JawaPos.com – Tahukah Anda, di Jepang ada tradisi unik di mana bayi membawa mochi seberat 1,8 kg di punggungnya? Tradisi ini menarik perhatian karena menjadi bagian penting dari upacara kelahiran yang telah dilakukan secara turun-temurun.
Tradisi kelahiran bayi adalah serangkaian ritual atau adat yang dilakukan untuk menyambut kelahiran seorang anak. Setiap budaya memiliki tradisi berbeda, yang sering kali melambangkan harapan, doa, dan rasa syukur terhadap kehadiran bayi dalam keluarga.
Mengetahui tradisi kelahiran bayi yang populer di Jepang penting untuk memahami nilai budaya dan warisan negara tersebut. Tradisi ini menggambarkan cara unik masyarakat Jepang merayakan kehidupan baru serta menjaga hubungan erat antar generasi dalam keluarga.
Berikut tradisi kelahiran bayi yang populer di Jepang dilansir dari laman ucbaby.ca oleh JawaPos.com, Kamis (3/10):
- Melahirkan Secara Alami
Di Jepang, banyak wanita memilih untuk melahirkan tanpa obat pereda nyeri atau bantuan medis yang intens. Ini berasal dari keyakinan Buddha tentang pentingnya menghadapi penderitaan sebagai bagian dari proses melahirkan.
Meskipun penggunaan epidural mulai meningkat, masih banyak yang percaya bahwa rasa sakit tersebut adalah tanda kesiapannya menjadi seorang ibu. Seiring perkembangan zaman, ada perubahan pada pola pikir ini, namun tradisi tetap dihormati oleh sebagian besar masyarakat Jepang.
Contohnya Ibu yang memilih melahirkan tanpa epidural merasa lebih dekat dengan tradisi leluhur mereka, yang menghargai kekuatan dan ketangguhan wanita.
- Malam Ketujuh (Oshichiya)
Oshichiya merupakan upacara yang dilakukan pada hari ketujuh setelah kelahiran bayi. Pada malam ini, orang tua bayi secara resmi mengumumkan nama anak mereka kepada keluarga besar.
Nama dan tanggal lahir bayi dituliskan oleh ayah di atas kertas putih dengan kaligrafi. Tradisi ini dipandang penting karena nama adalah doa dan harapan orang tua untuk masa depan anak mereka. Oshichiya juga diikuti dengan makan malam meriah bersama keluarga.
Misalnya Ayah menuliskan nama bayi mereka dalam huruf Kanji yang indah dan membacakannya di hadapan seluruh keluarga, diikuti oleh jamuan makan malam yang hangat.
Baca Juga: Daftar Toko Perlengkapan Bayi Murah di Pamulang, Tangerang Selatan. Nomor Satu Punya Banyak Cabang!
- 21 Hari Pertama
Selama 21 hari pertama setelah kelahiran, ibu dan bayi biasanya akan tinggal di rumah orang tua dari pihak ibu. Tradisi ini bertujuan agar ibu bisa beristirahat dan fokus pada pemulihan pasca-persalinan, sementara keluarga membantu mengurus bayi.
Selain itu, ibu dan bayi dianjurkan untuk tetap di tempat tidur, beristirahat sebanyak mungkin, dan tidak menerima kunjungan tamu kecuali keluarga dekat. Hal ini diyakini dapat membantu menjaga kesehatan ibu dan bayi.
Contohnya selama tiga minggu, ibu baru tinggal bersama orang tuanya, menikmati hidangan tradisional dan beristirahat total untuk memulihkan tenaga.
- Kunjungan Pertama ke Kuil (Omiyamairi)
Sekitar sebulan setelah kelahiran, bayi akan dibawa ke kuil Shinto untuk pertama kalinya. Acara ini dikenal sebagai Omiyamairi dan menandakan perkenalan bayi dengan para Dewa.
Keluarga ibu memberikan gaun khusus untuk bayi, biasanya disertai doa agar bayi tumbuh sehat dan bahagia. Kunjungan ini juga merupakan momen penting untuk menguatkan hubungan keluarga dan melibatkan semua orang dalam perayaan kelahiran bayi.
Misalnya keluarga membawa bayi mereka ke kuil Shinto dengan pakaian tradisional, memohon perlindungan dan berkah dari para Dewa agar anak tumbuh sehat dan bahagia.
- Upacara Gigitan Pertama (Okuizome)
Saat bayi mencapai usia 100 atau 120 hari, ada tradisi upacara makan pertama yang dikenal sebagai Okuizome. Dalam upacara ini, bayi diperkenalkan pada berbagai jenis makanan, meskipun mereka belum benar-benar memakannya.
Upacara ini adalah simbol harapan agar anak selalu diberi rezeki yang cukup di masa depan. Peralatan makan khusus juga dipersiapkan untuk bayi, berbeda antara bayi laki-laki dan perempuan.
Contohnya orang tua menyuapi bayi mereka makanan simbolis dari piring tradisional, berharap si kecil akan selalu diberkati dengan makanan berlimpah di sepanjang hidupnya.
- Ulang Tahun Pertama
Perayaan ulang tahun pertama bayi di Jepang menjadi momen yang penuh makna. Salah satu tradisi unik adalah menempatkan 1,8 kilogram mochi (kue beras) di punggung bayi untuk menguji kemampuan mereka berjalan dengan beban.
Jika bayi berhasil berjalan dengan beban tersebut, ini dipercaya sebagai tanda kesuksesan dan masa depan yang sejahtera. Upacara ini menjadi salah satu momen paling ditunggu oleh keluarga besar.
Misalnya bayi berusia satu tahun dengan penuh semangat mencoba berjalan membawa mochi di punggung mereka, diiringi sorak-sorai dari keluarga yang menyaksikan.
Tradisi unik bayi membawa 1,8 kg mochi di punggungnya ini bukan hanya simbol kelahiran, tetapi juga harapan untuk kesehatan dan kebahagiaan. Melalui ritual ini, kita belajar menghargai warisan budaya yang memperkuat ikatan keluarga.
Editor : Hendra