JawaPos.com — Kira-kira bagaimana reaksi anda, ketika ada yang memberi tahu bahwa anda bisa menukar waktu, kesehatan, serta sisa hidup menjadi uang berapa pun itu?
Terkejut?
Tidak Percaya?
Atau malah barangkali anda langsung menyanggahnya dengan berkata bahwa, “Hidup manusia itu tidak ternilai harganya sehingga tidak bisa ditukar dengan uang seberapa pun banyaknya!”
Nah, begitulah kira-kira premis yang ditawarkan oleh serial I Sold My Life for Ten Thousand Yen per Year yang mana merupakan manga pendek adaptasi novel karangan Miaki Sugaru berjudul Three Days of Happiness ini.
Meskipun terkesan sangat filosofis dengan menyentuh topik yang berat, tapi tahukah anda bahwa Miaki Sugaru mendapat inspirasi untuk menulis cerita sebagus ini justru melalui cara yang sama sekali tidak terduga? Ya, mengutip catatan pada penutup jilid pertama manganya, benak Miaki Sugaru tiba-tiba dihinggapi tanya soal harga hidupnya justru ketika minum-minum sambil melihat bunga Sakura bersama sang sahabat.
Penasaran sebagus apa, sih, manga I Sold My Life for Ten Thousand Yen per Year yang idenya justru didapat ketika penulisnya sedang melantur? Yuk, simak ulasan berikut ini!
Terjerembap Sampai di Titik Terendah, Seorang Pemuda pun Menjual 30 Tahun Hidupnya
Mengutip situs MyAnimeList, manga drama-filosofis ini mengikuti kisah Kusunoki, seorang pemuda 20 tahunan yang tengah tak berdaya dalam usahanya untuk mendapatkan uang, yang hendak menjual harta benda terakhirnya (koleksi buku dan CD musiknya) untuk membeli makanan.
Dunia bisa menjadi tempat yang tidak ramah bagi sebagian orang, ini adalah kenyataan yang tidak menyenangkan yang tidak dapat kita singkirkan. Melihat kemiskinan Kusunoki, seorang pemilik toko tua pun mengarahkannya ke sebuah toko misterius yang konon katanya bersedia menukar umur, waktu, dan kesehatan siapa pun dengan uang.
Meskipun tidak sepenuhnya mempercayai perkataan pria itu, Kusunoki akhirnya menemukan dirinya berada di alamat tersebut karena putus asa dan penasaran.
Betapa hancurnya hati Kusunoki ketika ia mengetahui harga dari umurnya yang hanya berkisar sepuluh ribu yen (sekitar satu juta rupiah) saja! Putus asa, pemuda itu pun memutuskan untuk menjual 30 tahun berikutnya dalam hidupnya dan menukarnya dengan uang sejumlah 300 ribu yen atau setara dengan 31 juta rupiah.
Setelahnya, Kusunoki hanya punya waktu tak lebih dari tiga bulan saja untuk hidup. Sepulangnya pemuda gagal itu dari menjual hidupnya, ia disambut oleh pengunjung tak terduga: pelayan toko yang sama yang kepadanya ia menjual umurnya. Pelayan itu memperkenalkan dirinya sebagai Miyagi, orang yang ditugaskan untuk mengawasinya hingga tiga hari terakhir hidupnya.
Plot I Sold My Life for Ten Thousand Yen per Year ini akan membawa anda untuk mengikuti kehidupan Kusunoki saat ia harus menghadapi segala penyesalan yang masih tersisa dari masa lalunya dan menemukan apa yang benar-benar memberi nilai pada kehidupannya dalam rentang waktu tiga bulan. Serial manga drama-filosofis yang relatif pendek dengan hanya 18 bab ini merupakan sebuah perjalanan yang menyakitkan nan rumit tentang seberapa berharganya kebahagiaan seseorang dalam hidup mereka.
Sepadankah, Menukar Seluruh Sisa Usia Anda dengan Uang Kontan 30 Juta?
Meskipun Miaki Sugaru memasukkan kemungkinan untuk menjual waktu hidup, waktu (dengan bekerja di toko), dan kesehatan, tetapi bagian ini tidak banyak dieksplorasi untuk menjaga misteri alur cerita dalam aspek ini. Namun, proses penjualan hidup, waktu, atau kesehatan tersebut tidaklah serumit yang terlihat.
Dalam manga, yang menentukan berharga atau tidaknya rentang hidup seseorang adalah seberapa banyak kebahagiaan yang akan anda miliki, berapa banyak orang yang akan anda buat bahagia, berapa banyak hal yang akan anda capai dalam hidup anda, dan seberapa banyak anda akan berkontribusi pada masyarakat.
Dalam serial manga pendek ini, Kusunoki menukar sisa 30 tahun hidupnya menjadi uang 30 juta. Jadi, apakah transaksi itu sepadan? Dapat dikatakan, ya. Alasannya adalah bahwa penilaian rentang hidup Kusunoki didasarkan pada kualitas sisa hidupnya.
Pada dasarnya, jika Kusunoki tidak mengambil uang itu, hidupnya selama 30 tahun akan sangat menggundahkan. Ia selamanya akan terus sendirian dan tidak pernah meraih pencapaian apapun yang berarti dalam hidupnya. Dan, seperti yang diungkapkan kemudian dalam serial manga ini, ia juga akan mengalami kecelakaan dan lumpuh parah di suatu titik dalam hidupnya yang menyedihkan.
Kalau dipikir-pikir, mungkin memilih untuk tetap hidup dalam rentang waktu yang lama dengan kondisi benar-benar terpuruk, bisa jadi adalah pilihan yang salah. Namun, menukar sisa hidup dengan uang 30 juta, bisa jadi adalah bukan pilihan yang benar.
Jadi, bila berada pada posisi Kusunoki, apakah anda akan menerima tawaran tersebut?
Pahit-Manis Perjalanan Kusunoki Mencari Makna Kebahagiaannya Sendiri
Apa itu kebahagiaan sejati? Pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi sekeras apapun kita mencoba mencari jawab, kita tidak dapat menjawabnya dengan jujur.
Kita adalah tawanan dari hal-hal yang kita pikir kita butuhkan.
Mungkinkah manusia mati dengan puas? Tentunya anda memiliki keraguan saat merenungkan semua hal yang bisa anda lakukan secara berbeda jika Anda menyadari betapa singkat dan tak kenal ampunnya waktu.
Namun, jika tiba-tiba diberi tahu rentang hidup, apa yang akan Anda lakukan? Bagaimana akan menjalani sisa hari-hari yang diberikan? Bukankah semuanya akan tampak sia-sia? Lagi pula, jika tahu tepatnya kapan akan mati, bukankah setiap tarikan napas berikutnya akan dipenuhi dengan kepastian yang mengerikan?
Serial I Sold My Life for Ten Thousand Yen per Year karangan Miaki Sugaru ini memanglah cerita pengalaman yang menyedihkan tentang pendewasaan. Sebab, terlepas dari semua yang Kusunoki alami, ia tampak mati rasa dengan cara hidupnya sehingga tidak dapat menunjukkan apa yang ia rasakan. Meskipun Kusunoki berusia akhir dua puluhan, ia menunjukkan emosi seperti layaknya anak kecil yang tidak responsif dalam beberapa situasi serta selalu mengajukan pertanyaan kepada Miyagi dan tokoh-tokoh lainnya.
Pada awalnya Miyagi merupakan sosok yang sangat mencurigakan, penuh misteri tentang cara kerja berbagai hal. Namun, kepribadiannya tidak jauh berbeda dengan Kusunoki. Satu-satunya perbedaan adalah Kusunoki menantikan hari-hari terakhirnya, sementara Miyagi tampaknya tidak demikian.
Kusunoki benar-benar memiliki waktu yang terbatas, dan seperti orang lain, ia juga ingin menyelesaikan semua urusannya yang belum selesai.
Panel pertama manga ini menceritakan tentang teman masa kecil Kusunoki dan janjinya untuk bertemu setelah 10 tahun untuk bahagia bersama-sama. Pertemuan kembali atau reuni di antara dirinya dan temannya merupakan situasi yang tidak mengenakkan bagi pembaca, karena Kusunoki diketahui akan meninggal, sehingga ia pun mulai melonggarkan sedikit demi sedikit ikatan sosialnya dan mulai tidak peduli lagi pada beberapa hal. Meskipun ia tetap jujur pada dirinya sendiri, tetapi membuat pertemuan itu menjadi sangat canggung.
Tiga Hari Paling Bahagia di Pengujung Kisah Kusunoki-Miyagi
Pandangan yang ia miliki tentang Miyagi sangat terdistorsi dan kembali memunculkan sisi kekanak-kanakannya dalam melihat sesuatu, tetapi pada akhirnya, ia mendapat pencerahan yang membuatnya sedikit membumi, menyadari bahwa keduanya bukan lagi anak-anak.
Setelah itu, hubungan Kusunoki dengan Miyagi mulai berkembang sedikit demi sedikit dengan ia mulai berbicara lebih banyak tentang keinginannya sebelum meninggal, dan Miyagi bersimpati padanya, memutuskan untuk membantu Kusunoki menghabiskan waktu sampai akhir hidup ada di depan mata.
Hubungannya dengan Kusunoki lama-kelamaan berubah menjadi cinta, menunjukkan bahwa bahkan dalam situasi seputus asa seperti itu, hal-hal baik dapat berkembang. Meskipun, bagi Miyagi cinta ini jauh lebih menyakitkan daripada bagi Kusunoki, sebab bagaimanapun juga ia mencintai seseorang yang sedang dalam perjalanannya menuju kematian.
Miyagi sering mengatakan bahwa Kusunoki kejam dan ia sendiri tahu bahwa perasaan ini akan menghancurkannya setelah ia pergi.
Perkembangan dramatis ini melibatkan hal-hal yang lebih ringan di seluruh bab, memberikan perasaan bahwa terlepas dari segalanya, masa kini adalah yang terpenting. Namun, akhir ceritanya tentu mengejutkan, mengingat aturan yang ditetapkan oleh sang Pengarang di awal cerita untuk mengembangkan akhir yang pahit-manis.
Pada akhirnya, serial manga pendek adaptasi dari novel karangan Miaki Sugaru ini mungkin merupakan salah satu media yang mampu menjadi presentasi terbaik dari dunia keras tempat tinggal saat ini yang secara tepat menggambarkan pikiran-pikiran tersembunyi dari orang-orang di sekitar anda serta harapan palsu mereka agar dapat mencapai tujuan tertentu atau bahwa “sesuatu yang baik” mungkin saja terjadi di suatu titik dalam hidup. Menyentuh topik-topik berat dan sering membuat pembaca tidak nyaman, serial manga drama-filosofis ini menunjukkan bagaimana hidup bisa begitu menyedihkan dan hampa, tetapi juga menyajikan banyak momen yang baik atau seperti kata Miyagi, momen-momen yang kejam.
Editor : Hendra