JawaPos.com — Siapa, sih, yang tidak suka mi instan? Harganya yang terjangkau, cara memasaknya mudah dan cepat 5, pun salah satu makanan alternatif pengganti nasi ini bisa dikombinasikan dengan berbagai bahan pelengkap lain yang ada di dapurmu.
Tak sampai di situ, untuk melengkapi kenikmatan-nya, bahkan ada juga orang-orang yang masih menambahkan sepiring nasi saat makan mi instan.
Tak mengherankan, melihat alasan-alasan di atas, bila mi instan memiliki banyak penggemar mulai dari anak-anak sampai dewasa. Namun, di balik segala kenikmatan seporsi mi instan itu, anda patut untuk mawas diri agar tidak mengonsumsinya terlalu sering apalagi sampai setiap hari.
Mengutip Siloam Hospitals, mengonsumsi mi instan setiap hari sangat tidak disarankan oleh para ahli gizi dan dokter, sebab bahan makanan ini termasuk sebagai makanan ultra-proses yang mana telah melewati proses panjang dan mengandung pengawet, lemak jenuh, dan kadar natrium yang cukup tinggi.
Berikut dampak-dampak berbahaya yang bisa ditimbulkan dari konsumsi mi instan yang berlebihan.
- Malnutrisi
Mengonsumsi mi instan terlalu sering dapat berdampak meningkatkan risiko kekurangan nutrisi, terutama pada anak-anak. Walaupun mi instan dinilai praktis dan disukai oleh semua kalangan termasuk anak-anak, kandungan serat, protein, vitamin, dan mineral di dalamnya sangatlah rendah.
Melansir laman Halo Doc, kekurangan nutrisi, apalagi bila terjadi pada anak-anak, dapat menyebabkan ketidakseimbangan asupan mikronutrien dan makronutrien. Sementara itu, seluruh zat gizi ini diperlukan sebagai sumber energi, membentuk massa otot, menjaga sistem kekebalan tubuh, dan perkembangan otak. Sehingga defisit nutrisi akibat konsumsi mi instan yang berlebih juga dapat menghambat tumbuh-kembang anak.
- Gangguan Pencernaan
Bahaya mi instan yang mengintai kesehatanmu berikutnya adalah menyebabkan gangguan pencernaan. Ketika melalui proses pengawetan, makanan ini ditambahkan zat tertiary-butyl hydroquinone, yaitu pengawet berbahan dasar minyak yang juga terkandung dalam pestisida.
Organ pencernaan memerlukan waktu lebih lama untuk mencerna jenis pengawet ini, bahkan lebih dari dua jam sehingga bisa mengganggu jalannya pencernaan. Lamanya waktu untuk mencerna tertiary-butyl hydroquionone dapat membuat sistem pencernaan terpapar zat tersebut lebih lama. Akibatnya terjadi penurunan kemampuan sistem pencernaan dalam menyerap nutrisi-nutrisi lain dari makanan yang anda konsumsi.
Selain itu, waktu mencerna yang lama juga memperberat kerja sistem pencernaan. Oleh karenanya, mengonsumsi mi instan setiap hari dapat berpotensi menimbulkan penyakit yang serius seperti sembelit bahkan usus bocor.
- Obesitas
Berat badan berlebih atau obesitas juga menjadi salah satu bahaya dari konsumsi mi instan yang terlalu sering.
Mengutip siloamhospitals.com, pada satu bungkus mi instan terdapat sekitar 14 gram lemak jenuh, yang mana angka tersebut sudah mencakup 40 persen kebutuhan lemak harian. Di samping itu makanan ini juga mengandung kalori yang tinggi. Jadi meskipun mengenyangkan, tubuh tidak mendapatkan gizi yang cukup hanya dari mi instan, dan justru akan membuatmu cepat lapar kembali.
Kondisi obesitas yang tidak diatasi dengan baik, dapat memicu munculnya penyakit kronis di kemudian hari.
- Hipertensi
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, mi instan mengandung kadar garam atau natrium yang cukup tinggi. Melansir situs Alodokter, di dalam satu kemasan mi instan terkandung sekitar 890 miligram natrium. Jumlah tersebut belum ditambah dengan kandungan natrium dalam makanan lain yang anda konsumsi pada hari yang sama. Padahal, asupan natrium yang disarankan oleh para ahli gizi adalah tidak lebih dari 2.400 miligram atau setara dengan 6 gram garam per hari.
Hal inilah menjadi faktor utama yang dapat memicu peningkatan tekanan darah yang mana berujung pada hipertensi dan pecahnya pembuluh darah, bahkan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung.
- Penyakit Jantung
Kandungan natrium yang tinggi dalam mi instan tidak hanya bisa menimbulkan naiknya tekanan darah dan mengganggu fungsi ginjal, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit jantung karena adanya kandungan monosodium glutamat yang digunakan agar rasa mi instan lebih gurih. Kandungan monosodium glutamat dan natrium yang tinggi di dalam mi instan tidak hanya dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, tetapi juga memicu berbagai gangguan pada jantung.
Itulah sebabnya, mi instan tidak dianjurkan untuk dikonsumsi oleh penderita hipertensi dan gagal jantung kongestif.
- Penyakit Liver
Bahaya konsumsi mi instan yang berlebihan selanjutnya adalah meningkatkan potensi mengidap penyakit liver. Hal ini karena mi instan mengandung pengawet dari zat aditif serta garam yang cukup tinggi. Sehingga konsumsi yang berlebihan dapat menekan kerja liver atau hati karena bahan-bahan tersebut sulit diurai di dalam tubuh.
Jika kondisi ini dibiarkan untuk waktu yang lama, kinerja liver dapat menurun dan cenderung menimbun lemak berlebih di dalam selnya. Penumpukan lemak tersebut berisiko menimbulkan kerusakan pada liver. Ketika fungsi liver terganggu, maka risiko retensi air (kelebihan cairan yang menumpuk dalam tubuh) semakin meningkat.
- Gagal Ginjal
Seperti yang telah disebutkan, bahaya mi instan diketahui berasal dari kandungan natriumnya yang tinggi yang berdampak pada terganggunya kerja organ ginjal, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah banyak dan sering.
Kandungan garam yang tinggi di dalam mi instan diketahui dapat memengaruhi fungsi dari ginjal, terlebih jika dikonsumsi terlalu sering. Jika fungsi ginjal sudah terganggu, maka akan terjadi penumpukan natrium dan cairan dalam tubuh yang memicu pembengkakan di kaki. Penumpukan cairan tersebut juga bisa terjadi di organ lainnya, seperti jantung dan paru-paru.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kemasan mi instan yang digunakan. Ada mi instan yang dikemas dengan bahan yang menggunakan stirofoam yang mengandung bahan kimia bisphenol A.
Bahan kimia ini dapat mengganggu cara kerja hormon dan memengaruhi perkembangan otak pada bayi dan anak-anak, sementara pada orang dewasa dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung dan bahkan kanker.
Itulah beberapa dampak yang mengintai kesehatan jika mengonsumsi mi instan terlalu sering dan bahkan berlebihan.
Tentunya, tidak ada yang salah bila mengonsumsinya dalam batas wajar dan mengikuti tips-tips berikut ini agar terhindar dari berbagai risiko seperti yang telah disebutkan di atas.
Yang pertama, ada baiknya mulai membatasi konsumsi mi instan, setidaknya cukup seminggu sekali atau bisa kurang dari itu.
Tips
Berikutnya, jika masih ingin mengonsumsi mi instan, ada tips untuk meningkatkan nilai nutrisi dalam sajian mie instan sehingga menjadi lebih sehat, yaitu dengan menambahkan bahan-bahan seperti telur, ayam, jamur, wortel, maupun sayur-sayuran lain ke dalam seporsi mi instan yang hendak disantap.
Kemudian, jangan gunakan seluruh bumbu mi instan yang tersedia di dalam bungkusnya. Anda cukup memakai setengahnya saja untuk mengurangi jumlah garam dan MSG yang masuk ke tubuh. Atau juga bisa menggunakan kaldu buatan sendiri.
Meski demikian, anda juga harus tetap mengimbangi kebutuhan nutrisi tubuh dengan mengonsumsi makanan bernutrisi dan memulai gaya hidup sehat dengan rajin berolahraga serta tidak merokok atau mengonsumsi minuman beralkohol.