Lifestyle News Pendidikan Tangsel Update Photo Video

Dari Film Tebusan Dosa yang Dibintangi Happy Salma dan Putri Marino: Potret Kisah Perempuan Pekerja Suburban

Fahmi Samastuti • Selasa, 22 Oktober 2024 | 17:05 WIB

 

 

Film Tebusan Dosa. (Dok. Palari Film)
Film Tebusan Dosa. (Dok. Palari Film)

JawaPos.com - Impian mendapat kehidupan yang lebih baik di tempat baru pupus. Wening kehilangan anak dan ibunya seusai pindah. Dibantu Tirta, dia berusaha memecahkan misteri di balik banyak kemalangan yang menimpanya.

-

Wening (Happy Salma) minggat. Dia kabur dengan membawa Uti Yah (Laksmi Notokusumo) dan putri semata wayangnya, Nirmala (Keiko Anata). Mereka dijanjikan hidup yang lebih baik di Majakunan oleh kenalan Wening. Tapi, janji itu cuma omong kosong. Wening masih harus bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan.

Nirmala lebih banyak diasuh Uti Yah, yang bekerja di rumah seorang peneliti asal Jepang Tetsuya (Shogen). Di antara warga Majakunan, Tetsuya dikenal baik dan sering mengajarkan bahasa Jepang. Suatu malam, musibah terjadi saat Wening menjemput mereka. Motornya mengalami kecelakaan di tepi kali. Uti Yah meninggal di lokasi, sedangkan Nirmala hilang.

Pencarian dilakukan dengan menyusuri sungai hingga hampir dua minggu tanpa hasil. Namun, Wening sangat percaya, putrinya masih hidup. Majakunan geger. Apalagi, seusai tragedi, Wening trauma berat dan jadi kerap merasakan hal-hal gaib. Berita kehilangan itu sampai di telinga Tirta (Putri Marino), podcaster dan pelatih renang yang belum lama pindah dari ibu kota.

Dia tertarik menyelidiki misteri hilangnya Nirmala. Tirta mengajak Ragus (Bhisma Mulia), temannya yang merupakan penduduk lokal Majakunan. Keduanya melakukan beragam cara untuk membantu Wening. Termasuk ke dukun. Tapi, semuanya berakhir buntu. Penyebab kemalangan dan berbagai hal tak masuk akal di hidup Wening masih jadi misteri.

Film Tebusan Dosa. (Dok. Palari Film)
Film Tebusan Dosa. (Dok. Palari Film)

Tebusan Dosa menceritakan kengerian lewat hal-hal yang dekat dengan kehidupan banyak orang. Misalnya, orang meninggal dunia, sungai yang dianggap wingit, dan praktik perdukunan. Meski dilabeli cerita horor, sutradara sekaligus co-writer Yosep Anggi Noen tak melupakan drama dan perkembangan psikologis para karakternya.

Film tersebut juga cermat meletakkan jump scare tanpa banyak mengumbar wajah-wajah seram. Sayang, untuk sebuah cerita, Tebusan Dosa masih terlalu umum tanpa ada elemen kuat yang benar-benar mencekam.

Anggi mengungkapkan, sejak awal pengembangan cerita, dirinya telah menetapkan Majakunan, sebuah wilayah suburban, sebagai sentra cerita. ’’Perbatasan ini sebenarnya menjadi ekosistem yang sangat unik. Modernitas ada, tapi hal-hal tradisional juga masih kuat,” ungkapnya dalam konferensi pers pekan lalu. Lanskap pedesaan, khususnya sungai, dimanfaatkan untuk mendukung cerita.

Sementara itu, Happy Salma dan Putri Marino menilai, Tebusan Dosa menyuguhkan kisah kekuatan perempuan yang realistis. Happy menyatakan, dirinya memiliki solidaritas batin kuat dengan tokohnya.

’’Cerita Wening relate dengan kehidupan perempuan pekerja yang selalu dikejar-kejar rasa bersalah. Sebesar dan sesempurna apa pun yang dia kerjakan, pasti ada rasa bersalah, terutama saat dia tidak bisa menjaga hal yang dinilainya sangat penting,” paparnya.

Sementara itu, Putri merasa Tebusan Dosa adalah kisah menghadapi kehilangan yang cukup membekas dan bermakna. ’’Belum setahun aku mengalami kehilangan yang sangat besar, lalu mengambil film tentang kehilangan. Aku awalnya berpikir, mungkin dengan mengambil proyek ini, aku bisa menyembuhkan diri aku,” imbuhnya. (fam/c7/dra)

 
Editor : Hendra
#happy salma #film #putri marino