai empat periode tidur tambahan yang memiliki durasi lebih lama. 

Umumnya, mimpi terjadi di tahapan REM, meskipun terkadang juga terjadi pada saat tidur ringan. Namun, pada saat tidur ringan biasanya tidak bisa mengingat mimpi yang dialami, sedangkan pada tahap REM, mimpi akan terasa lebih nyata dan teringat lebih jelas. 

Mimpi yang dirasakan bisa penuh dengan emosi, seperti menyedihkan, membingungkan, menyenangkan, hingga menakutkan. Terkadang mimpi juga bisa tidak masuk akal karena yang mengaturnya adalah pusat emosional otak, wilayah otak yang berhubungan sesuatu yang tidak logis. 

Selama tidur REM, sirkuit otak akan terus aktif sehingga menimbulkan sebuah hipokampus dan amigdala yang membentuk rangkaian impuls listrik. Dari kondisi tersebut, menimbulkan gambaran, pikiran, dan ingatan acak yang muncul ketika tertidur. 

 

Tujuan Bermimpi 

Melansir dari hellosehat.com, mimpi merupakan bagian pemenuhan terselubung dari keinginan seseorang, bahkan beberapa ahli juga percaya bahwa mimpi mempunyai peran penting dalam memproses emosi dan pengalaman yang mengakibatkan stres. Meskipun terlihat tidak penting, mimpi tetap mempunyai tujuan.

Baca Juga: Tujuh Cara Efektif Membantu Anak Tidur Sendirian: Panduan Praktis untuk Orang Tua yang Khawatir

 

Mimpi sebagai Terapi Diri 

Mimpi mampu menghapuskan rasa dari suatu episode emosional manusia yang begitu sulit dan membuat trauma sepanjang hari. Mimpi membantu menenangkan emosional seseorang saat terbangun dari tidurnya. 

Selain itu, pada fase REM, otak tidak mempunyai molekul noradrenalin yang memunculkan kecemasan. Secara bersamaan, struktur kunci emosional seseorang yang berkaitan dengan memori otak akan aktif ketika bermimpi. Hal tersebut dapat membebaskan otak dari rasa stres yang mengganggu. Dengan begitu, membantu untuk memproses kembali ingatan buruk yang mengusik kehidupan menjadi lebih tenang dan aman.

 

Mimpi sebagai Tempat Menemukan Solusi 

Pada tahapan REM, manusia membaurkan berbagai ingatannya secara bersamaan dengan suatu cara yang abstrak dan baru. Ketika bermimpi, otak akan memproses pengetahuan yang ada dengan mengatur dan menyusunnya menjadi sebuah informasi. Proses tersebut membantu dalam menemukan solusi dari sebuah masalah yang tidak bisa terpecahkan sebelumnya. 

Selanjutnya, mimpi juga diyakini sebagai sesuatu yang dapat memperkuat ingatan, memproses emosi, dan menghapus informasi yang tidak perlu dari otak. 

 

Proses Terjadinya Mimpi Buruk 

Tidak jarang, mimpi buruk juga terjadi pada seseorang. Mimpi buruk terbentuk dari potongan informasi dan emosi yang dirasakan. Pada saat tidur, otak akan memproses potongan kejadian menakutkan yang dialami sehingga muncul pada malam harinya. Misalnya, pada siang hari melalui kejadian atau peristiwa yang menakutkan sehingga anda bermimpi buruk pada malam hari. 

Namun, tidak usah khawatir karena tidak semua orang mampu mengingat mimpi yang dialami secara detail. Hal ini berkaitan dengan otak yang terkadang tidak bisa menyimpan hal-hal tidak penting, seperti mimpi yang mempunyai alur tidak jelas. 

Anda bisa mengurangi frekuensi mimpi buruk dengan cara tidak minum kopi atau alkohol sebelum tidur, memperbaiki kualitas tidur, dan mengobati diri dari penyakit mental yang sedang dialami. 

Editor : Hendra
#tidur #rapid eye movement #Mimpi